Ini adalah lanjutan dari Kisah gue disini
30
Desember 2012 - Malam. Gelap. Dingin.
“Lu udah mandi yul?” tanya gue
ke Iyul.
“Udah lah ka,” iyul menjawab
bangga. Seakan mandi adalah hak yang mahal.
“Andri juga udah?” Tanya gue
sekali lagi.
“Udah dia tadi, bareng Irsyam
juga,” jawab iyul.
Gue lalu terdiam sambil duduk
di bale rumah dan bertanya pada
Arfan, “Fan, mau mandi gak?”
“Ayu, tapi nanti aja luk,” kata
Arfan.
Selain gelap, rumah - rumah di Kp.
Gajeboh tidak memiliki kamar mandi, ini membuat gue males mandi. Disini kamar
mandi adalah sungai dan pancuran, untuk tempat mandi perempuan disediakan
sebuah gubuk sederhana di tepi sungai di ujung tempat masuk kampung. Terus
terang gue enggan mandi sore ini, karena gak ada pilihan harus mandi dimana.
Kalau mandi disungai, gak mungkin, nanti kalau pas mandi selendang gue dibawa
orang gimana? Gue gak bisa balik. Kalau di gubuk mandi tempat masuk kampung
lebih membuat gue enggan mandi. Kenapa? Pintunya cuma sedada gue, terus atapnya
pendek, membuat suasananya jadi kurang enak, kalau tiba – tiba pas mandi gue
kehabisan oksigen gimana? Gak lucu kan kalau temen gue nyariin gue dan menemukan
gue sedang pingsan tergeletak sambil telanjang dan megang gayung. Jadi pilihan
terakhir dan terbaik gue untuk mandi adalah sebuah pancuran yang airnya
mengalir dari bukit, letaknya ada di jalan mau masuk kampung, tapi setelah
berpikir lagi, tempat itu pun membuat gue enggan mandi. Maklum, tempat pancuran
itu persis di di pinggir jalan setapak, dan jam segini masih reme - ramenya
wisatawan lewat jalan situ. Tadi sorenya aja sebelum gue masuk kampung Gajeboh,
gue lihat seorang pemuda di pancuran lagi sabunan cuma pake celana dalam, gue
gak bisa bayangin kalo yang lagi sabunan itu gue, terus diliatin orang – orang
pas sabunan, bisa – bisa dikira lagi mau pesugihan.
Walau gue enggan mandi, tapi
ada perasaan gak betah menghampiri gue (asik), badan gue udah lengket dengan
keringat dan baju yang gue pakai pun bekas kehujanan. Intinya gue galau malam
itu.
Ditengah kegalauan gue apakah
mau mandi atau enggak, malam itu, sekitar jam 18.30 gue melakukan survei
tentang mandi, mencari tahu apakah temen gue pada mandi atau enggak. Metodenya
survei gue sederhana, tinggal gue tanya satu persatu temen – temen gue berapa
orang yang mandi dan berapa yang enggak, kalau separuhnya mandi, ya gue mandi.
Tapi kalau gak memenuhi kuota ya gue gak usah mandi, toh temen gue yang gak
mandi banyak. Hehe.
Belum gue melakukan survei, ada
yang bertanya ke gue, “kak kalau mau mandi dimana?” gue lihat rere bertanya ke
gue.
Gue terdiam, gue melihat Ires
dan Santi juga berdiri disamping Rere menunggu jawaban gue.
“Tadi sih, kalau mau mandi di
kali aja dibawah, atau gak buat cewek disana aja tuh,” gue menunjuk arah masuk
kampung,“disana ada gubuk kecil.” Gue lalu menjelaskan letak dan ciri gubuk
tersebut.
“Yaudah kita ngantri aja yuk
disana,” kata Santi mengajak Rere dan Ires.
Tak lama mereka pun berlalu
dengan handuk dan peralatan mandi menuju tempat yang gue tunjuk.
Dengan begini udah 6 orang
Mandi
Gue terdiam melihat suasana
kampung, tapi ada yang mengalihkan perhatian gue, gue tiba tiba ertarik melihat
Cardi dan Kak Ari yang sedang berbincang, kayanya serius banget ngobrolnya.
“Cardi, Mandi henteu? Mandi gak?” taya kak Ari.
