Sabtu, 15 Maret 2014

Kalau cuma soal uang, masih ada alasan untuk tetap bertahan. Pastikan lebih dari soal Uang.



Suatu hari, saat sedang di mobil dalam perjalanan menuju sebuah tempat perbelanjaan, Idham dan Nadia—teman dan rekan kerja gue—, serta gue terlibat sebuah pembicaraan yang serius. Sambil menyetir Idham bertanya ke gue dan Nadia “Gue dapet tawaran kerja nih, menurut lu pada gimana?” mendengar pertanyaan Idham reaksi gue cuma diam. Namun Nadia langsung mencecar soal gaji.

“Gue ditawarin gaji lebih gede. Kalau dibanding sekarang, naik sekitar 30 persen lebih lah.” Jawab Idham dengan yakin. Setelah mendengar jawaban tersebut Nadia memberi saran untuk ambil peluang tersebut. Sementara gue masih terdiam, gue gak terlalu yakin apa yang akan gue jawab.

“Menurut lu gimana ki? Gue ambil aja apa gimana?” Tanya Idham ke gue. Idham yang sebelumnya gak pernah berbincang serius, terus terang bikin gue bingung. Setelah berpikir agak lama gue lalu menjawab dengan pernyataan yang umum untuk orang yang bingung, “cari yang menurut lu baik aja dham, kalau gue..” tapi sebelum jawaban gue mencapai kesimpulannya, ternyata kita sudah sampai di tujuan. Pembahasan soal resign dan gaji pun berhenti seiring dengan laju mobil yang berhenti.

Saat pembicaraan ini terjadi, udah sekitar 10 bulan gue bekerja di Berca Niaga Medika (BNM)—perusahaan distributor alat kesehatan ber-merk PHILIPS—. Dalam periode 10 bulan ini pula, seenggaknya gue telah melihat secara langsung 3 orang rekan kerja gue resign. Dan sebaliknya, ketika banyak yang keluar, banyak juga yang melamar masuk. Dinamis, pergerakannya begitu cepat. Pernah dalam hati gue mempertanyakan kenapa sih mereka resign? apa yang menguatkan mereka untuk resign dan hijrah ke tempat lain. Gue melihat kalau mereka setidaknya mencari satu diantara dua alasan, yaitu uang lebih (baca: gaji gede), atau sebuah kepastian jangka panjang.

ER, salah satu rekan gue saat di BNM resign karena menjadi PNS, walau diakuinya berat melakukan langkah tersebut, karena gaji yang diperoleh jauh lebih kecil dari gajinya saat bekerja di BNM, namun dia tetap mengambil pilihan untuk menjadi PNS. Lebih jelas, alsannya bukan soal uang, tapi soal kepastian jangka panjang yang dia peroleh ketika ‘bekerja pada negara’ dibanding bekerja di sektor swasta yang suatu saat bisa kolaps. Ya, manusia memang membutuhkan kepastian, jangankan bekerja, pasangan pun selalu minta kepastian. *eaaa

Lain ER, lain pula OFM—rekan kerja gue yang menggantikan ER—, dia berkisah bahwa di tempat kerjanya dulu gajinya tiga kali lipat dari sekarang, tapi ketika gue tanya kenapa dia pindah. Alasannya sederhana, di perusahaannya yang dulu kerjanya gak jelas, semua dikerjain, dari yang kecil seperti pasang lampu, sampai yang berat – berat. Lihat kan, ternyata alasan resign gak selalu soal uang, tapi tentang kenyamanan bekerja. 

Satu – satunya hal yang diinginkan manusia adalah sebuah kepastian. Padahal, ketidakpastian itu sudah pasti.

Hal yang buruk sudah pasti berbekas. Tapi tidak dengan yang baik, kadang terlupa (baca: dilupakan)
Gue teringat cerita sepupu gue di Sukabumi yang menceritakan tentang seorang saudara jauh kita. Katanya saudara jauh kita itu, sebut saja AA bisa mendapat gaji 8 juta sebulan, tapi dengan konsekuensi hanya tidur 2 - 3 jam sehari. Gaji 8 juta yang di dapat AA berasal dari seringnya dia kerja lembur. “Buat apa kaya gitu, padahal mah masih muda. Siga kejar setoran wae, da eweuh tanggungan—Kayak kejar setoran aja, padahal gak ada tanggungan.” Terang Sepupu gue sambil menceritakan AA.

Saat mendengar cerita sepupu gue, Jujur gue salut sekaligus kasihan dengan AA. Salut karena dia seorang pekerja keras (dalam artian negatif), kasian karena dari penuturan sepupu gue, AA sering sakit – sakitan akibat sering bekerja lembur. “Lihat aja nanti sok, kalau begitu terus mah uang yang dikumpulin gak akan guna, malah badan ancur.” Sepupu gue lalu menutup pembahasan tentang AA.

“Ya, yang ada uang yang dikumpulkan cuma buat biaya pengobatan ketika sakit.” Kata gue.

Gue jadi teringat sebuah cerita. 
Alkisah ada seorang pendaki gunung pemula berjalan dengan cepat dengan alasan ingin mencapai puncak lebih cepat, lalu dia  seorang pendaki gunung yang lebih tua, ketika berpapasan pendaki tua tersebut  bertanya pada pendaki pemula, “kenapa jalan begitu cepat?” katanya.
“Agar bisa lebih cepat menuju puncak.” Jawab pendaki pemula.
Pendaki tua itu lalu tersenyum dan menjawab. “Berhentilah sejenak, berjalanlah dengan pelan lalu lihat sekelilingmu. Ketika terus fokus memikirkan menikmati berada puncak, kamu telah kehilangan momen untuk menikmati pemandangan sekitar pegunungan yang indah.”

