Senin, 07 Januari 2013

Baduy Trip Part I: Perkenalan di bingkai kecil dunia.


Di penghujung tahun 2012 kemaren gue bareng temen kampus abis cultural treking di baduy, Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Meskipun gue adalah orang Kabupaten Lebak, sebuah kabupaten dimana Baduy berada, kunjungan gue ke baduy kemaren adalah yang pertama kalinya. Makanya gue begitu excited banget kemaren dan setelah gue sampe, ternyata emang itu adalah perjalanan yang berkesan abis. Dari mulai perjalanan awal, kenalan dengan kawan baru, eksplorasi di baduy, sampe di PHPin orang baduy. Semuanya memiliki kesan, sebuah cerita yang sangat menyenangkan. Maka dari itu, dengan senang hati gue akan membagi cerita perjalanan ini dengan kalian pembaca gue yang setia (entah pembaca yang mana?) dan beginilah ceritanya.

30 Desember 2012 – Sebuah Perkenalan di bingkai kecil dunia.
Perjalanan gue dimulai dari rumah gue di Maja, sebuah desa kecil yang berjarak 70 km dari Jakarta. Rencana gue hari ini adalah bergabung dengan rombongan kampus di kereta, mereka udah berangkat dari Jakarta dari jam setengah sembilan, Sementara gue mengunggu kereta yang mereka tumpangi dari st. Maja sekitar jam sebelas siang. Gak menunggu waktu yang lama kereta yang mereka tumpangi pun datang, gue bergegas naik menerobos barikade manusia di pintu menuju gerbong nomor 5 tempat kita janji bertemu. Kereta ini penuh sesak dengan penumpang, gue terpaksa harus berjejalan sambil mencari temen sekampus gue sambil melongokan kepala. Gak tau deh udah ada berapa jenis bau ketek yang gue cium saat itu.
Dimana ya? Tanya gue dalam hati.
Gak lama mencari akhirnya gue ketemu mereka, pas ketemu rombongan kampus gue, mereka udah keliatan bermandikan keringat, basah maksimal. Gue cuma bisa ketawa liat mereka, delapan anak manusia yang mencari sebuah petualangan malah harus memulainya petualangannya lebih awal dengan letih keringat. Jumlah mereka 8 orang mereka terdiri dari 7 mahasiswa yaitu Andri, Arfan, Ires, Irsyam, Rere, Iyul/Rachmat dan Santi serta bersama mereka ada satu kakak kelas gue yang udah menjadi seorang karyawan yaitu Kak Ari dan terakhir adalah gue sendiri Harry Lucky, seorang manusia biasa yang tersesat dalam kefanaan dunia (jiaah). Tujuan kita adalah stasiun Rangkasbitung, satu - satunya tempat dimana kita bisa melanjutkan perjalanan menuju kampung adat Baduy via kendaraan umum, dari st. Rangkasbitung kita melanjutkan perjalanan menuju terminal Aweh, yang selanjutnya akan dilanjutkan dengan menumpang Minibus jenis Elf yang akan membawa kita ke desa Ciboleger. Jadi Rute kira - kira adalah Jakarta – Rangkasbitung – Ciboleger.

Sampai di terminal Aweh sekitar jam 11.30, sementara jadwal keberangkatan minibus yang akan kita tumpangi menuju Ciboleger adalah jam 12.30, jadi kita punya waktu sekitar satu jam. Gue beserta rombongan masih bisa memanfaatkan waktu dengan mempersiapkan barang bawaan, shalat dzuhur dan makan siang dari bekal yang gue bawa sebelum berangkat. Ketika kita siap berangkat, gue gak membayangkan mobilnya akan begitu penuh sesak, jadi gue bersama 3 orang teman gue yaitu Andri, Irsyam dan Iyul lebih memilih naik diatas mobil. Ya, diatas mobil! Kalau ada peng-kelasan maskapai di minibus ini, mungkin bisa diibaratkan penumpang yang duduk didalam ada di kelas bisnis ekonomi sementara kita yang duduk diatas ini masuk di kelas VUP (Very Unimportant People). Gak safety banget men, gue udah kaya barang!

