Mmh,
terus terang dua hari ini gue terusik oleh sebuah berita yang cukup
menghebohkan. Yaitu berita tentang ‘sepasang kekasih membunuh temannya sendiri—korbannya
merupakan mantan dari si cowok—. Sebut saja mereka, Pembunuh. Ya, pembunuh, gue
memilih untuk gak untuk menulis nama – nama pembunuh serta nama korban disini.
Heran
ya, kenapa bisa sepasang kekasih yang sedang monyet - monyetan Cinta malah
membunuh. Apakah keduanya sama – sama punya potensi seorang pembunuh dan ketika
mereka dipertemukan jiwa pembunuh mereka serta merta keluar. Jadi ingat tagline
Film Killers, ‘dalam diri kita, hidup pembunuh’ *muka kejam, Halah banyakan
nonton. Atau, karena si Cowok berkeinginan untuk benar - benar move on, dibantu
oleh sang cewek, keduanya berusaha ‘menghilangkan’ masa lalunya dari ingatan
sang cowok. (juga dari dunia ini). Atau, mungkin keduanya baru nonton bareng
Film Killers dan sangat menghayati film tersebut. Entahlah. Hanya tuhan yang
tahu, sedangkan gue, cuma sok tahu.
Ok,
lanjut. Ketika mendengar berita ini, gue gagal paham dengan bentuk cinta mereka.
Merasa penasaran, gue mulai menelusuri keseluruhan berita tentang pembunuhan
ini. Dan gue menemukan dua fakta yang cukup mencengangkan dalam dunia
percintaan remaja modern saat ini.
Fakta pertama: Pembunuhan ini
direncanakan.
Dari
kutipan di kompas, pembunuhan ini ternyata direncanakan seminggu yang lalu sebelum
kejadian. Ya, kedua pasangan ini sudah merencanakan pembunuhan ini. Gue penasaran,
apa sih yang mereka bicarakan saat merencanakan pembunuhan ini? Mungkin mereka
agak anti mainstream, merasa melihat pasangan lain udah terlalu mainstream karena
kalau pacaran cuma jalan - jalan liburan atau nonton bioskop, pasangan ini
malah merencanakan sebuah skenario pembunuhan.... benar - benar pacaran anti
mainstream. Serta ekstrim.
Pasangan
agak normal:
Cewek:
Sayang, minggu besok kita jalan – jalan yuk.
Cowok:
Kemana? Ngapain?
Cewek:
mmmh, kamu maunya kemana? Terus ngapain?
Cowok:
Gimana kalau ke bioskop. Jadi calo tiket.
Cewek:
..
Pasangan
Killer:
Cewek:
Sayang, minggu besok kita jalan – jalan yuk.
Cowok:
Kemana? Ngapain?
Cewek:
mmmh, kamu maunya kemana? Terus ngapain?
Cowok:
mmmmmh, (mikir keras) gimana kalau kita ke stasiun, ngebunuh orang. (agak malu –
malu).
Cewek:
Oh, boleh sayang. Bunuh siapa?
Cowok:
Mantan aku. Aku belum move on dari dia (Muka melas sambil manyun - manyun)
Cewek:
Oh! Ayok!
Maka
dibuatlah rencana pembunuhan yang kejam sekaligus mesra dan romantis. Maklum,
ngebunuhnya sama pacar, pacar baru lagi.
Ya,
kira – kira seperti itu.
Fakta kedua: Korban gak
langsung dibunuh, tapi disetrum berkali – kali.
Dengan
modus ketemuan di stasiun Gondangdia, kedua pelaku berpura – pura ingin
mengantarkan korban ke Goethe Institute—tempat korban mengikuti kursus bahasa
jerman—namun, bukannya bisa kursus bahasa Jerman dan pergi ke Jerman dan
menikah dengan orang jerman, serta mendapatkan anak – anak blasteran Jerman yang
lucu (halah), korban malah di setrum. Lebih tepatnya, di setrum berkali – kali.
Terus
terang, otak gue bagian paling physco pun gue masih gagal mengerti bagaimana
mereka bisa berpacaran sambil menyiksa orang. Apa yang membuat mereka begitu
kejam dan romantis dalam waktu bersamaan. Apakah mereka ini telah teracuni
sinetron – sinetron awal tahun 2010 an yang banyak berisi penyiksaan karena soal
percintaan. Ya, bisa jadi mereka korban sinetron. Tapi apappun itu, yang jelas,
pacaran seperti ini sungguh amoral. Banget.
Gue
penasaran, bagaimana sih mereka berkomunikasi dalam menjalankan ‘operasi
hilangkan mantan’ ini.
“Kamu
aja yang bunuh duluan.” Kata sang cowok.
“Gak
ah. Kamu aja.” Sambil malu – malu.
“Ih,
kamu tuh ya, kan aku tadi udah nyetrum,” gerutu sang cowok dengan memanyunkan
mulutnya serta menunduk sedikit manja. Ngambek deh.
“Oke
deh, demi kamu, yang penting kamu bisa move on, apapun aku bantu.” Sambil ngelus
pipi sang cowok, yang disambut senyuman sang cowok. (hoek)
Keduanya
lalu makin mesra dan romantis, yang juga meningkatkan semangatnya dalam
berpacaran (baca: membunuh).
Kesimpulan Kejadian: Keduanya anti
mainsttream (baca: Phycho).
Sang
Cowok ingin move on, tapi karena
tidak mampu sepenuhnya move on, sang
cowok akhirnya move on dengan cara
yang ekstrim. Sang cewek, seperti kebanyak cewek yang menolak menerima pacarnya
masih komunikasi sama mantan, membantu sang cowok. Sungguh tipkal cewek
sekarang (yang cewek, ngaku gak?)
Rasulullah pernah bersabda: Cintailah sesuatu itu dengan
biasa – biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatau
yang kamu benci. Dan bencilah sesuatu yang tidak kamu ketahui dengan biasa –
biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu yang
kamu cntai. (HR: bukhari, abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari abu hurairah)
Rasul
telah menasihati kita agak rasa cinta dan kebencian jangan terlalu berlebihan,
dalam kasus ini, keduanya mungkin terlibat cinta buta yang berlebihan, dan
memendam kebencian yang 'memaksa' mereka bertindak irasional.
Bagaimana
dengan loe semua, apakah berlebih – lebihan dalam mencintai dan berlebih –
lebihan dalam membenci. Kalau iya, waspada karena dalam diri kita hidup seorang
pembunuh (Apa sih?!). Maksud gue adalah, adakalanya kita jangan berlebihan
dalam mencintai, karena apa yang kita cintai belum tentu baik buat kita. Contohnya
ya, dua pasangan ini.
Cintai apapun sekedarnya saja. Juga membenci sekedarnya
saja. tapi, bersyukur harus sebanyak – banyaknya.
-Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Nice :D
BalasHapusYuk Promosikan blog kamu dan buat konten menarik di Tanyain.com :)