Enjoy today while preparing tomorrow. Dulu, gue berorientasi dengan pertanyaan, bagaimana sih caranya mapan di usia muda—katakanlah di bawah 25 tahun—mencoba mengejar semuanya dengan lebih cepat. Dan jawaban gue paling simpel adalah cari perusahaan yang mau membayar gue lebih, lau resign dari perusahaan sekarang. Dan, mungkin itulah yang melatarbelakangi mereka yang sering berpindah – pindah tempat kerja. Seperti teman gue, Deri. Deri memutuskan melakukan tindakan yang radikal, dia pindah dari tempat kerja sebelumnya sebelum genap bekerja 10 bulan. Dengan alasan, di tempat yang baru dia mendapat gaji yang lebih besar.  Gak ada yang salah sih, gue juga pasti akan melakukan hal yang sama. tapi, segitu buru – burunya?

Dan beberapa Teman – teman gue saat kuliah pun sama, mereka melakukan langkah yang radikal, banyak yang memutuskan resign untuk bekerja pada satu Rumah Sakit yang sedang melakukan perekrutan masal awal tahun ini. Alasan mereka simpel, rumah sakit itu dulu merupakan tempat kita semua kuliah—menjadikan RS tersebut bagai rumah kedua—, dan Rumah Sakit tersebut merupakan rumah sakit ternama di Indonesia. Kalau boleh disebut, Rumah Sakit tersebut adalah RSJPD Harapan Kita. Tapi ternyata, pilihan mereka berbuah konsekuensi lain, kabar terakhir dari teman gue yang kerja di Harkit, beberapa dari mereka ada yang mengeluh kecapekan dan kewalahan bekerja disana, karena frekuensi pasien disana tinggi. Ya, gak ada hal yang terus – terusan baik kan?

Jujur disaat – saat tertentu gue juga selalu memiliki keinginan untuk pindah ke tempat lain. Alasannya banyak, mulai dari gaji yang gue ‘rasa’ gak terlalu besar—padahal gaji gue udah terbilang besar untuk fresh graduate—. Sampai keinginan gue unutuk bekerja di tempat yang fokus pada keilmuan yang gue pelajari di bangku kuliah. Dan dari semua alasan, rasa ingin pindah akan lebih kuat ketika gue mendapatkan tugas yang sulit atau keluar dari job desc gue.’ Dan itulah manusia,  kalau mau dicari – cari pasti akan selalu ada alasan untuk resign, sekali lagi ‘kalau mau dicari – cari.’

Every time i got difficult task from my boss, honestly, it was painful. But, why not, it was my job anyway.

Gue sendiri sempat melamar di RSJPD Harkit saat bekerja di BNM, tapi kemudian gue mundur. Kenapa gue mundur? Simpel. Sekarang kalau cuma soal dapat sebuah pekerjaan, gue udah punya, yang gue belum punya mungkin  kehidupan. Kalau gue hanya pindah karena soal perkara angka atau nama institusi, kayaknya gak akan ada bedanya dengan sekarang. Because, get a better job not mean you get a life. Even worst, it’s can ruin your life.
Saat kita menjalani hidup dan pekerjaan sebatas untuk memenuhi tuntutan dan keinginan hidup, pasti akan sangat melelahkan.

Apa sih yang gue mau dari resign? Uang? Iya, semua orang butuh uang, kalau gue bilang uang gak penting, gue munafik. Tapi, ada yang lebih dari itu gak, selain uang? Mungkin, bahagia. Bahagia ketika kita enjoy apa yang kita kerjakan. Jadi, apakah hidup tentang bagaimana mendapatkan pengakuan? Mencapai puncak lebih cepat? Kayaknya enggak. Hidup mungkin adalah bagaimana kita bisa bahagia dan berkontribusi dalam melakukan pekerjaan. Love what you do. Do what you Love. Enjoy today, while preparing tomorrow.
 
Soal gaji, yakin deh kalau gaji akan mengikuti performance, bukan sebaliknya. Ketika kita bekerja semaksimal mungkin, dan bekerja lebih dari apa yang diharapkan perusahaan, maka atasan pasti akan mengapresiasi dan punya alasan untuk menaikan gaji kita. Sementara Ketika kita berpikir untuk bekerja seadanya atau malah bekerja malas – malasan karena gaji atau tunjangan kita kecil, justru kita akan tetap terjebak dalam zona dengan gaji kecil.
Di dunia ini gak ada orang dengan gaji besar tapi kerjaannya cuma ongkang - ongkang kaki, kecuali penjilat.

Tapi jika saat kita bekerja maksimal dan gak ada apresiasi dari perusahaan?
Ya kalau begitu, ada baiknya untuk mencari perusahaan yang akan mengapresiasi pekerjaan kita.

Karena memiliki keluarga bukan sebatas hanya memiliki hubungan darah.
Tempat kerja gue dalah tempat yang seru, hampir 8 jam sehari gue bertemu dan berinteraksi dengan rekan kerja gue—kecuali akhir pekan—. Ruangan kerja gue dan teman – teman yang lain hanya sebuah ruangan dengan rak yang menempel di dinding dan sebuah meja panjang tanpa sekat, di tempat kerja gue setiap staff (kecuali manajer) gak punya meja sendiri, semuanya harus berbagi, baik meja, komputer ataupun kursi. Itu dikarenakan kita semua adalah pekerja lapangan yang selalu berpergian, singkat kata, kerja kita diluar, kadang harus pergi ke tempat baru dan bertemu orang – orang baru (baca:customer baru). Ketika ada kesempatan berkumpul selalu aja ada cerita baru dari masing - masing orang, dan yang paling seru, cerita – cerita baru itu selalu ada setiap hari! Ya, setiap hari. Entah itu adalah cerita konyol yang mengundang gelak tawa, atau cerita aneh yang mengundang cemoohan. Setiap orang selalu punya pengalaman dan cerita untuk dibagikan. Kombinasi orang – orang yang unik dan tempat yang dibuat tanpa sekat membuat tempat gue selalu riuh, lebih mirip tempat nongkrong daripada tempat kerja. Bahkan, Mbak Dini—mantan rekan kerja yang udah resign dan sekarang kerja si tempat lain—saat berkesempatan chat di BBM pernah berujar kalau dia sangat merindukan suasana keriuhan diivisi kita. “Kangeeeeeen.” Ketiknya di BBM.

Mungkin, ini yang menguatkan gue untuk menjadikan mereka sebagai keluarga, keluarga yang gue pilih. Ya, ketika semua orang melihat rekan kerja hanya sebatas hubungan kerja, gue memilih untuk menjadikan hubungan ini lebih dari rekan kerja, sebuah hubungan keluarga. Kenapa harus menjadikan mereka keluarga? Seenggaknya gue akan punya alasan untuk lebih nyaman saat bekerja. Mana yang lebih nyaman, bekerja dengan keluarga atau dengan orang lain? Mana yang lebih cepat baikan saat berkelahi, dengan keluarga atau orang lain? Mana yang lebih enak kita repotin, keluarga atau orang lain? (untuk yang terakhir jangan diterapkan, haha)

Kita mungkin gak akan pernah sadar kalau ini yang unik dari kita sampai kita meninggalkan tempat ini, dan merasa kehilangan.

Kesimpulan: Resign? Pertimbangkan. Bekerja gak melulu soal uang, lagi pula uang juga gak menjamin kebahagiaan. Enjoy today while preparing tomorrow.





Sabtu, 08 Maret 2014

Pacaran Anti Mainstream: membunuh bersama pacar.



Mmh, terus terang dua hari ini gue terusik oleh sebuah berita yang cukup menghebohkan. Yaitu berita tentang ‘sepasang kekasih membunuh temannya sendiri—korbannya merupakan mantan dari si cowok—. Sebut saja mereka, Pembunuh. Ya, pembunuh, gue memilih untuk gak untuk menulis nama – nama pembunuh serta nama korban disini.

Heran ya, kenapa bisa sepasang kekasih yang sedang monyet - monyetan Cinta malah membunuh. Apakah keduanya sama – sama punya potensi seorang pembunuh dan ketika mereka dipertemukan jiwa pembunuh mereka serta merta keluar. Jadi ingat tagline Film Killers, ‘dalam diri kita, hidup pembunuh’ *muka kejam, Halah banyakan nonton. Atau, karena si Cowok berkeinginan untuk benar - benar move on, dibantu oleh sang cewek, keduanya berusaha ‘menghilangkan’ masa lalunya dari ingatan sang cowok. (juga dari dunia ini). Atau, mungkin keduanya baru nonton bareng Film Killers dan sangat menghayati film tersebut. Entahlah. Hanya tuhan yang tahu, sedangkan gue, cuma sok tahu.

Ok, lanjut. Ketika mendengar berita ini, gue gagal paham dengan bentuk cinta mereka. Merasa penasaran, gue mulai menelusuri keseluruhan berita tentang pembunuhan ini. Dan gue menemukan dua fakta yang cukup mencengangkan dalam dunia percintaan remaja modern saat ini.

Fakta pertama: Pembunuhan ini direncanakan.

Dari kutipan di kompas, pembunuhan ini ternyata direncanakan seminggu yang lalu sebelum kejadian. Ya, kedua pasangan ini sudah merencanakan pembunuhan ini. Gue penasaran, apa sih yang mereka bicarakan saat merencanakan pembunuhan ini? Mungkin mereka agak anti mainstream, merasa melihat pasangan lain udah terlalu mainstream karena kalau pacaran cuma jalan - jalan liburan atau nonton bioskop, pasangan ini malah merencanakan sebuah skenario pembunuhan.... benar - benar pacaran anti mainstream. Serta ekstrim.

Pasangan agak normal:
Cewek: Sayang, minggu besok kita jalan – jalan yuk.
Cowok: Kemana? Ngapain?
Cewek: mmmh, kamu maunya kemana? Terus ngapain?
Cowok: Gimana kalau ke bioskop. Jadi calo tiket.
Cewek: ..

Pasangan Killer:
Cewek: Sayang, minggu besok kita jalan – jalan yuk.
Cowok: Kemana? Ngapain?
Cewek: mmmh, kamu maunya kemana? Terus ngapain?
Cowok: mmmmmh, (mikir keras) gimana kalau kita ke stasiun, ngebunuh orang. (agak malu – malu).
Cewek: Oh, boleh sayang. Bunuh siapa?
Cowok: Mantan aku. Aku belum move on dari dia (Muka melas sambil manyun - manyun)
Cewek: Oh! Ayok!
Maka dibuatlah rencana pembunuhan yang kejam sekaligus mesra dan romantis. Maklum, ngebunuhnya sama pacar, pacar baru lagi.

Ya, kira – kira seperti itu.

Fakta kedua: Korban gak langsung dibunuh, tapi disetrum berkali – kali.

Dengan modus ketemuan di stasiun Gondangdia, kedua pelaku berpura – pura ingin mengantarkan korban ke Goethe Institute—tempat korban mengikuti kursus bahasa jerman—namun, bukannya bisa kursus bahasa Jerman dan pergi ke Jerman dan menikah dengan orang jerman, serta mendapatkan anak – anak blasteran Jerman yang lucu (halah), korban malah di setrum. Lebih tepatnya, di setrum berkali – kali.
Terus terang, otak gue bagian paling physco pun gue masih gagal mengerti bagaimana mereka bisa berpacaran sambil menyiksa orang. Apa yang membuat mereka begitu kejam dan romantis dalam waktu bersamaan. Apakah mereka ini telah teracuni sinetron – sinetron awal tahun 2010 an yang banyak berisi penyiksaan karena soal percintaan. Ya, bisa jadi mereka korban sinetron. Tapi apappun itu, yang jelas, pacaran seperti ini sungguh amoral. Banget.
Gue penasaran, bagaimana sih mereka berkomunikasi dalam menjalankan ‘operasi hilangkan mantan’ ini.

“Kamu aja yang bunuh duluan.” Kata sang cowok.
“Gak ah. Kamu aja.” Sambil malu – malu.
“Ih, kamu tuh ya, kan aku tadi udah nyetrum,” gerutu sang cowok dengan memanyunkan mulutnya serta menunduk sedikit manja. Ngambek deh.
“Oke deh, demi kamu, yang penting kamu bisa move on, apapun aku bantu.” Sambil ngelus pipi sang cowok, yang disambut senyuman sang cowok. (hoek)
Keduanya lalu makin mesra dan romantis, yang juga meningkatkan semangatnya dalam berpacaran (baca: membunuh).

Kesimpulan Kejadian: Keduanya anti mainsttream (baca: Phycho).
Sang Cowok ingin move on, tapi karena tidak mampu sepenuhnya move on, sang cowok akhirnya move on dengan cara yang ekstrim. Sang cewek, seperti kebanyak cewek yang menolak menerima pacarnya masih komunikasi sama mantan, membantu sang cowok. Sungguh tipkal cewek sekarang (yang cewek, ngaku gak?)

Rasulullah pernah bersabda: Cintailah sesuatu itu dengan biasa – biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatau yang kamu benci. Dan bencilah sesuatu yang tidak kamu ketahui dengan biasa – biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu cntai. (HR: bukhari, abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari abu hurairah)

Rasul telah menasihati kita agak rasa cinta dan kebencian jangan terlalu berlebihan, dalam kasus ini, keduanya mungkin terlibat cinta buta yang berlebihan, dan memendam kebencian yang 'memaksa' mereka bertindak irasional.

Bagaimana dengan loe semua, apakah berlebih – lebihan dalam mencintai dan berlebih – lebihan dalam membenci. Kalau iya, waspada karena dalam diri kita hidup seorang pembunuh (Apa sih?!). Maksud gue adalah, adakalanya kita jangan berlebihan dalam mencintai, karena apa yang kita cintai belum tentu baik buat kita. Contohnya ya, dua pasangan ini.

Cintai apapun sekedarnya saja. Juga membenci sekedarnya saja. tapi, bersyukur harus sebanyak – banyaknya.
-Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Senin, 17 Februari 2014

Cinta, apa itu Cinta? menurut gue, inilah cinta.



Mmh, Cinta, sebuah topik yang menarik dan menggoda untuk dibahas, mumpung momennya tepat, masih februari, gue tertarik untuk bahas tentang Cinta. Bahas cinta enaknya mulai dari mana ya? mmh mungkin kita mulai aja dari Fenomena pacaran dan Jomblo.

Zaman sekarang pacaran udah bukan hal yang aneh. Malah, justru aneh kalau gak pacaran.
Loh? Kenapa aneh? Bukannya pacaran udah ada dari dulu, bukan sekarang aja kali? Apanya yang aneh?
Iya, udah ada dari dulu, tapi gak semasif dan sevulgar sekarang. Saking masifnya, zaman sekarang para Jomblo justru menjadi minoritas, seakan menjadi sebuah anomali dan keberadaannya harus diakhiri, secepatnya—kalau bisa gak jomblo lagi—.
Karena saking terhinanya dan nistanya, sampai gue kepikiran kalau sudah saatnya dibuat Undang- undang anti penistaan Jomblo, disamping penistaan agama.
Tenang para Jomblo, kalian gak sendiri kok, gue juga single (baca:Jomblo). Apakah dengan kalian mengetahui kalau gue jomblo akan membuat kalian lebih baik? Enggak juga sih. Cuma mau bilang aja, dan apakah gue akan mencari pacar karena gue jomblo? Enggak. Buat gue jomblo itu menyenangkan dan gue mempunyai banyak alasan untuk menjomblo sampai saatnya gue siap untuk menikah, alasannya banyak, dari antisipasi gue menjaga diri, menyadari bahwa masih banyak cinta. Dan cinta gak melulu soal pacaran. Cinta itu lebih dari itu.

Cinta itu menjaga kesucian.
Pernah (berkali – kali) saat sedang browsing di sebuah jejaring sosial, gue melihat sebuah foto lelaki dan perempuan remaja berduaan—dari salah satu akun twitter—, supaya enak, panggil saja mereka Jack & Jill (J&J).
Di foto itu J&J berpelukan mesra(banget) sambil tertawa ceria, Jill, dari matanya memancar sebuah isyarat kebahagiaan yang luar biasa. Awalnya biasa, Skip. Gak ada yang harus gue perhatiin dari fotonya. Tapi, karena foto J&J ada lebih dari satu (baca: banyak). Gue terpaksa harus terus melihat adegan – adegan mesra mereka di jejaring sosial tersebut. Semakin gue seret – seret ke atas, fotonya cenderung semakin kurang sehat. Reaksi gue: Sekarang emang pacaran udah setara pernikahan ya?
Gak sehat bukan dalam konteks mereka foto gak pakai cuci tangan, atau mereka sebelum foto belum mandi. Tapi, mereka udah kelewat batas, ya, pasangan – pasangan yang selalu menampilkan foto mesra berdua tapi belum menentukan tanggal pernikahan, buat gue udah melewati batas. Kalau ibarat tembok berlin pemisah kedua jerman. Itu tembok udah dibom dan dijebol, gak ada batasan.
Kenapa? Gak ada yang salah kan? Itu hak mereka. Kan so sweeet..
Haah *bau naga*. So sweet? Gak bisa dipungkiri ya, sekarang, kalau kita melihat adegan begini malah dianggap so sweet. Bayangin sebuah adegan si Jack mencium kening, terus si Jill tersenyum tersipu malu setelah dicium keningnya. Dan Reaksi orang sekitar adalah, “iiih. Soo sweeeeeet.” “Yaampun, Iri dech. Coba aquh punya pacar kayak kalian eaaaa.” (bayangkan ekspresi alay yang keluar dari kalimat tersebut).
Kalau gue melihat kejadian itu, gue akan mengucap. “Astagfirullah.” Ya, Astagfirullah. Kalau si Jack dan Jill belum menikah, kalimat yang benar itu Astagfirullah, bukan ‘So Sweeeet.’ Kecuali, Jack dan Jill udah menikah. Yang ada gue balik badan, malu. Iya, yang ciuman siapa yang malu siapa.
Ah, sok suci lu. Munafik, dasar. Iri aja, dasar Jomblo.
Hemm, boleh jujur gak, sebenarnya gue juga senang kok, malah gue juga pengen banget cium cewek. Banget. Bukan cuma cium di pipi atau kening, tapi bagian yang lain juga (jangan bayangin yang lain). Yakin deh, gue seorang laki – laki. Dan jangan salah, gue juga pernah pacaran, dan merasakan bagaimana nikmatnya pacaran. Rasanya, dunia serasa milik berdua, tiap hari yang kepikiran pacar kita. Tapi, gue memilih memberanikan diri “betaubat.” Singkat kata, gue putus. Ini bukan soal gak cocok, bukan juga soal jenuh, tapi soal menjaga. Soal Prinsip.
Kenapa harus putus? Memangnya prinsip macam apa sih yang gue pegang? Ceritanya panjang men. Maka, izinkanlah gue berbagi cerita dan pemikiran dengan kalian wahai para remaja yang sednag pacaran dan yang sedang jomblo.
-------------------------------------------
Dulu, saat gue masih kuliah. Gue mengenal seorang wanita, sebut saja namanya ‘Bunga.’ Bunga dan Gue selalu dipertemukan di beberapa acara kampus, kami sering menjadi panitia dalam berbagai acara kampus, bahkan sering berkomunikasi dengan akrab. Seiring dengan berjalannya waktu, kebersamaan dan rasa akrab itu menjadi makin kuat, dan akhirnya rasa akrab itu berubah menjadi sesuatu yang lain, gue gak yakin berubah menjadi apa, tapi bisa gue deskripsikan, saat itu hanyalah dengannya gue bisa merasa senang dan nyaman, rasanya ingin selalu dengannya. (ciaelah)
 Gak banyak orang yang tahu dengan rasa yang gue alami. Antara gue dan bunga pun gak pernah tahu rasa satu sama lain, tapi yang jelas saat itu adalah gue menyayangi dia. Semuanya nampak lengkap. Walaupun tidak pernah terucap dimulut, tapi bisa gue rasakan sebuah isyarat hati dari bunga juga seakan berkomunikasi dan menyatakan rasa.
Tapi siapa sangka itu gak berlangsung lama, Kebersamaan kita harus berakhir karena Bunga berbeda. Ya, Bunga berbeda. Dia adalah wanita yang langka, dia bagai satu – satunya bunga yang mampu memantulakn sinar matahari diantara semua bungan di taman. Dia istimewa. Karena baginya sebuah hubungan hanya bisa dicapai dengan cara yang halal, bukan dengan pacaran. Saat itulah gue mengenal sebuah ungkapan, “menjauh untuk menjaga.”

Saat itu bulan bulan Oktober, masih musim kemarau, cuaca terasa lebih menyengat dari biasanya.
31 Oktober 2011.
Gue baru pindah, dari kosan yang lama ke kosan yang baru.
Sehabis pulang kuliah sangat menyenangkan menikmati suasana kosan baru gue yang ber AC, dilengkapi kasur spring bed lengkap dengan sebuah TV kabel yang mampu menangkap 50 channel luar dan dalam negeri. Tapi, jangan pernah berpikir gue adalah orang kaya—karena kost di tempat seperti ini—, karena 3 hari kemudian gue dan teman gue harus langsung terusir dari kosan yang mewah ini karena gak sanggup bayar. Tapi pada kesempatan kali ini gue gak akan menceritakan tentang derita kostan gue, jadi soal kostan kita bahas lain kali.
Walau raga ini nyaman dengan kasur empuk dan sejuknya AC. Namun, ada yang membuat gue gak nyaman, membuat pikiran gue selalu terusik. Tepatnya, dua hari yang lalu, gue mendapatkan sebuah pesan yang aneh. Isi pesannya adalah:
 “Gawat! Hubungan kita ketahuan, sekarang bunga mau disidang.” Pesan dari Bunga.
Apanya yang gawat? Disidang? Hubungan apa yang ketahuan? Banyak pertanyaan yang ingin gue lontarkan. Dia lalu mengirim satu lagi sebuah pesan yang menjelaskan pertanyaan gue, yang pada intinya adalah; Kalau mau begini, kita harus terikat. Bukan saling dekat seperti ini. Bunga butuh Komitmen.
Sekarang gue paham. Ini tentang kedekatan kita berdua. Dan setelah pesan itu, gue kehilangan kontak dengan bunga.
Sudah dua hari berselang semenjak penjelasan itu. Hati gue masih dihantui perasaan aneh. Gak nyaman.
Drrrt. Drrrt.
Handphone gue berdering. Biasanya gue akan langsung mengangkat panggilan telepon, tapi saat itu gue mematung. Entah kenapa, perasaan gue berkata ini akan menjadi panggilan yang menyakitkan. Ini panggilan dari bunga.
Gue menekan tombol hijau. Suara noise handphone mewarnai awal panggilan, namun noise yang ini aneh. dibanding krsk krsk sinyal yang jelek, suara itu lebih mirip sebuah tangisan. Ya, itu memang suara seorang wanita yang sedang menangis. Ada apa ini?
“Lucky?” Terdengar suara lirih memanggil dari seberang sana.
Gue terdiam, mulut gue enggan mengatup. Suara lirih ini telah berhasil meciutkan nyali gue utnuk berbicara.
“Ada yang mau bicara.” Katanya singkat.
“Iya..” Jawab gue singkat.
Diseberang sana gue lalu mendengar suara sorang wanita yang lebih berat, dia memperkenalakan dirinya sebagai Umi(Ibu) dari Bunga. Awalnya percakapan kami membahas hal biasa, lalu dibukalah apa yang mengusik pikirannya.
“Kok, Kayanya gak seperti teman biasa ya? dari SMS nya gak bisa dibilang biasa?”
Gue menelan ludah. Jantung gue berdegup kencang.
“Nak Lucky ada perasaan dengan Bunga? Soalnya di Keluarga kita, aturannya gak seperti ini. Harus ada yang mengikat.” Umi terdiam memberikan jeda. “Benar Lucky ada perasaan sama Bunga?” Lanjutnya menegaskan kata ‘perasaan.’
Seketika ada sesuatu yang jatuh dari diri gue ke tempat paling dalam. Apa yang harus gue jawab? Saat itu gue terlalu pengecut untuk mengaku. Di umur gue yang masih menginjak umur 19 tahun, yang gue kenal hanyalah cinta monyet yang dangkal. Betapa dalamnya pun gue gak akan berani mengikat sebuah komitmen.
Dengan berlagak meyakinkan gue menjawab. “Enggak bu, biasa aja.”
Entah apa yang dirasakan bunga saat itu. Tapi gue yakin sekarang kalau isakan tangis itu akan menjadi lebih keras.
“Yakin?” tanya umi dari seberang telepon.

Lebih dari satu tahun berlalu semenjak tangga 31 Oktober. Bunga memberanikan dirinya bercerita tentang perasaannya tentang gue. dan bagaimana sakitnya melupakan gue. Dia bilang, sangat sulit baginya buat melupakan gue, karena gue adalah Cinta pertamanya.
Mendengar pengakuan bunga, seketika ada sesutau hal dalam diri gue yang pergi jatuh dan menjauh, dada gue berat.
“Bener deh, Luki itu yang pertama buat bunga.” Suara pengakuannya terdengar sedikit lirih.
Sebenarnya buat gue, gak perlu pengakuan dari bunga untuk tahu bagaimana sakitnya dia. Gue sendiri sering mendengar cerita bagaimana Bunga selalu menangis setiap malam di kamarnya dari teman satu kosnya—yang merupakan teman gue juga—, namun ketika ketahuan menagis dan ditanya “kenapa?” Bunga hanya bilang, ‘gak apa-apa kok.’ Sambil menghapus air mata di pipinya. Terus menerus itu berlanjut sampai sekitar dua tahun lamanya.

Coba, kalau aja, dulu gue gak mencoba mendekati Bunga. Kalau saja dulu gue bisa lebih dewasa, kalau saja dulu gue siap. Mungkin nggak akan ada hati yang harus terluka, baik bunga ataupun gue.
Menghadapai kisah cinta yang begitu pahit. Timbul pertanyaan dalam diri. Apakah gue masih pantas dicintai? Apakah ini akan terjadi lagi di kemudian dikemudian hari? Dan apakah mencintai itu hal yang salah? Dalam batin yang bergejolak (cialeah) gue terus mencari jawaban. Dalam setiap kesempatan, gue mencoba  memutar kembali potongan – potongan memori yang telah lewat. Cinta, mungkin gue melewatkan sesuatu, sampai gue sadari bahwa, hanya waktu yang belum tepat. Bunga terlalu cepat hadir, gue gak bisa mengantisipasi.

Setangkai mawar hanya akan melukai tangan yang memegangnya dengan cara yang salah. Tapi, jangan anggap durinya hanya melukai, karena tak adil bila hanya melihat mawar dari durinya, lihat keindahahnnya.

Persoalan hati memang bukan soal main – main men. Menyadari konsekuensi akan mencintai, gue berkomitmen untuk gak pacaran. Catat. Komitmen tidak berpacaran.
Tapi, dua tahun kemudian komitmen gue pecah, bagai gelas diatas meja jatuh ke lantai. Prang! Begitu mudah. Dia, sebut saja Cahaya,  telah berhasil menaklukan hati gue. Jangan anggap gue berlebihan dengan bilang menaklukan, tapi memang begitu adanya. Menaklukan adalah kata yang tepat, menaklukan hati, juga komitmen gue. Dengan Cahaya, gue berpacaran—dan menjadi pacaran yang pertama.
Gue belajar sesuatu dari pacaran, pacaran bisa membuat kita nyaman dan nggak nyaman dalam waktu bersamaan. Menjelma menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus menyebalkan. Entahlah, sulit untuk dijelaskan.
Enak, nyaman, karena semua hal di dunia menjadi lebih manis, lebih menyenangkan dan berwarna, sebuah sepia pun bisa menjadi pelangi. Lebih indah. Menyebalkan, karena pacaran itu begitu pamrih, menuntut dan gak halal.
Ya, gak halal. Menyadari bahwa sebuah gandengan tangan bisa menjadi dosa adalah salahstu hal yang membuat gue nggak nyaman. Sayangnya, perlu waktu lebih dari dua tahun untuk menyadari itu. Setelah dua tahun, dengan yakin gue menyatakan bahwa kita harus berpisah. Ya, kita akhirnya berpisah. Karena ternyata lebih baik sendiri tapi lega daripada bahagia tapi semu, bukan bahagia yang sebenarnya.

 Cinta, akan selalu suci, akan selalu menunggu. Sungguh Allah mencintai orang – orang yang penyabar, tak terkecuali orang yang penyabar dengan cinta.

Jujur, kedengarannya doang keren, dalam hati yang paling dalam rasanya sesak bukan main di dada ambil keputusan untuk berpisah. Tapi dalam menjalani kesendirian, gue berhasil meyakinkan diri, bahwa kalau cinta seharusnya kita menjaga yang kita cintai, mendahulukan kepentingannya daripada mementingkan ego dan nafsu.

Memiliki masa lalu itu penting, karena tugas masa lalu adalah untuk mengingatkan, dia akan dengan senantiasa dan setia menasehati kita.

Terus lu ikhlasin aja gitu? Gak lu perjuangin? Yakin akan berakhir indah?
Justru dengan cara ini gue sedang memperjuangkan cinta, cinta yang lebih indah dan benar. Karena gue percaya, diluar sana Dia telah mempersiapkan Cinta yang paling baik untuk kita hanya dengan cara yang halal. Dan suatu saat kita akan meraih cinta kita.
Tapi kapan?
Ketika waktu tiba, ketika kita siap, ketika kita sadar bahwa cinta itu suci dan perlu dijaga kesuciannya. Cinta itu bukan soal bersama atau memiliki. Cinta soal menjaga. Menempatkan cinta lebih tinggi dari nafsu kita. karena cinta yang sehat adalah cinta yang memebuat kita lebih baik, membuat kita berpikir, membuat kita tetap rasional.

Dan biarkanlah cinta di jaga oleh Sang Pemilik Cinta. Karena hanya Dia-lah yang maha tahu cara memperlakukan Cinta.
Bahwa kisah

Kamu punya banyak Cinta, kamu gak pernah kekurangan Cinta.
Ngomongi soal cinta pasti malah nyambungnya ke pacaran, kekasih dan turunannya, padahal gak seperti itu kok.
She is my first love. Dia adalah cinta pertama gue. Siapa dia? Dia adalah ibu gue. Mamah. Mamah adalah perempuan pertama yang ada di hidup gue, bukan hanya mengandung, tapi dia juga yang mengurusi gue sampai segede gini, dari dulu gue yang cuma bisa ngiler ama mangap – mangap. Dan itu sudah cukup bagi gue untuk bilang bahwa Mamah adalah cinta pertama gue.

Gue sering masuk ke kamar Mamah saat ia sedang beristirahat di kamarnya. Saat gue membuka pintu pasti mamah tersenyum dan bertanya 'Apa ki?’
Saat itu gue hanya menjawab, 'gak apa apa.' Karena memang gue gak tahu kenapa gue ke kamarnya. Kadang kalau memang kangen, gue sering  menghampiri Mamah dengan tidur di sebelahnya. Gue lalu memegang tangannya yang sudah keriput dan kering. Gue tahu betul, kalau tangannya yang kering dan keriput ini bukan dikarenakan faktor usia, tapi karena seringnya Mamah terpapar detergen saat mencuci baju dan piring dulu, ketika keluarga kita masih belum mampu beli mesin cuci. Namun tangan yang keriput dan kering ini masih sama seperti dulu ketika kecil, masih tetap terasa lembut buat gue.
Ketika gue pegang tanganya mamah pasti akan bilang 'Ih. Tangan kamu kok kasar ki' atau bilang 'ini tangan kurus banget.' saat itu, gue hanya akan tersenyum. Dan bilang, ‘gak tahu.’ Saat memegang tangannya, biasanya Mamah akan mulai menceritakan kisah ketika gue kecil, dia akan bercerita tentang kenakalan gue, Aa gue, atau si ilmi—adek gue—.
Sambil mamah bercerita, gue bisa melihat melalui wajahnya betapa dia bahagia memiliki kita semua sebagai anaknya. Walau diakuinya betapa merepotkan dan begitu besar pengorbanan yang dilakukan dalam membesarkan kita semua, tapi Mamah gak menyinggung tentang balasan, menyinggung apa yang harus kita—anak – anaknya—lakukan untuk Mamah.
Sekarang, setelah berumur 22 thn, gue pasti akan selalu menjadi bayi kecilnya Mamah. Ketika ingin balik ke merantau ke Jakarta Mamah akan penuh perhatian bertanya, 'udah makan belum?' Atau 'kamu mau ngebekel gak?' ya, seorang Ibu akan menjadi orang yang paling cerewet dan sangat perhatian ke kita. Dan men, ngaku aja deh, itu pasti kalian alami juga kan di rumah? Iya kan? Gak usah risih. Terima aja, itu cinta kok, cinta yang tulus dan mudah.

"Ki, kalau semua anak ingat masa kecilnya dari bayi sampai balita, gak akan ada anak durhaka."
-Mamah-

Saat hanya bersama Mamah, gue bisa merasakan namanya cinta. Cinta sejati. Cinta yang tidak menuntut dan pamrih. Karena cinta sejati tidak mengenal pamrih, dia tidak menuntut. Sama seperti ibu yang gak kenal pamrih menuntut apa-apa dari anaknya, walau seumur hidupnya dia dedikasikan untuk anaknya. Bagaimana dengan kalian, kira – kira mana cinta kalian? Cinta yang gak mengenal pamrih? Cinta yang akan selalu perhatian, selalu memberi kita semangat, senantiasa mendukung kita saat jatuh.

Kalau ke pacar (baca: cinta monyet). Gue yakin, satu hari pun gak akan absen pertanyaan ‘udah maem lum?’ kenapa? Karena justru kalau kita gak nanya malah dibilang ‘kamu kok gak perhatian sama akuh! Kamu bosen sama akuh?! JAWAB (sambil nyekek leher).’ Gak jarang, kita yang baru punya gebetan pun udah sok perhatian memberondong si monyet dengan pertanyaan 'udah makan belum? Makan pakai apa? Udah sholat? Udah belum? Belum udah? Udah ya?' Atau ngajak gebetan seperti jalan – jalan sambil berkata, ‘say, jalan - jalan yuk!'
Lalu, pertanyaanya adalah; Kapan terkakhir kali kita ngajak ibu kita jalan? "Mah, jalan - jalan yuk." Kapan? Atau, kapan terakhir kali kita nanya, ‘Mah, udah makan belum?”


Cinta bukan soal pacaran.
Gue kadang sebal dengan orang yang sering mengeluh dan menyalahkan cinta. Seperti, "bosan dengan yang namanya cinta, gitu - gitu aja" atau orang yang melukai tangannya sampai berdarah, dia foto terus diupload di jejaring sosial sambil mengeluh soal Cinta. Men, lu yakin itu Cinta? Atau, mengeluh dan bilang, ‘semua laki – laki sama aja, berengsek. Membaca pernyataan ini, pertanyaan gue adalah; Semua laki – laki brengsek? Atau lu yang brengsek sampai laki – laki yang mau dekat cuma yang brengsek – brengsek?
Lama – kelamaan, yang awalnya sebal melihat mereka begitu galau karena ‘cinta’, gue malah jadi kasihan. I started to pity them. Mungkin bagi mereka Cinta itu memiliki arti yang sempit. Maka saran gue, bukalah mata lebar - lebar.
Terus kalau matanya udah dibuka lebar - lebar, ngapain? Jelasin dong.
Kalau matanya udah dibuka lebar, pegangin. Ambil pensil atau pulpen, terus colok deh matanya *croot* jadi deh cinta buta. Haha, skip skip.
Jadi maksudnya, buatlah arti cinta lebih dari mencintai ‘siapa.’ Mungkin bisa seperti ini. ‘gue mencintai karena Agama.’ Maka cinta kita mungkin akan lebih luas pengertiannya. Dengan mencintai karen agama kita akan terus mengindahkan rambu – rambu agama. Mungkin.

Kesimpulan: Cinta, bukan soal pacaran, tapi soal menjaga.