Duduk dikelas VUP bukan hal yang mudah, posisi duduk yang benar akan mempengaruhi kenyaman berkendara kita. Insting bertahan hidup sangat dibutuhkan disini, kenapa? Karena supir gak nyediain pramugari bahkan kernet buat ngejelasin hal - hal yang harus dilakukan apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Jadi gue saranin buat pemula yang belum punya pengalaman jangan pernah duduk diatas.
Bersama gue dan 3 temen gue ada dua orang lain yang duduk diatas, tujuan mereka sama, arah Ciboleger, satu orang umurnya masih muda sekitar 25 tahunan dan duduk disamping kiri Iyul lalu satu orang lagi yang juga masih muda duduk di depan bareng Irsyam, umurnya kira - kira 45 tahunan.
Pemuda yang berada di samping kiri Iyul ternyata asli Cibolerang, dengan pengetahuan dan pengalamannya mengenai kampung halamannya ia menjadi seorang narasumber dadakan buat kita. Sayangnya kita belum sempat berkenalan dengan dia, entah kenapa. Karena gue gak tahu nama pemuda ini jadi kita sebut saja dia ‘Bunga’. Iyul banyak bertanya kepada Bunga, pertanyaannya dari durian sampai suku baduy, terkadang sampai bertanya apakah pernah ada kejadian penumpang yang jatuh dari kelas VUP, mendengar pertanyaan yang bertubi – tubi Bunga gak terlihat keberatan menjawab, bahkan menurut gue perbincangan Iyul dan bunga masuk ke tahap yang lebih serius.


Mesin mulai menderu, perjalanan kita dimulai dengan hamparan sawah yang menari- nari di kiri kanan jalan yang indah. Ditengah perjalanan gambaran perbukitan terlihat jelas di depan gue, seakan bukit itu sengaja menggoda dengan memperlihatkan kemolekannya, terkadang dalam perjalanan juga kita terbawa oleh terpaan angin yang membuat mata merem melek. Tapi sayangnya selama perjalanan ini juga gue berasa menjadi sebuah kecrekan, badan gue digoyang dan diguncang mengikuti alunan mobil minibus yang gue tumpangi, kadang ketika mendapati sebuah tikungan tajam yang membuat mobil menjadi miring, gue dan penumpang kelas VUP lain harus berpegangan dengan erat kalau gak nanti jatuh, sesekali gue dan teman - teman gue bahkan berteriak histeris, ‘wah-wah-wah-wah-waaaaah!’ namun setelah itu kita malah tertawa heboh, rame. Penumpang lain terkadang tertawa mentertawakan reaksi dan tingkah kita semua yang terkesan norak seolah kita adalah anak kecil yang baru naik wahana halilintar.
Karena kata Iyul guncanganya seperti sebuah perahu yang diterjang tsunami, Andri berteriak gurau.
“Ombak laut besar kapten!” Teriak andri sambil tertawa.
Gue menyaut, “lambung kapal pecah Kapten!”
Saat itu bunga hanya bisa tertawa melihat reaksi kita semua.
Kita semua puas mentertawakan diri diatas, sampe perut gue sakit karena banyak ketawa, sungguh gak rugi gue duduk diatas.

Temen gue Irsyam bertanya - tanya, pertanyaannya adalah : ‘Kalau buat kelas VUP gimana nanti ngomongnya kalau mau turun di tengah jalan? Emang kedengeran apa?’ Tapi gak butuh waktu lama sampai pertanyaan itu terjawab, di depan gue ada seorang bapak – bapak yang sepertinya mau turun. Dia melakukan hal yang standar, yaitu mengetok – ngetok atap mobil.
TOK! TOK!
“Kiriii.” Kata bapak depan gue dengan nada yang agak di tinggikan.
Tiba – tiba dari dalam mobil ada suara menjawab yang gue rasa adalah suara si supir. Katanya, “siapa disana?”
“Kiri baaang,” teriak bapak – bapak tadi dengan nada semakin tinggi.
Dari dalam mobil si supir pun menjawab “Paswordnya pak?”
Dikira kuis?! Oke gue cuma bercanda. Jadi gue kasih tahu caranya, kalau lu berada di sebuah atap dan mau turun, maka hal pertama yang harus lu lakukan adalah cukup dengan hanya mengetok atap dan jangan pernah mencoba teriak ‘kiriii!’ Cukup diketuk dengan begitu secara otomatis mobil akan berhenti.
Loh? Kenapa jangan teriak Kiri?
Ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan masuknya benda asing ke mulut lo. Bayangin kalau tiba tiba ketika lo sediang teriak ternyata ada durian yang jatuh dan masuk kemulut lu yang membuat saluran nafas lo tersedak.
Teriakan lu yang seharusnya, ‘KIRIIIII.’ Karena kemasukan durian malah menjadi teriak: ‘KIRIIIIWOOOK-HUOK-HUOK!’ sambil tersedak dan mata yang melotot - lotot.
Jadi ingat! Cukup diketuk, jangan dielus juga.

