Sabtu, 12 Januari 2013

Baduy Trip Part II: Malam. Gelap. Dingin


Ini adalah lanjutan dari Kisah gue disini

30 Desember 2012 - Malam. Gelap. Dingin.
“Lu udah mandi yul?” tanya gue ke Iyul.
“Udah lah ka,” iyul menjawab bangga. Seakan mandi adalah hak yang mahal.
“Andri juga udah?” Tanya gue sekali lagi.
“Udah dia tadi, bareng Irsyam juga,” jawab iyul.
Gue lalu terdiam sambil duduk di bale rumah dan bertanya pada Arfan, “Fan, mau mandi gak?”
“Ayu, tapi nanti aja luk,” kata Arfan.
Selain gelap, rumah - rumah di Kp. Gajeboh tidak memiliki kamar mandi, ini membuat gue males mandi. Disini kamar mandi adalah sungai dan pancuran, untuk tempat mandi perempuan disediakan sebuah gubuk sederhana di tepi sungai di ujung tempat masuk kampung. Terus terang gue enggan mandi sore ini, karena gak ada pilihan harus mandi dimana. Kalau mandi disungai, gak mungkin, nanti kalau pas mandi selendang gue dibawa orang gimana? Gue gak bisa balik. Kalau di gubuk mandi tempat masuk kampung lebih membuat gue enggan mandi. Kenapa? Pintunya cuma sedada gue, terus atapnya pendek, membuat suasananya jadi kurang enak, kalau tiba – tiba pas mandi gue kehabisan oksigen gimana? Gak lucu kan kalau temen gue nyariin gue dan menemukan gue sedang pingsan tergeletak sambil telanjang dan megang gayung. Jadi pilihan terakhir dan terbaik gue untuk mandi adalah sebuah pancuran yang airnya mengalir dari bukit, letaknya ada di jalan mau masuk kampung, tapi setelah berpikir lagi, tempat itu pun membuat gue enggan mandi. Maklum, tempat pancuran itu persis di di pinggir jalan setapak, dan jam segini masih reme - ramenya wisatawan lewat jalan situ. Tadi sorenya aja sebelum gue masuk kampung Gajeboh, gue lihat seorang pemuda di pancuran lagi sabunan cuma pake celana dalam, gue gak bisa bayangin kalo yang lagi sabunan itu gue, terus diliatin orang – orang pas sabunan, bisa – bisa dikira lagi mau pesugihan.
Walau gue enggan mandi, tapi ada perasaan gak betah menghampiri gue (asik), badan gue udah lengket dengan keringat dan baju yang gue pakai pun bekas kehujanan. Intinya gue galau malam itu.
Ditengah kegalauan gue apakah mau mandi atau enggak, malam itu, sekitar jam 18.30 gue melakukan survei tentang mandi, mencari tahu apakah temen gue pada mandi atau enggak. Metodenya survei gue sederhana, tinggal gue tanya satu persatu temen – temen gue berapa orang yang mandi dan berapa yang enggak, kalau separuhnya mandi, ya gue mandi. Tapi kalau gak memenuhi kuota ya gue gak usah mandi, toh temen gue yang gak mandi banyak. Hehe.
Belum gue melakukan survei, ada yang bertanya ke gue, “kak kalau mau mandi dimana?” gue lihat rere bertanya ke gue.
Gue terdiam, gue melihat Ires dan Santi juga berdiri disamping Rere menunggu jawaban gue.
“Tadi sih, kalau mau mandi di kali aja dibawah, atau gak buat cewek disana aja tuh,” gue menunjuk arah masuk kampung,“disana ada gubuk kecil.” Gue lalu menjelaskan letak dan ciri gubuk tersebut.
“Yaudah kita ngantri aja yuk disana,” kata Santi mengajak Rere dan Ires.
Tak lama mereka pun berlalu dengan handuk dan peralatan mandi menuju tempat yang gue tunjuk.
Dengan begini udah 6 orang Mandi