Cardi terdiam. Kak Ari mungkin
merasa kalimatnya tidak dimengerti Cardi, lalu kak Ari bertanya lagi sambil
memperagakan orang yang sedang mengguyurkan air dengan gayung mandi, “Mandi teu?, Ibak, Ibak.” Kata kak Ari.
Gue terdiam penasaran menungu
jawaban Cardi.
Cardi terdiam sambil senyum
tersipu (buat apa pula dia tersipu? -_-“), Cardi lalu nyengir sambil matanya menatap
ke arah kampung. Cardi memang terkesan pemalu, ketika ditanya dia selalu
menghindari kontak mata langsung.
Kak Ari terdiam sambil menunggu
jawaban Cardi.
Dicuekin
nih ye.
Hening.
Gue dan Kak Ari terdiam masih
melihat Cardi.
Hening.
“Hemmh?” Kak Ari mendehem
menunggu jawaban.
Masih Hening.
Lalu mulut Cardi mulai terbuka, “Huaaah.” Bukannya dijawab Cardi malah
nguap. Lalu akhirnya Cardi menggeleng. “Henteu,
engke bae di saung. Enggak, nanti aja
di saung” Jawab Cardi.
Buset, lama banget jawab begitu
aja, pikir gue. Pake nguap lagi.
Dengan jawaban Cardi, berarti
kedudukan menjadi 6 Mandi dan 4 Gak mandi karena Kak Ari Sore itu pun gak
mandi, gue gak tahu alasannya, mungkin beliau ingin mengikuti keteladanan Cardi.
Ketika gue berkeliling saung, gue ketahui Mbak
Heni, Jay dan Qori tenyata gak mandi juga, karena alesan sederhana ‘males.’
“Pada enggak mandi?” Tanya gue
pada Mbak Heni dan Qori yang sedang duduk bersama di bale rumah.
“Enggak ah, males,” jawab
mereka. Oke Kambing juga gak mandi tetap laku.
Jadi, kedudukan menjadi 6 mandi
dan 7 gak mandi termasuk Cardi. Jadi gue gak usah mandi.
Loh?
Kenapa Cardi masih dihitung dalam Survei?
Biar, emang dasarnya gue males
mandi.
JJJ
“Hei, yang mandi belum pada
pulang loh. Udah jam berapa nih?” Kata Kak Ari dari luar rumah berkata, air mukanya
panik. Beberapa temen gue pun heboh, ada yang bereaksi dengan ucapan,“enelan?”
ada yang bilang “Loh, tadi bukannya mandi,”dan bahkan ada yang bereaksi, “Ciyuus?
Miapaaah?” (oke, yang pertama dan terakhir gue cuma ngarang). Intinya saat itu
kita jadi agak panik.
Gue jadi teringat sesuatu,
sebelum dinyatakan ‘hilang’ mereka bertiga bertanya ke gue. “Tadi sih gue
nunjukin mandi disitu tuh, gubuk pinggir kali deket lapangan. Ada gak?” Tanya
gue pada Kak Ari.
“Gak ada, orang udah dipanggil
– panggil gak dijawab.” Jawab kak Ari.
Begitu mendengar berita teman
kita ‘hilang’, gue dan temen – temen bagaikan seorang anggota SAR yang sigap
sedia, langsung bersiap memakai peralatan lengkap yang biasa dipakai untuk
mencari orang. Kita menyiapkan dua buah lampu senter.
Terbagi atas dua tim pencari,
kita semua langsung mencari dan bertekad mencari tanpa pantang menyerah malam
itu, Tapi karena masalah cuaca yang ekstrim kita harus pulang lagi ke rumah bu
Kadimah.
“Wah, gerimis nih.” kata temen
gue.
“Iya, pulang dulu yuk,” kata
temen gue yang lain mengiyakan.
Kita semua lalu ‘terpaksa’
berjalan kembali ke rumah ibu kadimah.
“Udah ketemu?” tanya mbak heni
ke gue saat dirumah.
“Belum,” jawab gue.
Saat dirumah kita semua mempersiapkan
alat - alat pencari dan personel tambahan untuk memudahkan pencarian. Kalau
saat pertama kita memakai dua buah senter, sekarang kita memakai 3 (tiga) buah
senter! Iya, TIGA! hasil minjem punya bang Jay.
Dengan bang Jay sebagai
tambahanan personel. Tim pencari terbagi atas dua kelompok lagi, tim pertama
Irsyam bersama Kak Ari dan tim kedua adalah sisanya. Ditengah pencarian tim
kedua kehilangan jejak kak Ari dan Irsyam, mereka berdua menghilang entah
kemana.
Masih dalam rangka kehilangan,
gue lalu bertemu dengan seorang Ibu - ibu warga kp. Gajeboh, lalu gue memberanikan
diri bertanya dengan bahasa Sunda. Jika di translate-kan
kira – kira begini: “Bu,tadi liat ada anak perempuan gak, tiga orang bawa bawa
handuk?”
Namun, ibu tersebut gak
menjawab pertanyaan gue, dia berlalu meninggalkan gue. Gue dikacangin. Gak heran, perempuan di baduy memang agak tertutup,
pendiam dan menjaga sikap, apalagi dengan orang asing kaya gue. Tapi kalau
dalam kasus gue, mungkin jangankan orang baduy, biasanya orang biasa pun kabur
kalau gue tanya.
Sibuk mencari kesana kemari,
gue lalu memikirkan sebuah ide yang brilian. Sebuah ide yang akan menjadi jalan
keluar buat kita semua. Gue mulai menyusun kalimat yang pas buat Orangtua Rere,
Ires dan Santi kalau memang mereka Hilang.
Kepada
Yth,
Bapak/
Ibu anak yang hilang ditempat.
Dengan
datangnya surat ini, saya ingin memberitahukan dua buah kabar, ada kabar baik
dan kabar buruk. Mau tau gak kabarnya? Apa mau tau banget?
Pertama
saya akan menyampaikan kabar buruknya dahulu lalu setelahnya kabar baik.
Jadi
sebagaimana Bapak/Ibu tahu, bahwa sebelumnya anak bapak/ibu yang
disayangi/tidak disayangi telah melakukan perjalanan ke desa adat baduy, namun
saat bermalam, kami mendapati anak bapak/ibu yang merupakan teman kami telah
hilang, entah kemana.
Lalu,
karena mereka hilang saat mandi, syukurlah kita masih memegang tas beserta
barang – barang didalamnya, lengkap
dengan pakaian dalamnya. Setengahnya menyadari bahwa ini adalah tanggung jawab
kami, maka kami memutuskan akan mengirim tas anak bapak/ibu via POS secara
gratis!
Karena
kabar baik yang sebenarnya adalah harga pengiriman paket POS sekarang sedang
ada promo. Jadi tidak memberatkan kami, bapak/ibu tidak usah khawatir soal biaya
pengiriman paket barang – barang.
Salam
hangat.
Membayangkannya malah bikin gue
tersenyum sendiri dalam malam pencarian.
Eh?
Bisa – bisanya lo malah mikir kesitu?! Temen lo ilang!!
Astagfirullah. Setelah Istigfar
gue pun menghentikan lamunan gue dan melanjutkan pencarian di tempat yang
begitu gelap bersama temen - temen gue yang lain. Gue harus tetep optimis.
“Kak Ari sama Irsyam mana?”
Tanya gue.
“Gak tau, kemana lagi tuh
orang.” Jawab Arfan.
“Udah, berarti kita jangan pada
misah,” saran Jay.
Karena bang Jay sudah bilang
begitu, temen – temen gue yang lain pun meng-iyakan dan merapat satu sama lain.
Gerimis masih mengguyur malam itu, membuat udara menjadi dingin dan menusuk,
tapi kita tetap melakukan pencarian ke beberapa tempat, mulai dari kali di bawah,
ketemu kali lagi, ke gubuk mandi, sampai pancuran.
“Ini beneran nih?(ilang)” Iyul
bertanya.
“Beneran yul, masalahnya mereka
gak bawa senter, masa mau mandi ampe malem sih?” Jawab gue. Gue pikir, selama –
lamanya cewek mandi, mereka gak mungkin selama ini, apalagi ini kampung orang.
“Iya, pada gak bawa senter ya?”
tanya Arfan dan Andri.
Kita lalu tiba di pancuran,
disana gue memeriksa apakah ada sisa - sisa orang. (entah kaki atau kepala)
Sambil memeriksa, kita bertemu Kak Ari dan Irsyam. Kak Ari masih dengan muka
panik yang sekarang ditambah pucat.
“Kak, ketemu gak?” tanya Iyul
ke Kak Ari.
“Enggak,” kata kak Ari, air
mukanya pucat dan panik.
“Emang lo pada nyari sampe
mana?” tanya iyul ke kak ari.
“Jauh, sampe jembatan sono,
kampung sebelumnya” kata Kak Ari dan Irsyam bersautan.
Buseet. Jauh
banget pencarian mereka. Pantes lama, pikir gue
“Yaudah, kita pulang aja dulu,
nanti tanya warga, takutnya mereka malah dirumah warga, terus gaenak keluarnya.”
Kata Iyul menyarankan. Kita semua setuju, bisa aja Rere, Ires dan Santi berada
di rumah warga, ditawarin makan, terus keasyikan. Merasa gak ada tempat yang
bisa disambangi lagi, kita pun memutuskan kembali ke rumah ibu Kadimah.
“Eh ka Luki!” tiba - tiba Iyul
memanggil gue.
“Apa?” tanya gue, bersiap
mendengar Iyul ngomong.
“Elu ngomong ber-asep tau” Kata
Iyul.
“Oh, iyalah, kan dingin yul.”
Kata gue. Eh? Ini apa lagi? penting ya ngebahas nafas gue yang berasep. Ini
temen kita ilang woi!
“Ini ada jalan? Jalan kemana nih?” Kata gue
sambil menyorot sebuah jalan setapak menuju ke atas yang diujung sana gak
terlihat apa – apa, gelap. Gue lalu melangkahkan kaki menuju ke jalan setapak
itu, namun berhenti setelah dicegah temen – temen yang lain.
“Jangan kesana ki, takut kenapa
– napa, tanya warga dulu.” kata arfan mencegah.
“Iya, kerumah warga dulu,” kata
temen - temen gue.
“Oke,” gue setuju, gue pun ikut
pulang walau masih penasaran dengan jalan diatas.
“Nah, itu siapa?” Salah satu
temen gue berkata lalu menyorotkan senter ke sebuah tempat diatas bukit, lalu
gue dan teman – teman yang lain pun menyorotkan lampu ke arah yang sama.
Ternyata disana ada Rere, Ires dan Santi. Mereka terlihat sangat segar sehabis
mandi, menenteng sabun dan mengalungkan handuk. Kontras dengan kita yang udah
keringetan, basah kena gerimis sambil nenteng senter.
“Wah! Pada dicariin juga.” Kata
gue sewot. Gue sampe gak mandi nih nyariin kalian. Kata gue dalam hati.
Temen yang lain pun mengatakan
hal kurang lebih sama dengan gue, semuanya agak sewot, terlebih lagi Kak Ari
yang agak kesel ke Rere.
“Maaf yang,” kata Rere minta
maaf ke Kak Ari.
Kalau gue jadi kak Ari gue akan
bilang, ‘Maaf saja tak cukup!’ sambil memalingkan muka gue. Untungnya gue bukan
kak Ari.
Ires dan Santi juga langsung
minta maaf ke kita semua. Kita lalu membantu Rere, Ires dan Santi untuk turun
dari buki, keadaan gelap menyulitkan mereka turun, terlebih batunya licin.
“Maaf, kita gak tau kalau dicariin.”
Kata santi meminta maaf.
“Udah lebih dari setengah jam,
gimana gak dicariin?” jawab gue sewot sambil menahan santi ketika turun bukit (yang
malah menambah tingkat kesewotan gue).
“Mana tadi dimarahin lagi pas
mandi disitu” lanjut santi.
Ya gak penting lah, pokoknya
udah ketemu dan kita semua bisa pulang segera ke tempat bu Kadimah. Kita makan
malam.
JJJ
Kita semua duduk melingkar
dengan penerangan lampu minyak, sambil membagikan makan, kita membahas rencana
untuk esok hari. Besok perjalanan akan dimulai saat terang, menurut info yang
diterima dari ibu Kadimah, perjalanan dari Gajeboh – Cibeo – Ciboleger memakan
waktu sekitar 5 jam. Jadi bisa di estimasikan, kalau kita berjalan dari jam 6 maka
sekitar jam 12 kita bisa sampai Ciboleger.
Gue menyendok nasi lalu melirik
mie instan sebaskom. Cukup gak ya?Pikir gue. Malam ini kita semua makan dengan
nasi, mie instan dan ikan asin. Sungguh sederhana sekali. Entah kenapa, mungkin
karena sebelumnya gue udah berjalan selama 2,5 jam (gerimis pula) ikan asin
yang gue makan jadi terasa enak, kalu digambarkan jadi berasa ikan asin banget.
Apalagi dengan mienya, terasa banget mienya, dicampur nasi yang dimasak secara
tradisional membuat makananan yang gue makan jadi gimanaa gitu, intinya gue berasa
orang susah. Tapi jujur nasinya enak. Walau makanannya memang kurang nendang,
tapi ada satu yang membuat makan malam ini jadi istimewa, yaitu kebersamaan
kita saat itu.
![]() |
| Menu makan malam, malam ini: sebaskom mie, nasi, ikan asin dan sendok. |
Ditengah keterbatasan lauk
pauk, Mbak Heni tiba – tiba mengeluarkan sterofoam yang berisi Ayam goreng
tepung.
“Wihhh, Saba*tuuuut*” teriak
temen - temen gue, terkagum (Saba*tuuuut* adalah sebuah merek ayam goreng
tepung deket kampus gue, makanya gue sensor).
“Nih, makan aja, ada ayam” Kata
mbak heni menawarkan.
Tambahan ayam dan keadaan yang
udah lapar membuat makan malam jadi naik derajat, kalau kata pak Bondan: “mak nyuuss.” Tapi
kalau kata gue: “MAK JEDARRR!”
Ditengah makan gue bertanya
pada Qori, “ini beli apa bikin sendiri?”
“Ini bikin sendiri,” jawab
qori.
Mendengar itu gue langsung
berkata “wuih boy! silakan nih, masakan hasil racikan mahasiswa tata boga,”
kata gue menawarkan anak – anak lain yang disambut meriah.
“Widih. Suatu kehormatan banget
nih.” Kata Iyul, lebay.
Makan malam bersama membuat
kita semua larut dalam keceriaan, kita serombongan sepertinya tidak lagi memiliki batasan, yang
mulanya kaku semuanya sudah cair dan membentuk satu ikatan pertemanan.
JJJ
Jam 20.00 suasana udah sepi, di
kp. Gajeboh kesunyian sebenarnya udah dimulai ketika hari gelap. Ketika suasana
udah sunyi, HP gak ada sinyal dan BBM gak atif, satu – satunya hal yang bisa
dilakukan hanyalah terlelap dalam malam.
Ruangan besar di dalam rumah
yang sebelumnya menjadi tempat makan berubah menjadi sebuah ruang tidur. Ibu
kadimah dengan baik hati membereskan tiker sebagai alas buat kita tidur.
“Udah bu, jangan repot – repot”
kata gue dan irsyam mencegah ketika bu Kadimah membereskan tiker.
Ibu kadimah tertawa dan bilang
“gak apa apa.”
“Jangan repot - repot” kata
gue.
Ibu kadimah hanya terdiam lalu
berlalu sambil meninggalkan ruangan yang sudah beralaskan tikar, gue pun
terdiam lalu berbaring.
Ah,
dibilangin jangan repot - repot jadi enak kan tuh.
Dengan beralasakan tikar
seadanya kita semua mulai tidur, cuaca yang dingin menusuk membuat gue menyelimuti
diri agar hangat, sementara gue terpaksa sarungan dengan sarung yang gue
temukan di atas tas, entah sarung ini punya siapa. Bagaimana dengan Cardi? Cardi
pemandu favorit kita udah duduk dipojokan ruangan, Cardi kadang tiduran di
pojok ruangan bahkan terkadang gue melihat cardi bengong sambil nganga, untung
gak ngences. Tapi akhirnya dia melepas romal dan mulai ‘berusaha’ tertidur.
Gak berapa lama temen gue yang
berada luar mulai berdatangan.
“Wuih tidur?” Goda beberapa
temen gue ke Cardi.
“Itu sarung gue ya Luk?” Tanya
Andri ke gue yang sedang selimutan pake sarung.
“Oh, iya kali, mau pake?” Tanya
gue, menawarkan.
“Oh, Gak apa - apa, pake aja,”
kata Andri dengan baik hati.
Sungguh baik sekali Andri,
ditengah dingin begini dia rela meminjamkan sarungnya padahal dia sendiri cuma
pake kolor.
Kita semua mengambil posisi tidur, disamping
kanan gue ada Andri lalu sebelahnya Iyul dan sebelahnya lagi Irsyam sementara
disamping kiri gue ada Jay sebelahnya lagi Arfan. Setelah mengambil posisi Iyul
sesekali becanda dan menggoda Cardi.
Suasana sunyi, gue amati nampaknya semua udah terlelap tidur, kebalikan dengan gue yang masih
belum bisa tidur, mata gue masih melotot sulit untuk terpejam, dinginnya malam yang
membuat gue menggigil membuat rasa kantuk makin jauh dengan gue. Ketika gue
mulai mencoba berusaha tertidur tiba – tiba terjadi sesuatu, mimpi buruk gue
dimulai, mimpi buruk yang membuat gue susah terlelap.
NGRROOOOK..
NGROOOOOK
Suara ngorok terdengar, gue
milhat asal suara, ternyata datangnya dari Iyul. Ya ampun gimana mau tidur gue?
Suara ngoroknya persis disamping, pikir gue. Lama kelamaan, gue udah mulai
terbiasa dengan suara ngoroknya Iyul, seakan suara itu hanya seperti gemericik
hujan diluar, dengan terbiasanya gue terhadap suara itu lalu gue mulai
melelapkan mata dan berusaha tidur. Sampai tiba – tiba.
Ngrooooo-ok..
Ngrooooo-ok.
Buseeet!
Siapa lagi ini yang ngorok?!
Ditengah gemuruh suara
ngoroknya Iyul, tiba – tiba terdengar suara ngorok yang lain, nadanya agak
tinggi, kalau didengar dari arahnya ini berasal dari tempat tidur cewek. Gue
inget banget asalnya dari pojokan ruangan, entah siapa yang ngorok, tapi yang
jelas suara ini bikin gue gak bisa tidur. Malam itu gue bagai dinyanyikan
melodi dan harmoni yang bertalu – talu dengan nada rendah dan tinggi.
Jam 21.30. Suara ngorok udah
berhenti. Ujung jari gue terasa membeku, dingin banget. Gue lalu terdiam, teringat
dengan temen gue Andri yang tidur gak memakai sarung, gue lihat dia tidur tanpa
sarung demi gue. Kakinya menyilang menunjukan kedinginan yang dia rasakan. Ya
ampun, manusia macam apa gue? Tega membiarkan temen kedinginan karena keegoisan
gue. Perlahan lalu gue mulai lepas sarung, lalu dengan selembut mungkin gue
sematkan sarung ke badan Andri, gue gak mau sampai dia terbangun gara – gara gue.
Gue lalu mengambil celana
panjang di tas dan memakainya tanpa mengancingkannya, alakadarnya aja agar gue
gak kedinginan malam itu.
Jam 22.00. Makin malam makin
dingin, gue belum juga terlelap. Diiringi suara ngorok yang kadang datang dan
pergi, gue mulai uring – uringan. Semua posisi tidur udah gue coba, dari A
sampai Z, tapi tetep gue gak bisa tidur. Saat gue tiduran sambil menghadap kiri,
gue gak bisa tidur karena silau lampu minyak. Lalu gue putuskan untuk tidur
menghadap kanan, pas gue menghadap kanan, yang gue dapati ternyata lebih
menyilaukan dari lampu minyak, yaitu adalah pemadangan muka Bang Jay yang lagi
tidur, unyu – unyu banget.
Terus terang posisi menghadap muka
bang jay bikin gue gak betah, bukannya gue benci atau gak suka sama Jay, tapi apa
rasanya ketika lo sebagai seorang laki – laki, tidur dalam posisi yang
menyamping dan di saat bersamaan lu memandangi muka seorang laki – laki lain. Jadi
aneh perasaan, absurd. Rasanya gue kaya jadi seorang homo yang lagi mengamati
pasangan homo gue di tempat tidur. So sweet
banget jatuhnya.
Dear Jay,
bukannya aku gak suka memandangi muka kamu yang lagi terlelap, tapi sebaliknya,
justru aku takut malah jadi suka sama kamu. Maaf.
Malam itu gue putuskan tidur
menghadap langit - langit.
Jam 22.30. Gue masih belum
terlelap, tulang ekor gue sakit. Terus terang karena gue berbadan kurus, gue
memiliki volume (maaf) pantat yang gak setebal orang berbadan gemuk, makanya
tulang ekor gue selalu tertekan kalau tidur pada permukaan yang keras. Merasa keadaan
gak membaik gue mengambil Catatan dewa dan buku sketsa di tas lalu mulai
menulis dan menggambar. Lebih baik daripada gue terus mencoba tidur padahal gue
gak bisa.
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:
Posting Komentar