Kembali ke perjalanan. Diujung perjalanan yang panjang dalam perbincangan dan kecerian, tiba – tiba bunga menunjuk sebuah bukit dengan pemukiman yang terpancang sebuah tower sesuatu. Dia berkata “disitu tujuan kita, Ciboleger, itu yang ada towernya.”
“Yang tower itu bang?” Tanya iyul.
“Iya, itu udah deket.” Jawab bunga.
Gue dan teman – teman gue pun melihat arah telunjuk bunga. Disana terletak sebuah pemukiman dengan tower tertancap yang seakan menjadi pertanda bahwa manusia pernah menginjakan kaki disana dan berhasil menaklukan perbukitan ini.
Melihat bukit itu, gue langsung reflek menunjuk bukit itu dengan telunjuk gue. Lalu secara perlahan gue menarik jari telunjuk  gue ke arah mata sampai akhirnya berada sekitar 5cm didepan muka gue. Gue berkata “Sekarang, bukit itu, ada disini, gak akan lepas dari pandangan gue.” Sumpah gaya gue udah bagaikan Zafran di Novel 5 cm, lalu gerakan gue pun diikuti teman teman gue yang... *ciaaaah,* udahan ah, lebay. Pokoknya si Bunga cuma ngasih tahu kalau bukit yang didepan itu udah Ciboleger.

J J J

Selepas sampai di terminal desa Ciboleger, kita berpisah dengan Bunga. Disinilah gue dan temen gue menginjakkan kaki, di sebuah desa yang bernama desa Ciboleger, sebuah desa yang hanya menjadi tempat singgah sebentar sekaligus tempat terakhir gue naik kendaraan bermotor. Gue berdiri melihat melihat sekeliling sejenak lalu berlari kecil mencoba mencari tempat berteduh, karena memang sesaat sebelum mobil tiba di Ciboleger gerimis turun.
Gue dan rombongan berteduh di sebuah warung kopi kecil. “Bu Numpang neduh ya.” Kata temen gue.
“Oh iya, silakan.” Kata ibu yang punya warung.
Gue duduk lalu terdiam dan mengamati keadaan terminal Ciboleger. Terminal Ciboleger lebih mirip sebuah lapangan parkir karena ditempat ini terparkir mobil – mobil dengan berbagai tujuan, ditengah terminal ada sebuah patung keluarga petani yang mengangkat tangannya keatas sampai - sampai keteknya si patung kelihatan, anehnya keteknya mulus. Pose patung itu seperti memperlihatkan bahwa mereka gembira menyambut gue dan temen – temen di Ciboleger (Geer banget gue), tapi sayang tempat ini terlihat tidak terawat, sampah berada dimana – mana, terkadang gue melihat rumput tinggi tumbuh liar di sana - sini.
Pemandangan tak terawat terminal kontras dengan pemandangan barisan bukit di balik terminal, seakan membuat gue gak sabar untuk menjelajahi perbukitan itu. Barisan bukit itulah yang akan gue taklukan nanti, karena dari sini perjalanan gue dan teman – teman akan dimulai dengan berjalan kaki. Pikir gue memantapkan diri.
Sambil berteduh, gue serta rombongan beristirahat dan mempersiapkan semuanya sebelum menjelajah, ada yang ngopi ada yang nyari toilet dan beberapa dari temen perempuan mengganti baju di tempat ibu warung. Ibu pemilik warung kopi orangnya baik, dia tak keberatan menceritakan cara menjelajahi kampung adat baduy ketika ditanya soal pemandu bahkan dia memberikan beberapa tips perjalanan serta  pengarahan lalu mencarikan kita seorang pemandu.
Sebelum memulai perjalanan, gue mengganti celana gue dengan sebuah kolor, karena ini adalah musim hujan, jalanan menuju barisan bukit pasti licin. Selesai ganti celana di kamar di dalam warung, gue duduk melipat baju serta melapisi baju gue dengan berlapis palstik, tiba – tiba kesibukan gue terhentiketika Ibu yang punya warung menawarkan kita semua sesuatu.
“Mau pada sewa bambu gak?” Ibu yang punya warung menawarkan gue dan teman gue sebilah tongkat bambu dengan panjang sedada.
Gue dan teman – teman gue yang ada saat itu hanya terdiam, terus terang diam kita saat itu adalah diam kekhawatiran akan diapatok sebuah harga yang mahal hanya untuk sebilah tongkat. Maklum backpacker sering meminimalisir budget yang harus keluar.
Keheningan masih berlanjut sesudah Ibu warung menawarkan bambu, tak mau menyerah, lalu Ibunya menawarkan lagi, “kalau gak pake bambu entar pada nyesel loh.”
Karena temen – temen gue yang terdiam, gue memberanikan diri bertanya harga sewa, “berapa emang sewanya bu?” tanya gue penasaran.
“Cuma 2000 aja per tongkat.” Jawab ibunya.
Mendengar biaya sewanya yang hanya 2000 rupiah/tongkat kita semua langsung menyambut tawaran Ibu pemilik Warung.
“Oh, boleh bu boleh, coba liat.” Dasar semuanya otak hemat, pikir gue.
Kita memilih tongkat yang ditawarkan, ibunya bilang itu hanya sampel. Kalau mau, masih banyak di dalam. Tak lama keluar anaknya dengan ‘produk’nya seikat tongkat bambu yang banyak, mungkin sekitar 70 tongkat.
Gue lalu memilih tongkat yang cocok dengan gue, seperti Harry Potter saat datang ke tempat Ollivander dan memilih tongkat sihirnya, terkadang gue mengayun ngayunkan tongkat gue untuk memastikan kekuatan dan kekokohannya. Gue teringat perkataan Ollivander, bahwa tongkat memilih penyihirnya. Seperti kata Ollivander itulah akhirnya gue menemukan tongkat gue, sebuah tongkat bambu yang terbuat dari bambu (yaiyalah). Alasan gue memilih tongkat ini karena tongkat ini lebih panjang dari tongkat lain.
Sambil memilih tongkat, ternyata bersama kita ada rombongan lain berjumlah 3 orang berasal dari Serpong yang akan bergabung menelusuri baduy,  sebelum bergabung kita semua berkenalan dengan saling menjabat tangan dan melempar senyum satu sama lain (senyum dilempar-lempar?). Tiga orang kawan kita ini adalah Heni seorang karyawati di perusahaan kosmetik, Qori seorang mahasiswa tata boga semester 3 yang ngakunya udah semester 4 padahal belum bayar BOP semester 4 (jangan ditiru), dan Jay seorang mahasiswa Perikanan tingkat akhir, Jay adalah satu – satunya cowok di rombongannya. Saat perkenalan gue curiga kalau Jay ini lahir di kulkas, kenapa? Karena entah mengapa ketika berkenalan terlihat memberi kesan cool, kesan ini bertambah karena ditopang namanya yang keren, yaitu ‘Jay.’ Tapi akhirnya gue mengetahui sebuah fakta bahwa Jay adalah kependekan dari “Zaenudin.” Yup, nama panjang Jay adalah ‘Zaenudin.’ Dan satu lagi, ternyata mereka bertiga bersaudara.
Berbeda dengan kesan pertama tentang mereka yang gue pikir dingin, ternyata mereka adalah orang yang menyenangkan dan mudah membaur. Mendapatkan teman seperjalanan seperti ini mungkin akan menjadi hal terbaik dan menyenangkan di cultural treking ini, pikir gue.

Hujan berhenti, dengan diawali doa bersama, maka dimulailah perjalanan dua belas anak manusia bersama – sama menelusuri indahnya baduy dengan suka cita. Oh ya, dalam perjalanan ternyata kita semua akan di pandu oleh seorang anak kecil yang unyu - unyu bernama Cardi. Anaknya murah nyengir banget dan usianya baru 12 tahun, berasal dari Cibeo, baduy dalam. Penampilannya menegaskan bahwa dia memang berasal dari baduy dalam, memakai kain putih agak lusuh yang dibebat dikepala dengan setelan baju warna hitam yang dipadu dengan bawahan kain tinggi selutut berwarna hitam dengan garis perak tipis (yang gue masih penasaran apakah dibalik kain itu dia pake celana dalem atau enggak). Selain pakaian yang dipakai Cardi, Cardi gak jauh berbeda dengan anak – anak lain yang biasa gue temui di lingkungan rumah gue, hanya saja Cardi memiliki mainan yang tidak mungkin dipunyai anak anak seumurannya dimanapun, di pinggangnya terselip sebilah golok. Ya, sebilah golok. Golok yang disematkan di pinggang ini membuat Cardi jadi terlihat tambah unyu – unyu, apalagi ketika dia mengacungkan goloknya, sreeet! persis kaya boneka Chaky. Meski Cardi ini kurang lancar berbahasa Indonesia, gue gak terlalu mengalami kebuntuan dalam berkomunikasi dengan Cardi karena gue sedikit menguasai bahasa sunda dan bisa membaca sikap tubuhnya Cardi, tapi kalau komunikasi kita udah sama – sama gak nyambung, ada tandanya. Sederhana aja,  kalau dia gak ngerti apa yang gue omongin, dia pasti akan terdiam memandang gue sambil nyengir. Entah apa maksud tatapan dan nyengirnya itu?

Gue: Cardi meunang make HP teu di Cibeo? Cardi boleh pake HP gak di Cibeo?
Cardi: Hah?
Gue: Hape, hape. (goyangin HP)
Cardi: .... (ngeliatin gue)
Gue: Meunang make HAPE teu? ieu HAPE. Boleh pake HAPE gak? Ini, HAPE. (sambil nunjuk dan goyang – goyangin HP)
Cardi: .... (masih ngeliatin gue)
Gue: meunang?
Cardi: (terdiam sebentar, lalu Nyengir)
Gue: .... (nelen HP)

Cardi adalah seorang warga suku baduy dalam, tapi apa keperluan orang baduy dalam di Ciboleger? Tanya gue. Ternyata alasan seorang baduy dalam ke Ciboleger beragam, dari mereka ada yang membawa hasil bumi, sekedar jalan – jalan, menuju Kota, atau bahkan ‘sekolah.’ Ya, sekolah! Namun istilah sekolah ini berbeda  buat orang baduy dalam, bagi mereka sekolah bukan duduk di kelas sambil mengacungkan jari kalau diabsen guru, tapi sekolah disini adalah menjadi seorang pemandu, pergi ke kota dan mengantarkan hasil bumi.
Cardi sendiri di Ciboleger itu ternyata abis nganterin hasil kebunnya yang berupa 20 durian. Ya, duapuluh! Bayangkan, anak sekecil Cardi mebawa 20 buah durian! Astaga, anak macam apa yang membawa 20 buah durian dari hutan? Cetar membahana sekali si Cardi  ini. Gue serta Iyul terheran – heran dan takjub ketika mendengar penuturan Ibu warung yang menceritakan apa yang dilakukan Cardi, tapi belum sempat gue dan Iyul takjub maksimal, salah satu teman gue, Irsyam menimpali kita. “Nanti dulu met, itu belum selesai ceritanya, duren dua puluh yang gimana dulu? durennya juga segini.” Irsyam terlihat mengepalkan tangan menggambarkan besar ukuran durian yang dibawa Cardi hanya sebesar kepalan tangan.
“Oooh.” Ketakjuban gue pun sirna. Tapi apapun yang dia bawa, buat gue Cardi tetap hebat. Di usia yang kebanyakan anak – anak akan menghabiskan masa kecilnya dengan bermain, Cardi malah menghabiskan masa kecilnya dengan bekerja membawa hasil kebunnya sendirian. Sungguh sesuatu hal yang membuat gue malu sebagai orang yang sudah terbilang dewasa, karena seumur hidup gue gak pernah melakukan hal itu.
Cardi mungkin hanya sebuah contoh kecil dari kehidupan generasi muda suku baduy dalam, mungkin saja ABG –ABG baduy dalam lebih berat lagi menghabiskan masa remajanya, ada yang berkebun mencangkul ataupun mengantar hasil bumi, berbeda dengan ABG kita yang malah larut dengan teknologi dan sosial media yang membuat mereka menjadi seorang alay ababil.

Cardi, our lil guide.
Maka dari itu suatu saat gue bercita – cita akan menanam sebuah pohon durian, agar kelak anak gue bisa gotong buah durian dan membuat tetangga – tetangga gue kagum sama anak gue.

J J J

Tujuan pertama kita dari Ciboleger adalah kampung Gajeboh, sebuah kampung baduy luar yang akan sekaligus menjadi tempat persinggahan bermalam sebelum melanjutkan perjalanan menuju kampung suku baduy dalam. Start dimulai Jam 14.30, namun awal perjalanan agak tersendat karena kita harus membeli ikan asin.
Loh? Ikan asin itu buat apa?
Jadi, ikan asin itu nanti bisa menjadi makan malam kita di rumah warga baduy kp. Gajeboh. Gak mungkin kan kita datang aja ujug - ujug tidur sama makan.
Setelah membeli ikan asin, awal perjalanan dilanjutkan dengan laporan ke tempat Jaro atau Kepala Desa. Ada aturan tertulis disini, bahwa sebelum pergi melakukan perjalanan ke desa adat baduy, wisatawan harus menuliskan data di semacam buku tamu dan yang menuliskan data cukup ketua rombongan.
Gue dan rombongan pun menghampiri pendopo, disana udah duduk banyak bapak - bapak.
“Permisi pak, mau laporan dulu.” lapor gue, setengah gugup karena melihat sorot mata bapak - bapak disana yang tertuju pada gue. Sumpah deg degan.
Lalu seorang bapak berkumis lebat yang sepertinya adalah seorang Jaro menjawab. “Oh, sini dek sini,” sambil mempersilahkan gue mendekat. Bapak jaro melihat ke arah gue serta rombongan. “Ada yang mandu gak? Siapa? Mau kemana?” tanya bapak Jaro.
Gue lalu mencari sesosok anak kecil dengan cengiran khas yang membawa golok di pinggangnya, setelah ketemu gue lalu menunjuk Cardi.
“Ini pak orangnya,” kata gue seperti sedang menuduh.
Bapak jaro melihat Cardi, lalu melihat rombongan kita dan mengangguk, gayanya cool dan berwibawa banget, Jay aja kalah.
“Mau kemana tujuannya?” Tanya pak jaro.
Temen – temen gue lalu bersautan menjelaskan arah perjalanan yang akan kita tempuh, yaitu hari pertama ke kp. Gajeboh untuk bermalam dan akan meneruskan perjalanan ke kp Cibeo baduy dalam pada keesokan harinya. Sambil teman – teman gue menjelaskan, gue menuliskan data diri gue berupa Nama, Jumlah rombongan, asal darimana dan untuk apa kunjungannya pada sebuah buku tamu yang diserahkan bapak Jaro sebelumnya. Selesai mengisi data gue terdiam, Bapak Jaro pun terdiam, temen – temen gue juga ikut terdiam. Gue celingak - celinguk ngeliatin temen gue.
“Udah nih?” tanya gue bingung ke temen - temen di belakang gue yang membalas dengan pandangan bingung.
“Udah kali ka, coba tanya lagi.” Kata Santi meyakinkan gue.
Gue terdiam bersabar melihat reaksi bapak Jaro yang sudah memalingkan perhatiannya dari gue dan sibuk membuka bungkusan rokok.
Ada hening yang cukup panjang. Sambil terdiam mata gue setia melihat gerakan bapak Jaro, tapi kumisnya malah mengalihkan perhatian gue. 
Tak mau terkuasai oleh kumisnya bapak Jaro, gue mencoba bertanya. “E... Pak, kita boleh berangkat?” tanya gue dengan nada sangat sopan dan pelan sekali, hampir tak terdengar. Bapak jaro tak bereaksi, Gue lalu mengulang pertanyaan gue.
“Oh, sudah silakan.” Kata bapak Jaro sambil mempersilahkan kita dengan kumisnya yang bergoyang – goyang, gayanya masih tetap cool. Keren, mungkin seperti inilah rasanya menjadi kepala desa ya.
Tak mau berlama – lama, kita pun berlalu meninggalkan tempat pak Jaro menuju perbukitan milik warga adat baduy.
Selamat tinggal modernisasi, gue selingkuh dulu ya sama alam. J

J J J

Cardi, tebih keneh teu? Cardi, Masih jauh gak?” Tanya gue ke Cardi.
“Tebih,” cardi menjawab sambil nyengir, yang artinya “Jauh.”
Bersama Cardi berada di depan, kita di pandu dibawah gerimis yang rintik – rintik memercikan air dan udara dingin, gue yang gak bawa persiapan jas hujan harus pasrah dengan keadaan gue yang terguyur basah, begitupun temen – temen gue yang berbasah basah ria dibawah rintik gerimis sore. Memahami letih dan jauhnya berjalan kaki tanpa bantuan kendaraan bermotor membuat gue sadar kalau gue bagai titik kecil yang sedang disadarkan akan ketidakberdayaannya tanpa bantuan alat – alat modern.
Di belakang gue ada temen - temen gue berjalan mengular menyusuri jalan setapak berbatu yang menjadi pijakan naik dan turun bukit, beberapa batu menjadi licin dan bergoyang saat diinjak. Jalan yang licin terkadang membuat ada jarak antara kita, ketika ada anggota rombongan yang tertinggal, anggota rombongan paling depan harus menunggu. Di jalan, kita gak jarang bertemu dengan rombongan lain dari arah berlawanan yang ingin turun bukit menuju Cibolerang, mungkin karena pernah satu nasib mereka atau pun kita gak ragu bertanya darimana asal dan dari kapan sudah berjalan. Saat itu terjadi, kita seperti berada di adegan film Kolosal dimana Angling Dharma yang sedang menuruni bukit menemukan rombongan kita yang menjadi pengembara dengan membawa tongkat sedang berjalan dalam pengembaraan.

Angling Dhrama: AD
AD: Kisanak siapa dan mau kemana?
Gue: Ampun Baginda, hamba adalah seorang pengembara dari kota, hanya ingin bertapa di Baduy.
AD : Oh, Berjuang kisanak, perjalananmu masih jauh.
Gue: Masih jauh? (terdiam). Mohon maaf baginda, seberapa jauh dan panjang jalan ini ya?
AD: Ya, kira – kira, sepanjang episode Angling Dharma di puter di Indosiar. Lamaaaaaaaaaa banget.
Gue: .............. (diem)
AD : Kenapa kisanak? Kenapa terdiam.
Gue: Baginda..
AD: Ya?
Gue: Ada upil tuh. (nunjuk upil yang bergelantungan di bulu hidung)
Suasana pun menjadi hening, hening sekali.

Sebuah kampung udah kita lewatin, sebuah jembatan bambu yang diikat dengan ijuk pun udah kita sebrangin, tapi kok gak nyampe - nyampe ya? Sebenernya sejauh mana sih kp. Gajeboh. Sementara temen – temen yang tadinya terlihat ceria dan doyan foto - foto udah memperlihatkan kesan keletihan, saat ini kita bagaikan pendekar yang tersesat. Sesekali Cardi terdiam menghentikan langkahnya dan melihat kebelakang, menunggu temen gue yang tertinggal, kalau tiba saat seperti ini gue selalu berjalan paling depan. Di perjalann yang melelahkan dan panjang ini untung ada Jay yang selalu menjadi seorang penolong, jiwa heroiknya selalu membuat temen – temen gue yang cowok terkagum - kagum(oke, gue lebay), tapi memang Jay yang kami juluki “Bang Jay sang penyelamat” senang menolong dan selalu mengkhawatirkan kita semua yang keletihan, ini mungkin karena mengingat beban bawaan yang kita bawa gak sedikit, lumayan banyak, seperti Arfan yang membawa sekeranjang buah buahan dan beras, Andri yang harus menenteng Kamera SLR-nya, Irsyam dan Iyul yang harus membawa sebotol besar air mineral lalu gue yang harus membawa harga diri gue. Sungguh berat sekali.

Dari kana ke kiri: Arfan, Rere, Iyul, Kak Ari, Santi, Ires, Jay dan Qori (menghadap atas) lalu Irsyam, dibelakangnya irsyam ada gue dan dipojokan foto ada Mbak Heni, lalu terakhir yang dibungkus plastik,itu Cardi.
Ketika tiba di sebuah aliran air, kita selalu menyempatkan diri mencuci kaki, pokoknya kalau udah ketemu air kita semua ngumpul sambil ngobok – ngobok air. Gak kerasa berapa kali kita ngobokin air, akhirnya kita tiba di kampung Gajeboh, tibanya pun baru gue sadari ketika gue berada di kampung Gajeboh.
Rek ngendong dimana? Mau nginep dimana?” tanya seorang bapak – bapak yang sedang duduk di sebuah amben rumah, ternyata bapak tersebut adalah seorang pedagang yang sedang menjajakan barang dagangan. Bingung dengan pertanyaan yang ditujukannya untu siapa, gue menduga pertanyaan itu di tujukan kepada Cardi, bukan kita. Gue dan temen – temen gue menoleh sebentar, lalu dia melanjutkan pertanyaannya.
 Ngendong didieu bae yeuh. Nginep disini aja nih.” Kata bapak penjual dagangan sambil menunjuk rumah tempat dia duduk yang disambut Cardi dengan raut bimbang.
Nginep disini? Emang ini dimana? Tanya gue dalam hati.
Setelah gue ketahui ternyata kampung yang gue masuki sekarang adalah kp. Gajeboh, dan gue bertanya ke Cardi.
Enggeus nyampe? Udah nyampe?” tanya gue.
Enggeus.” Jawab cardi sambil nyengir.
Alhamdulillah. Syukur. Kenapa lo gak bilang?!
Seharusnya perjalanan menuju gajeboh paling cepat menurut Ibu warung kopi hanya memakan waktu 1,5 jam, karena selain medan yang mudah, kampung gajeboh juga dekat dengan desa Ciboleger yaitu sekitar 5 km (ini termasuk deket) tapi nyatanya perjalanan kita memakan waktu sekitar 2,5 jam dan kita sampai di gajeboh jam 17.00. Mungkin ini karena kita banyak berhenti dan disini sedang musim hujan yang membuat medan menjadi licin (loh? Ini kan baduy? Kenapa malah di Medan yang licin?), maksud gue ‘medan jalan’ yang licin.
Selamat datang di kp. Gajeboh.

Gajeboh adalah sebuah kampung yang berada di tepian sungai. Gue gak tau berapa keluarga yang tinggal disini karena gak sempet ngitungin, tapi yang gue tahu adalah semua rumah di kampung ini gak teraliri listrik. Jadi ada hal yang gak bisa dilakukan pengguna BB disini, yaitu nyari stop kontak dan nge-charge.

Setelah duduk sebentar, membereskan barang, lalu Shalat. Arfan Santi dan gue yang membawa ikan asin dan 5 kg beras menghadap menuju tuan rumah, seorang ibu yang sedang memasak nasi dengan dengan kayu bakar. Kami memperkenalkan diri di ruangan rumah yang gelap dan minim penerangan, hanya cahaya dari kayu yang dibakar yang bisa menjadi alat penerang saat itu. Nama ibu yang tinggal dirumah ini adalah Ibu Kadimah, ibu dengan 3 orang anak ini agak lancar berbahasa indonesia, jadi komunikasi gue malah lebih mudah dengan ibu Kadimah dibanding dengan guide gue sendiri si bocah kecil Cardi (jangan diambil hati ya Cardi :p). Anaknya ibu Kadimah terdiri dari dua perempuan dan satu laki – laki. Yang paling tua bernama Kardi, dan yang kedua adalah Katimah sementara yang bungsu gue gak tahu sementara Suaminya bu kadimah gue gak tau juga karena gak ada di tempat saat kita datang.
Setelah melihat anaknya bu Kadimah, serta beberapa anak lain yang gue temui saat memasuki kp. Gajeboh, ada satu hal yang gue tangkap disini, gak seperti yang gue bayangkan, beberapa anak – anak dikampung ini udah terkesan modern. Mereka memakai baju yang biasa anak zaman sekarang pakai, seperti celana jeans hitam pendek dan kaos, bahkan ada yang memakai kaos V-neck, ini kontras dibandingkan orangtuanya yang hanya memakai pakaian biru kehitaman - hitaman dengan kain buat wanita dan celana ¾ untuk pria. Yah, untungnya gak ada yang memakai baju setelan Olga disini, gue gak mau sampai menemui alay di pelosok sini, kalau masih nemu 4Lay,  kebangetan banget.
Sambil berkenalan dan memberikan beras, gue berbincang dengan ibu Kadimah serta menjelaskan bahwa kita semua meminta tolong untuk bisa tinggal disini selama semalam dan beras serta ikan asin ini adalah bekal bahan makanan yang kita bawa untuk ibu Kadimah masak selama kita disini.
“Bu, gak apa apa kan kita numpang semalam disini?” tanya gue.
“Gak apa apa, kemarin aja ada yang disini sampai 4 hari.” kata dia sambil tertawa.
Hah?! Empat hari? Itu lagi wisata apa tahanan yang lagi kabur? Pikir gue. Masuk akal mengingat baju tahanan warna biru gelap bisa terlihat nyaru dengan baju hitam saat gelap.
Di kp. Gajeboh ini kita disambut oleh Mamang(paman) pedagang pernak - pernik dan merchant khas baduy. Yang mereka jual banyak, ada kaos, gantungan kunci, kalung, gelang, tapi ada satu benda yang bikin gue tertarik, kain kepala berwarna biru dengan corak batik khas suku baduy yang belakangan menjadi simbol Kabupaten lebak, harganya Rp. 15.000, - dan harga tersebut udah termasuk ongkos jalan kaki yang jual.  Begitu gue beli, kain itu langsung gue bebat dikepala dengan dibantu penjualnya, kain yang dipakai di kepala ini dinamai romal oleh Cardi.
Setelah memakai romal gue langsung merasakan sebuah sensasi menjadi orang baduy, ini terasa karena tiba - tiba gue bisa berbahasa sunda. “Kumaha? damang?” kata gue.

“Lu beli kain ka?” gue menoleh melihat Iyul bertanya ke gue.
“Iya boi, belilah,” jawab gue, membujuk.
“Berapaan ka?” tanya Iyul penasaran.
Gue segera menjawab “Murah, Cuma 15.000.”
Tak perlu waktu lama temen - temen yang lain udah membeli kain khas baduy dan membebatkan kain itu menjadi romal di kepala mereka masing – masing sambil dibantu oleh mamang yang jual, karena tenyata memakai romal gak mudah seperti kelihatannya, ini hampir mirip seperti memakai Hijab  karena ada gaya - gaya tersendiri. Gue dan yang lainya memakai romal gaya baduy luar sementara Jay menggunakan gaya baduy dalam, ini karena romal stylish-nya Jay adalah seorang warga baduy dalam, siapa lagi dia kalau bukan Cardi. Berbakat juga Cardi.
Setelah romal dipakai alhasil dengan kilat kita menjadi orang baduy dadakan, dengan dipakainya romal ini, kita seperti menegaskan komitmen kita untuk mencoba hidup sebagai orang baduy di pengujung tahun ini.*tsaaaah*
“Gimana? Udah mirip orang Bali belum?” temen gue Andri berseloroh sambil memperlihatkan ikat kepalanya.
Gue terdiam, “Bali?” tanya gue heran. Ini baduy kali? Tapi setelah gue melihat wujud Andri yang kurus dengan ikat kepala dan sarung, malah memang mirip orang Bali tapi cuma kurang pemanis aja, yaitu sebuah bunga ditelinga. Tapi gue gak yakin kalau Andri menyelipkan bunga akan terlihat mirip orang bali, mirip gay mungkin iya.
Sore itu ditutup dengan sesi foto - foto sambil melepas lelah dan tertawa sambil bersantai mentertawakan perjalanan kita semua dari Rangkasbitung sampai Baduy, ada juga yang sambil ngopi dan beberapa lagi mencari tempat untuk mandi yang ternyata susah dicari.
Andri (mirip orang bali) gue, Iyul, Cardi, Irsyam.

Hari ini gue berkenalan dengan sebuah peradaban yang baru, lingkungan baru, kawan yang baru. Sungguh sesuatu hal yang baru ini sempurna dalam menutup tahun ini, ketika di pengujung tahun semua orang bersiap berhura – hura dengan mercon dan terompet, gue memilih berada dalam kesunyian dan temaram lampu minyak. Masyarakat Baduy, terhimpit arus modernisasi, bukan karena terpaksa namun teguh menjaga nilai leluhur.

Kisah gue sampai disni, tapi masih ada lanjutannya, maklum gue butuh waktu seminggu buat nyusun cerita ini. Haha. Jumpa nanti di cerita malam harinya di Gajeboh dan perjalanan pulang gue dari Cibeo ya

BERSAMBUNG..

2 komentar:

  1. asli nyet, penampakan lu udah pantes banget jadi penduduk lokal baduy hahaha..
    nitip atu nyet, orang baduy kan cakep-cakep nyet mueheheh ^^v *tetep ye

    BalasHapus
    Balasan
    1. cakep cakep sih, tapi gue gak yakin adad yang mau ma elu.. haha

      Hapus