Gue terdiam melihat suasana kampung, tapi ada yang mengalihkan perhatian gue, gue tiba tiba ertarik melihat Cardi dan Kak Ari yang sedang berbincang, kayanya serius banget ngobrolnya.
“Cardi, Mandi henteu? Mandi gak?” taya kak Ari.
Cardi terdiam. Kak Ari mungkin merasa kalimatnya tidak dimengerti Cardi, lalu kak Ari bertanya lagi sambil memperagakan orang yang sedang mengguyurkan air dengan gayung mandi, “Mandi teu?, Ibak, Ibak.” Kata kak Ari.
Gue terdiam penasaran menungu jawaban Cardi.
Cardi terdiam sambil senyum tersipu (buat apa pula dia tersipu? -_-“), Cardi lalu nyengir sambil matanya menatap ke arah kampung. Cardi memang terkesan pemalu, ketika ditanya dia selalu menghindari kontak mata langsung.
Kak Ari terdiam sambil menunggu jawaban Cardi.
Dicuekin nih ye.
Hening.
Gue dan Kak Ari terdiam masih melihat Cardi.
Hening.
 “Hemmh?” Kak Ari mendehem menunggu jawaban.
Masih Hening.
Lalu mulut Cardi mulai terbuka, “Huaaah.” Bukannya dijawab Cardi malah nguap. Lalu akhirnya Cardi menggeleng. “Henteu, engke bae di saung. Enggak, nanti aja di saung” Jawab Cardi.
Buset, lama banget jawab begitu aja, pikir gue. Pake nguap lagi.
Dengan jawaban Cardi, berarti kedudukan menjadi 6 Mandi dan 4 Gak mandi karena Kak Ari Sore itu pun gak mandi, gue gak tahu alasannya, mungkin beliau ingin mengikuti keteladanan Cardi.
 Ketika gue berkeliling saung, gue ketahui Mbak Heni, Jay dan Qori tenyata gak mandi juga, karena alesan sederhana ‘males.’
“Pada enggak mandi?” Tanya gue pada Mbak Heni dan Qori yang sedang duduk bersama di bale rumah.
“Enggak ah, males,” jawab mereka. Oke Kambing juga gak mandi tetap laku.
Jadi, kedudukan menjadi 6 mandi dan 7 gak mandi termasuk Cardi. Jadi gue gak usah mandi.
Loh? Kenapa Cardi masih dihitung dalam Survei?
Biar, emang dasarnya gue males mandi.

JJJ

“Hei, yang mandi belum pada pulang loh. Udah jam berapa nih?” Kata Kak Ari dari luar rumah berkata, air mukanya panik. Beberapa temen gue pun heboh, ada yang bereaksi dengan ucapan,“enelan?” ada yang bilang “Loh, tadi bukannya mandi,”dan bahkan ada yang bereaksi, “Ciyuus? Miapaaah?” (oke, yang pertama dan terakhir gue cuma ngarang). Intinya saat itu kita jadi agak panik.
Gue jadi teringat sesuatu, sebelum dinyatakan ‘hilang’ mereka bertiga bertanya ke gue. “Tadi sih gue nunjukin mandi disitu tuh, gubuk pinggir kali deket lapangan. Ada gak?” Tanya gue pada Kak Ari.
“Gak ada, orang udah dipanggil – panggil gak dijawab.” Jawab kak Ari.
Begitu mendengar berita teman kita ‘hilang’, gue dan temen – temen bagaikan seorang anggota SAR yang sigap sedia, langsung bersiap memakai peralatan lengkap yang biasa dipakai untuk mencari orang. Kita menyiapkan dua buah lampu senter.
Terbagi atas dua tim pencari, kita semua langsung mencari dan bertekad mencari tanpa pantang menyerah malam itu, Tapi karena masalah cuaca yang ekstrim kita harus pulang lagi ke rumah bu Kadimah.
“Wah, gerimis nih.” kata temen gue.
“Iya, pulang dulu yuk,” kata temen gue yang lain mengiyakan.
Kita semua lalu ‘terpaksa’ berjalan kembali ke rumah ibu kadimah.
“Udah ketemu?” tanya mbak heni ke gue saat dirumah.
“Belum,” jawab gue.
Saat dirumah kita semua mempersiapkan alat - alat pencari dan personel tambahan untuk memudahkan pencarian. Kalau saat pertama kita memakai dua buah senter, sekarang kita memakai 3 (tiga) buah senter! Iya, TIGA! hasil minjem punya bang Jay.
Dengan bang Jay sebagai tambahanan personel. Tim pencari terbagi atas dua kelompok lagi, tim pertama Irsyam bersama Kak Ari dan tim kedua adalah sisanya. Ditengah pencarian tim kedua kehilangan jejak kak Ari dan Irsyam, mereka berdua menghilang entah kemana.

Masih dalam rangka kehilangan, gue lalu bertemu dengan seorang Ibu - ibu warga kp. Gajeboh, lalu gue memberanikan diri bertanya dengan bahasa Sunda. Jika di translate-kan kira – kira begini: “Bu,tadi liat ada anak perempuan gak, tiga orang bawa bawa handuk?”
Namun, ibu tersebut gak menjawab pertanyaan gue, dia berlalu meninggalkan gue. Gue dikacangin. Gak heran, perempuan di baduy memang agak tertutup, pendiam dan menjaga sikap, apalagi dengan orang asing kaya gue. Tapi kalau dalam kasus gue, mungkin jangankan orang baduy, biasanya orang biasa pun kabur kalau gue tanya.
Sibuk mencari kesana kemari, gue lalu memikirkan sebuah ide yang brilian. Sebuah ide yang akan menjadi jalan keluar buat kita semua. Gue mulai menyusun kalimat yang pas buat Orangtua Rere, Ires dan Santi kalau memang mereka Hilang.


Kepada Yth,
Bapak/ Ibu anak yang hilang ditempat.

Dengan datangnya surat ini, saya ingin memberitahukan dua buah kabar, ada kabar baik dan kabar buruk. Mau tau gak kabarnya? Apa mau tau banget?

Pertama saya akan menyampaikan kabar buruknya dahulu lalu setelahnya kabar baik.
Jadi sebagaimana Bapak/Ibu tahu, bahwa sebelumnya anak bapak/ibu yang disayangi/tidak disayangi telah melakukan perjalanan ke desa adat baduy, namun saat bermalam, kami mendapati anak bapak/ibu yang merupakan teman kami telah hilang, entah kemana.
Lalu, karena mereka hilang saat mandi, syukurlah kita masih memegang tas beserta barang – barang didalamnya,  lengkap dengan pakaian dalamnya. Setengahnya menyadari bahwa ini adalah tanggung jawab kami, maka kami memutuskan akan mengirim tas anak bapak/ibu via POS secara gratis!
Karena kabar baik yang sebenarnya adalah harga pengiriman paket POS sekarang sedang ada promo. Jadi tidak memberatkan kami, bapak/ibu tidak usah khawatir soal biaya pengiriman paket barang – barang.

Salam hangat.


Membayangkannya malah bikin gue tersenyum sendiri dalam malam pencarian.
Eh? Bisa – bisanya lo malah mikir kesitu?! Temen lo ilang!!
Astagfirullah. Setelah Istigfar gue pun menghentikan lamunan gue dan melanjutkan pencarian di tempat yang begitu gelap bersama temen - temen gue yang lain. Gue harus tetep optimis.
“Kak Ari sama Irsyam mana?” Tanya gue.
“Gak tau, kemana lagi tuh orang.” Jawab Arfan.
“Udah, berarti kita jangan pada misah,” saran Jay.
Karena bang Jay sudah bilang begitu, temen – temen gue yang lain pun meng-iyakan dan merapat satu sama lain. Gerimis masih mengguyur malam itu, membuat udara menjadi dingin dan menusuk, tapi kita tetap melakukan pencarian ke beberapa tempat, mulai dari kali di bawah, ketemu kali lagi, ke gubuk mandi, sampai pancuran.
“Ini beneran nih?(ilang)” Iyul bertanya.
“Beneran yul, masalahnya mereka gak bawa senter, masa mau mandi ampe malem sih?” Jawab gue. Gue pikir, selama – lamanya cewek mandi, mereka gak mungkin selama ini, apalagi ini kampung orang.
“Iya, pada gak bawa senter ya?” tanya Arfan dan Andri.
Kita lalu tiba di pancuran, disana gue memeriksa apakah ada sisa - sisa orang. (entah kaki atau kepala) Sambil memeriksa, kita bertemu Kak Ari dan Irsyam. Kak Ari masih dengan muka panik yang sekarang ditambah pucat.
“Kak, ketemu gak?” tanya Iyul ke Kak Ari.
“Enggak,” kata kak Ari, air mukanya pucat dan panik.
“Emang lo pada nyari sampe mana?” tanya iyul ke kak ari.
“Jauh, sampe jembatan sono, kampung sebelumnya” kata Kak Ari dan Irsyam bersautan.
Buseet. Jauh banget pencarian mereka. Pantes lama, pikir gue
“Yaudah, kita pulang aja dulu, nanti tanya warga, takutnya mereka malah dirumah warga, terus gaenak keluarnya.” Kata Iyul menyarankan. Kita semua setuju, bisa aja Rere, Ires dan Santi berada di rumah warga, ditawarin makan, terus keasyikan. Merasa gak ada tempat yang bisa disambangi lagi, kita pun memutuskan kembali ke rumah ibu Kadimah.
“Eh ka Luki!” tiba - tiba Iyul memanggil gue.
“Apa?” tanya gue, bersiap mendengar Iyul ngomong.
“Elu ngomong ber-asep tau” Kata Iyul.
“Oh, iyalah, kan dingin yul.” Kata gue. Eh? Ini apa lagi? penting ya ngebahas nafas gue yang berasep. Ini temen kita ilang woi!
 “Ini ada jalan? Jalan kemana nih?” Kata gue sambil menyorot sebuah jalan setapak menuju ke atas yang diujung sana gak terlihat apa – apa, gelap. Gue lalu melangkahkan kaki menuju ke jalan setapak itu, namun berhenti setelah dicegah temen – temen yang lain.
“Jangan kesana ki, takut kenapa – napa, tanya warga dulu.” kata arfan mencegah.
“Iya, kerumah warga dulu,” kata temen - temen gue.
“Oke,” gue setuju, gue pun ikut pulang walau masih penasaran dengan jalan diatas.
“Nah, itu siapa?” Salah satu temen gue berkata lalu menyorotkan senter ke sebuah tempat diatas bukit, lalu gue dan teman – teman yang lain pun menyorotkan lampu ke arah yang sama. Ternyata disana ada Rere, Ires dan Santi. Mereka terlihat sangat segar sehabis mandi, menenteng sabun dan mengalungkan handuk. Kontras dengan kita yang udah keringetan, basah kena gerimis sambil nenteng senter.
“Wah! Pada dicariin juga.” Kata gue sewot. Gue sampe gak mandi nih nyariin kalian. Kata gue dalam hati.
Temen yang lain pun mengatakan hal kurang lebih sama dengan gue, semuanya agak sewot, terlebih lagi Kak Ari yang agak kesel ke Rere.
“Maaf yang,” kata Rere minta maaf ke Kak Ari.
Kalau gue jadi kak Ari gue akan bilang, ‘Maaf saja tak cukup!’ sambil memalingkan muka gue. Untungnya gue bukan kak Ari.
Ires dan Santi juga langsung minta maaf ke kita semua. Kita lalu membantu Rere, Ires dan Santi untuk turun dari buki, keadaan gelap menyulitkan mereka turun, terlebih batunya licin.
“Maaf, kita gak tau kalau dicariin.” Kata santi meminta maaf.
“Udah lebih dari setengah jam, gimana gak dicariin?” jawab gue sewot sambil menahan santi ketika turun bukit (yang malah menambah tingkat kesewotan gue).
“Mana tadi dimarahin lagi pas mandi disitu” lanjut santi.
Ya gak penting lah, pokoknya udah ketemu dan kita semua bisa pulang segera ke tempat bu Kadimah. Kita makan malam.

JJJ

Kita semua duduk melingkar dengan penerangan lampu minyak, sambil membagikan makan, kita membahas rencana untuk esok hari. Besok perjalanan akan dimulai saat terang, menurut info yang diterima dari ibu Kadimah, perjalanan dari Gajeboh – Cibeo – Ciboleger memakan waktu sekitar 5 jam. Jadi bisa di estimasikan, kalau kita berjalan dari jam 6 maka sekitar jam 12 kita bisa sampai Ciboleger.
Gue menyendok nasi lalu melirik mie instan sebaskom. Cukup gak ya?Pikir gue. Malam ini kita semua makan dengan nasi, mie instan dan ikan asin. Sungguh sederhana sekali. Entah kenapa, mungkin karena sebelumnya gue udah berjalan selama 2,5 jam (gerimis pula) ikan asin yang gue makan jadi terasa enak, kalu digambarkan jadi berasa ikan asin banget. Apalagi dengan mienya, terasa banget mienya, dicampur nasi yang dimasak secara tradisional membuat makananan yang gue makan jadi gimanaa gitu, intinya gue berasa orang susah. Tapi jujur nasinya enak. Walau makanannya memang kurang nendang, tapi ada satu yang membuat makan malam ini jadi istimewa, yaitu kebersamaan kita saat itu.

Menu makan malam, malam ini: sebaskom mie, nasi, ikan asin dan sendok.
Ditengah keterbatasan lauk pauk, Mbak Heni tiba – tiba mengeluarkan sterofoam yang berisi Ayam goreng tepung.
“Wihhh, Saba*tuuuut*” teriak temen - temen gue, terkagum (Saba*tuuuut* adalah sebuah merek ayam goreng tepung deket kampus gue, makanya gue sensor).
“Nih, makan aja, ada ayam” Kata mbak heni menawarkan.
Tambahan ayam dan keadaan yang udah lapar membuat makan malam jadi naik derajat,  kalau kata pak Bondan: “mak nyuuss.” Tapi kalau kata gue: “MAK JEDARRR!”
Ditengah makan gue bertanya pada Qori, “ini beli apa bikin sendiri?”
“Ini bikin sendiri,” jawab qori.
Mendengar itu gue langsung berkata “wuih boy! silakan nih, masakan hasil racikan mahasiswa tata boga,” kata gue menawarkan anak – anak lain yang disambut meriah.
“Widih. Suatu kehormatan banget nih.” Kata Iyul, lebay.

Makan malam bersama membuat kita semua larut dalam keceriaan, kita serombongan  sepertinya tidak lagi memiliki batasan, yang mulanya kaku semuanya sudah cair dan membentuk satu ikatan pertemanan.

JJJ

Jam 20.00 suasana udah sepi, di kp. Gajeboh kesunyian sebenarnya udah dimulai ketika hari gelap. Ketika suasana udah sunyi, HP gak ada sinyal dan BBM gak atif, satu – satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah terlelap dalam malam.
Ruangan besar di dalam rumah yang sebelumnya menjadi tempat makan berubah menjadi sebuah ruang tidur. Ibu kadimah dengan baik hati membereskan tiker sebagai alas buat kita tidur.
“Udah bu, jangan repot – repot” kata gue dan irsyam mencegah ketika bu Kadimah membereskan tiker.
Ibu kadimah tertawa dan bilang “gak apa apa.”
“Jangan repot - repot” kata gue.
Ibu kadimah hanya terdiam lalu berlalu sambil meninggalkan ruangan yang sudah beralaskan tikar, gue pun terdiam lalu berbaring.
Ah, dibilangin jangan repot - repot jadi enak kan tuh.

Dengan beralasakan tikar seadanya kita semua mulai tidur, cuaca yang dingin menusuk membuat gue menyelimuti diri agar hangat, sementara gue terpaksa sarungan dengan sarung yang gue temukan di atas tas, entah sarung ini punya siapa. Bagaimana dengan Cardi? Cardi pemandu favorit kita udah duduk dipojokan ruangan, Cardi kadang tiduran di pojok ruangan bahkan terkadang gue melihat cardi bengong sambil nganga, untung gak ngences. Tapi akhirnya dia melepas romal dan mulai ‘berusaha’ tertidur.
Gak berapa lama temen gue yang berada luar mulai berdatangan.
“Wuih tidur?” Goda beberapa temen gue ke Cardi.
“Itu sarung gue ya Luk?” Tanya Andri ke gue yang sedang selimutan pake sarung.
“Oh, iya kali, mau pake?” Tanya gue, menawarkan.
“Oh, Gak apa - apa, pake aja,” kata Andri dengan baik hati.
Sungguh baik sekali Andri, ditengah dingin begini dia rela meminjamkan sarungnya padahal dia sendiri cuma pake kolor.
 Kita semua mengambil posisi tidur, disamping kanan gue ada Andri lalu sebelahnya Iyul dan sebelahnya lagi Irsyam sementara disamping kiri gue ada Jay sebelahnya lagi Arfan. Setelah mengambil posisi Iyul sesekali becanda dan menggoda Cardi.

Suasana sunyi, gue amati nampaknya semua udah terlelap tidur, kebalikan dengan gue yang masih belum bisa tidur, mata gue masih melotot sulit untuk terpejam, dinginnya malam yang membuat gue menggigil membuat rasa kantuk makin jauh dengan gue. Ketika gue mulai mencoba berusaha tertidur tiba – tiba terjadi sesuatu, mimpi buruk gue dimulai, mimpi buruk yang membuat gue susah terlelap.
NGRROOOOK.. NGROOOOOK
Suara ngorok terdengar, gue milhat asal suara, ternyata datangnya dari Iyul. Ya ampun gimana mau tidur gue? Suara ngoroknya persis disamping, pikir gue. Lama kelamaan, gue udah mulai terbiasa dengan suara ngoroknya Iyul, seakan suara itu hanya seperti gemericik hujan diluar, dengan terbiasanya gue terhadap suara itu lalu gue mulai melelapkan mata dan berusaha tidur. Sampai tiba – tiba.
Ngrooooo-ok..  Ngrooooo-ok.
Buseeet! Siapa lagi ini yang ngorok?!
Ditengah gemuruh suara ngoroknya Iyul, tiba – tiba terdengar suara ngorok yang lain, nadanya agak tinggi, kalau didengar dari arahnya ini berasal dari tempat tidur cewek. Gue inget banget asalnya dari pojokan ruangan, entah siapa yang ngorok, tapi yang jelas suara ini bikin gue gak bisa tidur. Malam itu gue bagai dinyanyikan melodi dan harmoni yang bertalu – talu dengan nada rendah dan tinggi.

Jam 21.30. Suara ngorok udah berhenti. Ujung jari gue terasa membeku, dingin banget. Gue lalu terdiam, teringat dengan temen gue Andri yang tidur gak memakai sarung, gue lihat dia tidur tanpa sarung demi gue. Kakinya menyilang menunjukan kedinginan yang dia rasakan. Ya ampun, manusia macam apa gue? Tega membiarkan temen kedinginan karena keegoisan gue. Perlahan lalu gue mulai lepas sarung, lalu dengan selembut mungkin gue sematkan sarung ke badan Andri, gue gak mau sampai dia terbangun gara – gara gue.
Gue lalu mengambil celana panjang di tas dan memakainya tanpa mengancingkannya, alakadarnya aja agar gue gak kedinginan malam itu.

Jam 22.00. Makin malam makin dingin, gue belum juga terlelap. Diiringi suara ngorok yang kadang datang dan pergi, gue mulai uring – uringan. Semua posisi tidur udah gue coba, dari A sampai Z, tapi tetep gue gak bisa tidur. Saat gue tiduran sambil menghadap kiri, gue gak bisa tidur karena silau lampu minyak. Lalu gue putuskan untuk tidur menghadap kanan, pas gue menghadap kanan, yang gue dapati ternyata lebih menyilaukan dari lampu minyak, yaitu adalah pemadangan muka Bang Jay yang lagi tidur, unyu – unyu banget.
Terus terang posisi menghadap muka bang jay bikin gue gak betah, bukannya gue benci atau gak suka sama Jay, tapi apa rasanya ketika lo sebagai seorang laki – laki, tidur dalam posisi yang menyamping dan di saat bersamaan lu memandangi muka seorang laki – laki lain. Jadi aneh perasaan, absurd. Rasanya gue kaya jadi seorang homo yang lagi mengamati pasangan homo gue di tempat tidur. So sweet banget jatuhnya.
Dear Jay, bukannya aku gak suka memandangi muka kamu yang lagi terlelap, tapi sebaliknya, justru aku takut malah jadi suka sama kamu. Maaf.
Malam itu gue putuskan tidur menghadap langit - langit.

Jam 22.30. Gue masih belum terlelap, tulang ekor gue sakit. Terus terang karena gue berbadan kurus, gue memiliki volume (maaf) pantat yang gak setebal orang berbadan gemuk, makanya tulang ekor gue selalu tertekan kalau tidur pada permukaan yang keras. Merasa keadaan gak membaik gue mengambil Catatan dewa dan buku sketsa di tas lalu mulai menulis dan menggambar. Lebih baik daripada gue terus mencoba tidur padahal gue gak bisa.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:


:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar