Minggu, 20 Januari 2013

Beliin Mamah: Bubur, Ikan Mas dan Tempe.

20 Januari 2013
Jam. 7.00.
“Ki, beliin Mamah bubur deh, ya.” Emak meminta gue membeli bubur.
“Gak pake sambel, kan?” Tanya gue.
“Iya, Cepet ya.”
Gue lalu berjalan keluar. Tapi Emak memanggil gue.
“Eh, ki.. Ki!” Panggil Emak,  “sekalian beli tempe juga ya, gak ada tempe ternyata.”
Gue pun berlalu ke kejauhan. Namun baru sampai diruang tamu Emak gue memanggil lagi.
“Eh.. Ki!” Panggil Emak.
Gue terdiam.  Lalu berbalik badan. “Apa, Ma?”
“Sekalian deh, beliin ikan Mas hidup. Se-kilo”
Gue mengangguk.
“Kalau gak salah sih sekarang 27 (ribu) perkilonya, tawar aja 25 (ribu). Tapi kalau sampai ada apa – apa, bilang aja udah biasa sama Mamah.”
Kalau ada apa - apa? Maksudnya ‘kalau ada apa – apa’ itu apa? Apa maksudnya adalah pas gue tawar – menawar dengan penjual Ikannya, gue nawar kemurahan dan tiba – tiba penjual ikannya langsung emosi, marah - marah. Matanya melotot – lotot, badannya langsung jadi gede, besar berotot dan warna kulitnya berubah jadi hijau. Terus dia ngamuk -  ngamuk banting – banting toko.
Dan ketika hal buruk itu semua terjadi, gue tinggal diam dan menyebut nama: ‘Mamah.’
Gila! Ini pasar atau apa?
Kembali ke cerita. Gue berjalan keluar rumah dan bersiap berangkat setelah mendapatkan intruksi dari Emak. Gue tiba - tiba terdiam, kepikiran sesuatu. Lalu kembali lagi ke dalam rumah. “Belinya di tengah pasar, ma?” Tanya gue gak yakin.
“Iya,” kata emak gue sambil duduk di meja makan.
“Entar kalau nyasar gimana?” Tanya gue. Berjalan ke dalam pasar sendirian adalah hal yang jarang gue lakukan, biasanya gue ke pasar berdua dengan Emak. Kalau cuma sendirian, gue takut nanti tiba – tiba kehilangan arah dan tersesat. Lalu Emak gue harus menelpon tim SAR untuk mencari gue. Bukan karena gue yang hilang tapi karena ikannya belum datang.
“Ah, kamu,” Emak gue menghela nafas, memunculkan muka datar. "Nih, tinggal masuk ke pasar..." Emak lalu menjelaskan arah menuju penjual ikan dan jalan – jalan di koridor pasar beserta toko – toko didalamnya lengkap dengan nama penjual – penjualnya. Sementara gue hanya memperhatikannya dengan begitu seksama. “Udah gitu doang. Ngerti kan? deket kok.” kata emak gue berusaha meyakinkan gue.
“Ah..?” Gue bereaksi bingung. Cengo, mulut nganga. Ngomong bahasa apa emak gue barusan?
“Ah, ya udah lah. Pokoknya kamu keliling – keliling pasar aja, nanti juga ketemu. Masa masih nyasar aja?”
Gue memang orang yang selalu nyasar. Entah kenapa. Buat gue jalan – jalan yang memiliki bentuk sama seperti di Mall - mall atau pasar - pasar atau yang berbentuk koridor itu bisa dengan mudah membuat gue bingung. Bahkan gue pernah berjalan di komplek perumahan dekat rumah yang bentuk rumah sama semua. Dan tepat sekali, gue nyasar. Saat itu gue langsung menyadari kalau gue adalah seseorang yang selalu salah mengambil jalan.
Setelah mendengar penjelasan emak gue yang gue kurang ngerti, gue berlalu menuju depan rumah dan berangkat. Misi gue pagi hari ini adalah:
1.       Membeli bubur.
2.      Membeli Tempe dan,
3.      Membeli Ikan Mas.


Intinya membeli kebutuhan pokok di pasar. Sebuah pekerjaan rumah yang gak biasanya di lakukan oleh seseorang bertampang macho kaya gue. Memang, berlama – lama di rumah membuat  gue terbiasa dengan kegiatan ibu rumah tangga. Persis seperti anak gadis. Tapi bukan gue menjadi seperti anak gadis yang melambai - lambai maksudnya. Tapi gue terbiasa melakukan hal - hal rumah tangga, seperti memasak contohnya.
Gue terbiasa membantu Emak gue bikin beberapa masakan, seperti perkedel kentang, perkedel jagung, sayur lodeh atau bahkan cuma ngulek bumbu dan sambel. Sesuatu yang gak umum dilakukan oleh anak lak – laki. Walau masih yang ringan - ringan, hampir semua anak laki – laki di keluarga gue bisa memasak. Ini terjadi karena sebelumnya di rumah gue gak ada anak perempuan.


Kembali ke Misi Gue Hari ini, gue berjalan masuk pasar. Setelah di dalam gue lalu belok kanan, sesuai instruksi Emak gue. Lalu gue belok kiri. Kanan lagi, ada gang lurus dan gak berapa lama tibalah gue. Ditempat pedagang ayam. Loh? Kok pedagang ayam? Tanya gue dalam hati, bingung. Pedagang Ikan dimana?!
Gue kembali memutar jalan, gue ke kanan lalu ke Kiri. Gue terdiam. di depan gue malah ada toko yang menjual aneka plastik. Secara mengenaskan gue nyasar.

Setelah berkeliling, akhirnya gue menemukan pedagang Ikan. Gue melihat jejeran ikan yang telah mati tak berdaya, mata mereka menatap gue. gue tatap balik. Gue kedipin, tapi gak ada reaksi. Mereka semua telah mati, menyeramkan.
“Mau beli ikan a?” Seorang ibu –ibu bertanya ke gue. Gue rasa dia adalah penjual ikannya.
“Iya, Ini mau beli ikan mas.” Jawab gue.
“Ikan mas hidup?” Tanya ibunya.
“Iya hidup,” kata gue. “Sekilo ya bu.”
Sang ibu lalu mengubek ngubek sebuah Bak dan mengambil beberapa ikan. Karena gue sedikit mengerti bahasa ikan. Ikan tersebut berteriak “Oh, tidaaaaak – tidaaaaaak.”sambil memutar – mutar bak.
Gue yang menyaksikan pembantaian ini hanya bisa terdiam. Sungguh mengerikan sekali.

Setelah membeli ikan, gue membeli tempe dan bubur. Lalu gue kembali ke rumah.
“Kamu jalan kaki?” tanya Emak gue, heran.
“Iya mah,” jawab gue. Gue sendiri merasa kurang bergerak akhir - akhir ini. Makanya gue lebih memilih jalan kaki dari pada mengendarai motor. Hemat energi juga sekalian.
Emak gue lalu mengambil plastik bungkusan yang ada di tangan gue. Tiba – tiba bungkusan itu bergerak – gerak.
“Eh? Ikannya Hidup?” tanya emak gue, heran.
“Iya, kan hidup.” Gue terdiam. “Kan..?”
“Kenapa gak minta di potongin, di bersihin gitu.” Tanya Emak gue.
“Yaa.. Mamah gak bilang.”
“Iya, Mamah juga tadinya mau manggil kamu, eh kamunya udah jauh. Jalan kaki sih.”
“Terus gimana dong?” Gue merasa bersalah. Sebagai seorang anak gue merasa gagal.
“Ya udah gak apa – apa.” Emak gue tersenyum. Mirip smilie à :)
Gue lega. Mamah memang orang yang baik. Lagi pula gue juga gak tega melihat seekor ikan dipotong – potong di depan mata gue, apa lagi ikan Mas kan masih tergolong unyu – unyu. Gue bukan orang yang sadis. Melihat ikan yang tergeletak saja udah bikin gue gak tega.

Gue memakan ikan mas goreng dengan lahap. Ternyata gue salah, ikan mas bukan cuma unyu – unyu, tapi juga enak buat dimakan. Rasa iba gue hilang karena rasa lapar. Pagi ini gue langsung menyibukakn diri dengan tulis - menulis. Mudah – mudahan setelah berbakti kepada Mamah, gue bisa dilancarkan menulisnya dan diterima disisi penerbit ternama. (Rekomendasi: Baduy trip)

2 komentar:

  1. ceritamu kurang di 'pesan'. baca judul cerita kamu tadinya saya berharap ada suatu pesan tersembunyi dari sekedar perjalanan membeli bubur, tempe, dan ikan.
    kamu ga ceritain proses membeli bubur dan tempenya gimana, kamu cuma fokus ke ikan. kalo kaya gitu, mending cuma cerita ke ikan aja.
    luki bagus buat alurnya, cuma kosong sama pesan doang. :)
    semangat ya, Luk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya emang kalau di pikir kerasa aneh ya, gak ada benang merah, hehe Makasih masukannya,wah ini namnay konsul sama penulis senior.. hihi

      Hapus