Gue jamin, cerita ketiga ini gak akan lucu, disini gue ingin kita lebih bisa memetik pelajaran dari sebuah perjalanan, karena sesungguhnya sebaik baiknya tulisan adalah tulisan yang memberi manfaat bagi setiap orang.
31
Desember 2012 – Menyambut Pagi di Kampung Gajeboh.
Gue membuka mata, melihat
langit – langit sebuah gubuk. Hah?! Dimana gue? Tahun berapa ini? Siapa emak
gue? Siapa?!
Mencoba mengingat - ngingat
kembali apa yang telah berlalu. Sekarang gue ingat, gue sedang berada di Baduy.
Ini tahun 2012 dan emak gue adalah J-Lo. Iya, emak gue emang J-Lo. Masalah buat
lo?
Sebuah suara membangunkan gue, awalnya
samar - samar lalu kemudian menjadi jelas, itu suara alarm. Gue lirik jam. Jam
03.00 pagi? Masih prematur banget bangun gue.
Menyadari masih ada waktu buat
terlelap, dini hari itu gue mencoba tidur kembali. Suhu yang dingin membuat gue
menggigil dan gak bisa konsentrasi tidur. Gue butuh kehangatan, bagaikan seekor
pinguin di kutub selatan yang kedinginan, gue langsung refleks merapat ke Andri
sambil terkadang memeluk kecil supaya terasa hangat. Tapi apa daya, ternyata
Andri yang kurusnya kurang lebih sama dengan gue gak bisa memberikan gue sebuah
kepuasan. Eh maaf, kehangatan maksud gue. Gue lalu melirik Jay, kepikiran buat
meluk Jay, tapi gue urungkan. Baru aja kenal masa udah main peluk – peluk aja,
bisa ditampar gue.
Gue: Aku butuh kehangatan darimu(peluk)
Jay: Ih?! Kamu nakal! (Nampar) PLAK!
Gue: Ouch!
Suara alarm yang masih mendengung
– dengung, membuat suasana malah menjadi ramai, makin lama teman gue yang lain
pun ikut terbangun. Usaha gue untuk kembali tidur pun sia – sia.
“Alarm siapa sih itu?” Ada
suara protes samar – samar.
Arfan terbangun, “jaket gue
mana jaket gue?” tanya Arfan mencari - cari jaketnya sambil berdiri. “Ada yang
lihat gak?”
Gue terdiam sejenak, lalu
dengan malas gue menjawab, “ada di gue.” Kata gue sambil merem - merem.
“Mana ki?” Tanya Arfan
penasaran.
Gue mengangkat pantat gue
sebelah, “nih..” Gue menunjukan jaketnya yang berada di pantat. “Gue pake
disini.” Kata gue.
“Ih, parah dipantatin,” protes
Arfan.
“Abis, tulang ekor gue sakit,”
gue membela diri. Semalam memang jaket Arfan gue pakai untuk membantali pantat
gue yang terlampau tipis. Gue bisa mengerti perasaan Arfan, mungkin dia merasa
tersinggung atau bahkan menderita. Tapi sepertinya jaket Arfan lebih merasa
tersinggung dan menderitaan karena semalaman gue pantatin. Kalau jaket Arfan
memiliki nyawa, mungkin semalam malaikat Izrail udah mencabut Nyawanya.
Jam 04.00. Setelah arfan
mengambil jaketnya gue masih berusaha terlelap walau suara alarm masih mendengung
– dengung yang sekarang asal suaranya datang dari beberapa ponsel. Di dapur yang hanya bersebelahan dengan ruang tidur
terdengar suara Ibu kadimah yang sedang sibuk memasak nasi, teman – teman gue yang lain juga sibuk dengan
barang – barangnya menambah rame suara yang gue dengar.
Rentetan suara dan aktifitas di
pagi hari akhirnya membuat gue harus menyerah. Gue terbangun sepenuhnya, cuma
Iyul dan Andri yang masih bisa kokoh tertidur, seakan – akan gak ada apa – apa.
Kalau sampai ada kebakaran gue yakin mereka berdua yang pertama tewas.
Gue menggaruk – garuk badan. Gila gak betah juga belum mandi.
“Fan, mandi yuk!” kata gue
mengajak Arfan mandi di pagi buta.
“Yaudah yuk.”
Gue dan Arfan lalu mencari peralatan
mandi di tas masing – masing. Gue cuma bawa sikat gigi, gak ada sabun. Ini
karena gue berpikir di baduy pemakaian sabun dilarang. Ternyata enggak, itu
hanya berlaku di baduy dalam. Kalau baduy luar masih diperbolehkan.
“Eh, mau mandi ya? sabunnya ada
gak?” Santi bertanya ke gue dan Arfan.
Nah,
pas banget.
“Gak ada,” kata Gue dan Arfan.
Santi lalu mencari sesuatu di
tasnya dengan bantuan senter, “entar ya Santi cari dulu,” tak lama Santi lalu
mengeluarkan sebotol sabun cair.
“Santi gak mandi?” tanya gue.
“Gak, kan kemaren udah ka.”
Jawab santi mengingatkan kejadian kemarin.
“Oh iya, puas banget kan
mandinya, sampe ilang segala kan,” jawab gue menyindir Santi.
“Ih, kak luki mah seneng banget
kalo udah nyindir – nyindir begini,” protes Santi sambil manyun. Buat gue manyunnya Santi malah
membuat mukanya nampak lebih bulat dari biasanya.
Pagi yang damai, langit tampak
cerah tanpa awan. Dengan dibantu senter yang diikatkan di kepala seperti lampu penambang
emas gue berangkat bersama Arfan ke pancuran di tepi jalan masuk kampung. Di jalan
gue bertemu dengan serombongan perempuan dengan baju yang seragam muncul dari
arah kali. Mereka sepertinya baru selesai mandi, terlihat dari handuk di kalungkan
di leher serta rambut mereka yang basah – basah gimana gitu.
Pagi banget mandinya, pikir
gue. gue lihat jam, jam setengah lima? Tapi gak heran juga, mungkin dengan
ruang mandi yang sebegitu terbuka, keadaan gelap akan dianggap lebih memberikan
kesan aman ketika mandi. Karena saat subuh keadaan masih relatif sepi dari aktifitas.
Jadi kemungkinan mereka terlihat atau ‘tak sengaja’ terintip saat mandi oleh orang
– orang yang lewat di sekitar kali lebih kecil. Dan itu artinya gue terlambat. Sayang
sekali.
Gue tiba di pancuran, tempat
ini seperti sebuah lembah kecil yang sekitarnya dipagari oleh tanah, diatasnya
ada hutan bambu sementara dibawahnya mengalir sebuah aliran air yang bermuara
langsung ke sungai. Di pancoran ini ada sebilah bambu yang berdiameter sekitar
10 cm yang mengeluarkan air yang jernih dan dingin.
“Kita ganti - gantian ya luk,
nanti yang satu mandi, yang satu lagi nerangin pake senter, gantian aja.” Kata
Arfan menjelaskan.
Gue setuju, “ya udah lu dulu
mandi deh, gue senterin. Gue nanti aja, masih dingin banget.” Kata gue sambil
menggigil.
Gue mengencangkan senter yang
ada di kepala gue, gue atur arah cahayanya agar mengenai Arfan, jadi dengan
begini satu – satunya cara menerangi Arfan ketika mandi adalah dengan menatap
Arfan. Ya, cukup menatap Arfan.
Arfan lalu menggantungkan
senternya di sebilah tongkat bambu yang tertancap di dinding tanah. Perlahan
tapi pasti Arfan mulai berusaha telanjang di depan gue, dia membuka bajunya
lalu disusul dengan celananya, sementara gue hanya bisa terdiam sambil nganga
dikit melihat Arfan menanggalkan pakaian. Sampai Akhirnya Arfan menyisakan hanya
celana dalam menempel di badannya. Dari sini, mata gue udah mulai menjadi burem,
gak gue sangka di pagi buta ini gue harus melihat pemandangan laki – laki tak
berpakaian secara live.
Ya
tuhan, apa dosaku?!
Arfan memulai mandi, dinginnya
air membuat dia terkadang menggigil kedinginan, tapi entah mengapa buat gue
menggigilnya Arfan malah lebih mirip menggelinjang dan entah kenapa gue jadi
gak fokus.
Dengan kewajiban untuk
‘menerangi’ Arfan yang sedang mandi, hampir semua gerakan Arfan gak luput dari
pandangan gue, dari mulai dia menggosok badan, gosok paha, gosok tangan, perut,
dan menggosok bagian lain yang gak mau gue sebutkan disini. Terimaksih karena
pengawasan gue yang setia ini, dari sini mata gue mulai terserang gejala
katarak.
Gue bertanya dalam hati: ‘Laki
– laki macam apa gue yang secara terang terangan menonton seorang laki - laki
lain mandi?! Dan laki - laki macam apa Arfan yang pasrah dilihat oleh laki –
laki lain ketika mandi?! Jadi? Laki – laki macam apa kita?!’
Jika tiba – tiba ada orang tak
dikenal pagi buta itu melihat gue berdua, bisa dipastikan dia akan mengira gue
dan Arfan sedang shooting iklan sabun,
gue jadi seorang kameramen dan Arfan menjadi bintangnya.
Kurang hot
nih, gimana sih?! Mana Ekspresinya?! Ekspresi lo! Mana ekspresi looooo?!
Sepenuhnya menyadari jika tidak
segera dihentikan gue akan mengalami buta temporer, gue langsung memalingkan muka
dan mulai menggosok gigi. Sambil gue menggosok gigi, Arfan menyelesaikan mandinya
dan mengeringkan diri dengan handuk yang gue berikan.
“Ki. jangan nengok ya, gue mau
lepas celana,” berkata Arfan.
Gue yang merasa terpanggil lalu
reflek melihat ke arah Arfan yang sedang berbalik dan membuka celana. Ketika
gue melihat Arfan, sungguh bertapa ‘beruntungnya’ gue karena telah melihat
sebuah belahan walau hanya setengahnya. Mirip buah persik. Dan itu adalah
belahan pantat terindaah yang pernah
gue lihat. Saking indahnya pemandangan belahan itu telah mencederai indra
penglihatan gue. Panas! Panas!
“Woi!” Teriak gue dan langsung
berpaling,
“Eh!” teriak Arfan kaget,
teriakannya hampir bersamaan dengan teriakan gue.
“Idih! parah lu,” kata gue
protes ke Arfan.
“Kan gue udah bilang jangan
nengok.” Jawab Arfan sambil ketawa geli.
“Ya elu ngomong sih, makanya
gue reflek.” Protes gue.
Setelah gue berpaling dari Arfan,
dia lalu memakai pakaiannya, dan adegan harus berganti. Gue mulai membuka baju gue.
Gue yakin dari sini indera penglihatan
Arfan sudah mulai kabur.
Jam.5.48. Andri dan Iyul keluar
rumah dengan muka yang masih bengkak abis bangun tidur. Mereka lalu bergabung
dengan gue, Arfan, Kak Ari, Rere dan Santi sedang makan roti di bale.
“Woi, baru bangun.” Kata Arfan
sambil melapisi rotinya dengan susu cair.
“Woi foto dulu yul foto,” Arfan
mengarahkan kamera SLR ke Iyul dan Andri.
“Fan, belum mandi fan ah” Iyul
tampak menolak difoto, Andri juga nampak menolak, tapi anehnya walau menolak
mereka berpose ketika kamera di arahkan.
“Gak apa – apa,” Arfan membujuk
lalu memotret.
Ckrek
Setelah di foto Andri dan Iyul
berhenti berpose. Ini adalah contoh dimana mulut dan raga tak seimbang.
“Ayo Car,” Iyul mengajak Cardi
yang sedang duduk di depan rumah.
Cardi terdiam sambil menatap
Iyul.
“Ayo, mandi bareng, supaya
seger,” ajak Iyul.
Tidak perlu menjawab pertanyaannya,
Cardi langsung mengikuti Andri dan Iyul untuk pergi mandi.
Pagi hari di kampung Gajeboh begitu
eksotis, gue berdiri di atas sebuah jembatan unik yang hanya diikat oleh ijuk
yang terletak di ujung desa, jembatan ini terdiri dari sambungan bambu - bambu
yang menjulang sampai atas pohon. Indah, begitu hijau dan indah ketika
memandang ke langit - langit jembatan, diatas sana gue melihat dedaunan yang
ditembus cahaya pagi, terlihat seperti bintang berkerlipan.
Di jembatan ini terdengar jelas
suara sungai mengalir yang terkadang berselingan dengan suara serangga diantara
hijau pepohonan disana – sini. Suara teriakan anak – anak yang mandi disungai
lalu menyita perhatian gue, tingkah mereka membuat gue tertawa, mereka
telanjang dan berenang mengikuti arah arus sungai lalu berenang kembali melawan
arus sungai, lalu gue melihat gelondongan kayu yang terapung disungai,
gelondongan kayu itu bergerak mengalir mengikuti arus, seakan sudah mengerti
kemana mereka akan menuju.
Gue tertegun, melihat
gelondongan kayu ini membuat gue jadi teringat sesuatu. Gue ingat dengan jelas,
suasana hati gue sebelum kesini selalu gelisah tentang mimpi dan tentang
bagaimana gue harus menempuh arah. Apakah gue akan persis seperti gelondongan kayu
ini yang hanya pasrah mengikuti arus dan tahu pasti tahu kemana arah tujuan.
Atau apakah gue harus melawan arus dengan konsekuensi dunia yang akan
menerjang, menantang dan menguji gue. Arah mana yang harus ditempuh? Sementara terkadang
mimpi berada di mata air bukan di lautan.
Di sini, di tempat ini gue
berhasil sejenak melupakannya, leburan keindahan ini seakan telah berhasil mencairkan
kegelisahan gue. Rasanya seperti seseorang merindu, entah rindu apa. Leburan
keindahan ini juga seperti sedang membisikan dan menyadarkan gue tentang
sesuatu. ‘Kemanapun kita pergi, Allah selalu akan memberikan nikmat-Nya.’ Terimakasih Tuhan. Melalui semesta, alam dan
cinta. Kau telah berikan nikmat ini. Subhanallah.
Oke, Cukup melankolisnya. Kembali
ke pagi hari di kampung gajeboh. Setelah berdiri di jembatan dan foto bareng
teman – teman yang lain. Kita befoto mengambil beberapa pose lengkap bersama
Cardi.
Eh?
Cardi? bukannya tadi dia ikut mandi?
Gue juga awalnya heran dengan
keberadaan Cardi disini, lalu sampai gue bertanya ke Santi gue jadi gak heran. “San,
parah banget kalian, si Cardi ini tadi mau mandi, kok malah diajak kesini?”
“Ih, apa kaka? Orang dia yang
ikut kita foto – foto,” Santi membela diri. “Kita gak ngajak, dia ikut sendiri
nyamperin kita.”
Nah loh? Cardi sekarang resmi jadi
banci kamera. Cardi yang awalnya pendiam, memang sekarang malah selalu berpose
dan tersenyum kalau diarahkan kamera. Emang sih posenya gak se-ekstrem alay –
alay yang kalau berpose begini: ‘kamera berada di atas mengambil sudut 45
derajat ke bawah. Sambil mengkondisikan muka seimut mungkin. Memonyongkan mulut dan ujung telunjuk
berada di bibir.’ (jangan di peragain)
Kok gue tahu banget posenya? Iyalah.
Gue pernah pose kaya gitu, tapi sekarang gue udah tobat setelah sebelumnya foto
alay gue yang gue unggah di facebook menuai protes dan kecaman serta hinaan
dari berbagai pihak . Eh? Kenapa curhat?!
Tapi sepertinya keadaan Cardi
yang menjadi seperti ini juga merupakan campur tangan gue. Jadi ketika sore di
kampung gajeboh, kita berfoto dengan cardi, berdua berdua, kita semua berpose
bersama cardi bergantian.
“Cardi.” Panggil gue.
Cardi memandang gue. Gue lalu
menunjukan foto hasil jepretan kamera ke Cardi. Saat Cardi melihat mukanya
muncul dalam kotak kecil layar LCD kamera dia langsung heboh.
“Eh.. Eta Cardi! Itu Cardi!” teriaknya histeris. Mukanya begitu serius memperhatikan,
lalu dia melihat gue. Nyengir. Gue lalu menunjukan fotonya yang lain.
Gue geser foto selanjutnya.
“Eh” Cardi bereaksi.
Foto selanjutnya lagi.
“Ah..’
Selanjutnya lagi.
“Oh...!”
Gue bisa membaca pikirannya saat
itu, mungkin dia berpikiran kira – kira seperti ini: ‘Eh.. Itu gue kan? Lo liat
gak? Itu guee! Iya itu gue! Ya ‘kan? Itu gue?! OMG itu gueee...’ Langsung histeris.
Begitulah ceritanya. Dan entah
kenapa, setelah kejadian itu, ketika kamera diarahkan kepada Cardi, dia akan
berusaha untuk terlihat fotogenik.
Contohnya seperti bisa anda lihat dibawah:
Contohnya seperti bisa anda lihat dibawah:
| Ini cardi pas bingung bagaimana memperagakan simbol 'Peace." Malah mirip Kapten Hook |
Ya. Kembali ke Suasana Pagi di
Kp. Gajeboh. Gue turun ke sungai. Di sungai gue menginjakkan kaki di dasar
bebatuan di tepian sungai, airnya dingin. Dari sini gue melihat anak kecil
telanjang sambil mandi dan bermain air. Sesekali dari bawah sini juga gue
melihat warga adat baduy datang dan pergi menyebrangi jembatan sambil
menggotong hasil bumi berupa pete dan yang lain - lain. Pagi yang Asik dan penuh cinta. Seperti kata mahatma gandhi: Dimana ada kehidupan disitu
ada cinta.
BERSAMBUNG....
Ya, gue tahu, kok bersambung - sambung terus? Tapi emang ceritanya banyak. Gue aja bingung, kok jadi kayak novel, ya?
Ya udah lah anggap ini sebagai hadiah dari gue berupa cerita berseri gratis yang bisa dibaca di saat waktu luang.
| Kedinginan, brrr. |
| Cardi, awas jatoooh! |
BERSAMBUNG....
Ya, gue tahu, kok bersambung - sambung terus? Tapi emang ceritanya banyak. Gue aja bingung, kok jadi kayak novel, ya?
Ya udah lah anggap ini sebagai hadiah dari gue berupa cerita berseri gratis yang bisa dibaca di saat waktu luang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar