Di penghujung tahun 2012
kemaren gue bareng temen kampus abis cultural
treking di baduy, Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Meskipun gue adalah
orang Kabupaten Lebak, sebuah kabupaten dimana Baduy berada, kunjungan gue ke
baduy kemaren adalah yang pertama kalinya. Makanya gue begitu excited banget kemaren dan setelah gue
sampe, ternyata emang itu adalah perjalanan yang berkesan abis. Dari mulai
perjalanan awal, kenalan dengan kawan baru, eksplorasi di baduy, sampe di PHPin
orang baduy. Semuanya memiliki kesan, sebuah cerita yang sangat menyenangkan.
Maka dari itu, dengan senang hati gue akan membagi cerita perjalanan ini dengan
kalian pembaca gue yang setia (entah pembaca yang mana?) dan beginilah
ceritanya.
30
Desember 2012 – Sebuah Perkenalan di bingkai kecil dunia.
Perjalanan gue dimulai dari
rumah gue di Maja, sebuah desa kecil yang berjarak 70 km dari Jakarta. Rencana
gue hari ini adalah bergabung dengan rombongan kampus di kereta, mereka udah berangkat
dari Jakarta dari jam setengah sembilan, Sementara gue mengunggu kereta yang
mereka tumpangi dari st. Maja sekitar jam sebelas siang. Gak menunggu waktu
yang lama kereta yang mereka tumpangi pun datang, gue bergegas naik menerobos
barikade manusia di pintu menuju gerbong nomor 5 tempat kita janji bertemu. Kereta
ini penuh sesak dengan penumpang, gue terpaksa harus berjejalan sambil mencari
temen sekampus gue sambil melongokan kepala. Gak tau deh udah ada berapa jenis
bau ketek yang gue cium saat itu.
Dimana ya? Tanya gue dalam
hati.
Gak lama mencari akhirnya gue
ketemu mereka, pas ketemu rombongan kampus gue, mereka udah keliatan
bermandikan keringat, basah maksimal. Gue cuma bisa ketawa liat mereka, delapan
anak manusia yang mencari sebuah petualangan malah harus memulainya petualangannya
lebih awal dengan letih keringat. Jumlah mereka 8 orang mereka terdiri dari 7
mahasiswa yaitu Andri, Arfan, Ires,
Irsyam, Rere, Iyul/Rachmat dan Santi
serta bersama mereka ada satu kakak kelas gue yang udah menjadi seorang
karyawan yaitu Kak Ari dan terakhir
adalah gue sendiri Harry Lucky,
seorang manusia biasa yang tersesat dalam kefanaan dunia (jiaah). Tujuan kita
adalah stasiun Rangkasbitung, satu - satunya tempat dimana kita bisa
melanjutkan perjalanan menuju kampung adat Baduy via kendaraan umum, dari st.
Rangkasbitung kita melanjutkan perjalanan menuju terminal Aweh, yang
selanjutnya akan dilanjutkan dengan menumpang Minibus jenis Elf yang akan membawa
kita ke desa Ciboleger. Jadi Rute kira - kira adalah Jakarta – Rangkasbitung –
Ciboleger.
Sampai di terminal Aweh sekitar
jam 11.30, sementara jadwal keberangkatan minibus yang akan kita tumpangi
menuju Ciboleger adalah jam 12.30, jadi kita punya waktu sekitar satu jam. Gue
beserta rombongan masih bisa memanfaatkan waktu dengan mempersiapkan barang
bawaan, shalat dzuhur dan makan siang dari bekal yang gue bawa sebelum
berangkat. Ketika kita siap berangkat, gue gak membayangkan mobilnya akan
begitu penuh sesak, jadi gue bersama 3 orang teman gue yaitu Andri, Irsyam dan
Iyul lebih memilih naik diatas mobil. Ya, diatas mobil! Kalau ada peng-kelasan
maskapai di minibus ini, mungkin bisa diibaratkan penumpang yang duduk didalam
ada di kelas bisnis ekonomi sementara kita yang duduk diatas ini masuk di kelas
VUP (Very Unimportant People). Gak
safety banget men, gue udah kaya
barang!
Duduk dikelas VUP bukan hal
yang mudah, posisi duduk yang benar akan mempengaruhi kenyaman berkendara kita.
Insting bertahan hidup sangat dibutuhkan disini, kenapa? Karena supir gak
nyediain pramugari bahkan kernet buat ngejelasin hal - hal yang harus dilakukan
apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Jadi gue saranin buat pemula
yang belum punya pengalaman jangan pernah duduk diatas.
Bersama gue dan 3 temen gue ada
dua orang lain yang duduk diatas, tujuan mereka sama, arah Ciboleger, satu
orang umurnya masih muda sekitar 25 tahunan dan duduk disamping kiri Iyul lalu
satu orang lagi yang juga masih muda duduk di depan bareng Irsyam, umurnya kira
- kira 45 tahunan.
Pemuda yang berada di samping
kiri Iyul ternyata asli Cibolerang, dengan pengetahuan dan pengalamannya
mengenai kampung halamannya ia menjadi seorang narasumber dadakan buat kita.
Sayangnya kita belum sempat berkenalan dengan dia, entah kenapa. Karena gue gak
tahu nama pemuda ini jadi kita sebut saja dia ‘Bunga’. Iyul banyak bertanya
kepada Bunga, pertanyaannya dari durian sampai suku baduy, terkadang sampai
bertanya apakah pernah ada kejadian penumpang yang jatuh dari kelas VUP,
mendengar pertanyaan yang bertubi – tubi Bunga gak terlihat keberatan menjawab,
bahkan menurut gue perbincangan Iyul dan bunga masuk ke tahap yang lebih
serius.
Mesin mulai menderu, perjalanan
kita dimulai dengan hamparan sawah yang menari- nari di kiri kanan jalan yang
indah. Ditengah perjalanan gambaran perbukitan terlihat jelas di depan gue,
seakan bukit itu sengaja menggoda dengan memperlihatkan kemolekannya, terkadang
dalam perjalanan juga kita terbawa oleh terpaan angin yang membuat mata merem
melek. Tapi sayangnya selama perjalanan ini juga gue berasa menjadi sebuah
kecrekan, badan gue digoyang dan diguncang mengikuti alunan mobil minibus yang
gue tumpangi, kadang ketika mendapati sebuah tikungan tajam yang membuat mobil menjadi
miring, gue dan penumpang kelas VUP lain harus berpegangan dengan erat kalau
gak nanti jatuh, sesekali gue dan teman - teman gue bahkan berteriak histeris, ‘wah-wah-wah-wah-waaaaah!’
namun setelah itu kita malah tertawa heboh, rame. Penumpang lain terkadang
tertawa mentertawakan reaksi dan tingkah kita semua yang terkesan norak seolah kita
adalah anak kecil yang baru naik wahana halilintar.
Karena kata Iyul guncanganya
seperti sebuah perahu yang diterjang tsunami, Andri berteriak gurau.
“Ombak laut besar kapten!”
Teriak andri sambil tertawa.
Gue menyaut, “lambung kapal
pecah Kapten!”
Saat itu bunga hanya bisa
tertawa melihat reaksi kita semua.
Kita semua puas mentertawakan
diri diatas, sampe perut gue sakit karena banyak ketawa, sungguh gak rugi gue
duduk diatas.
Temen gue Irsyam bertanya -
tanya, pertanyaannya adalah : ‘Kalau buat kelas VUP gimana nanti ngomongnya kalau
mau turun di tengah jalan? Emang kedengeran apa?’ Tapi gak butuh waktu lama sampai
pertanyaan itu terjawab, di depan gue ada seorang bapak – bapak yang sepertinya
mau turun. Dia melakukan hal yang standar, yaitu mengetok – ngetok atap mobil.
TOK!
TOK!
“Kiriii.” Kata bapak depan gue
dengan nada yang agak di tinggikan.
Tiba – tiba dari dalam mobil ada
suara menjawab yang gue rasa adalah suara si supir. Katanya, “siapa disana?”
“Kiri baaang,” teriak bapak –
bapak tadi dengan nada semakin tinggi.
Dari dalam mobil si supir pun
menjawab “Paswordnya pak?”
Dikira kuis?! Oke gue cuma
bercanda. Jadi gue kasih tahu caranya, kalau lu berada di sebuah atap dan mau
turun, maka hal pertama yang harus lu lakukan adalah cukup dengan hanya
mengetok atap dan jangan pernah mencoba teriak ‘kiriii!’ Cukup diketuk dengan
begitu secara otomatis mobil akan berhenti.
Loh? Kenapa jangan teriak Kiri?
Ini dilakukan untuk mencegah
kemungkinan masuknya benda asing ke mulut lo. Bayangin kalau tiba tiba ketika
lo sediang teriak ternyata ada durian yang jatuh dan masuk kemulut lu yang
membuat saluran nafas lo tersedak.
Teriakan lu yang seharusnya,
‘KIRIIIII.’ Karena kemasukan durian malah menjadi teriak: ‘KIRIIIIWOOOK-HUOK-HUOK!’
sambil tersedak dan mata yang melotot - lotot.
Jadi ingat! Cukup diketuk,
jangan dielus juga.
Kembali ke perjalanan. Diujung
perjalanan yang panjang dalam perbincangan dan kecerian, tiba – tiba bunga
menunjuk sebuah bukit dengan pemukiman yang terpancang sebuah tower sesuatu. Dia
berkata “disitu tujuan kita, Ciboleger, itu yang ada towernya.”
“Yang tower itu bang?” Tanya
iyul.
“Iya, itu udah deket.” Jawab
bunga.
Gue dan teman – teman gue pun
melihat arah telunjuk bunga. Disana terletak sebuah pemukiman dengan tower
tertancap yang seakan menjadi pertanda bahwa manusia pernah menginjakan kaki
disana dan berhasil menaklukan perbukitan ini.
Melihat bukit itu, gue langsung
reflek menunjuk bukit itu dengan telunjuk gue. Lalu secara perlahan gue menarik
jari telunjuk gue ke arah mata sampai
akhirnya berada sekitar 5cm didepan muka gue. Gue berkata “Sekarang, bukit itu,
ada disini, gak akan lepas dari pandangan gue.” Sumpah gaya gue udah bagaikan
Zafran di Novel 5 cm, lalu gerakan gue pun diikuti teman teman gue yang... *ciaaaah,*
udahan ah, lebay. Pokoknya si Bunga cuma ngasih tahu kalau bukit yang didepan
itu udah Ciboleger.
J J J
Selepas sampai di terminal desa
Ciboleger, kita berpisah dengan Bunga. Disinilah gue dan temen gue menginjakkan
kaki, di sebuah desa yang bernama desa Ciboleger, sebuah desa yang hanya menjadi
tempat singgah sebentar sekaligus tempat terakhir gue naik kendaraan bermotor.
Gue berdiri melihat melihat sekeliling sejenak lalu berlari kecil mencoba mencari
tempat berteduh, karena memang sesaat sebelum mobil tiba di Ciboleger gerimis
turun.
Gue dan rombongan berteduh di
sebuah warung kopi kecil. “Bu Numpang neduh ya.” Kata temen gue.
“Oh iya, silakan.” Kata ibu
yang punya warung.
Gue duduk lalu terdiam dan
mengamati keadaan terminal Ciboleger. Terminal Ciboleger lebih mirip sebuah
lapangan parkir karena ditempat ini terparkir mobil – mobil dengan berbagai
tujuan, ditengah terminal ada sebuah patung keluarga petani yang mengangkat
tangannya keatas sampai - sampai keteknya si patung kelihatan, anehnya keteknya
mulus. Pose patung itu seperti memperlihatkan bahwa mereka gembira menyambut
gue dan temen – temen di Ciboleger (Geer banget gue), tapi sayang tempat ini
terlihat tidak terawat, sampah berada dimana – mana, terkadang gue melihat
rumput tinggi tumbuh liar di sana - sini.
Pemandangan tak terawat
terminal kontras dengan pemandangan barisan bukit di balik terminal, seakan
membuat gue gak sabar untuk menjelajahi perbukitan itu. Barisan bukit itulah
yang akan gue taklukan nanti, karena dari sini perjalanan gue dan teman – teman
akan dimulai dengan berjalan kaki. Pikir gue memantapkan diri.
Sambil berteduh, gue serta
rombongan beristirahat dan mempersiapkan semuanya sebelum menjelajah, ada yang ngopi
ada yang nyari toilet dan beberapa dari temen perempuan mengganti baju di
tempat ibu warung. Ibu pemilik warung kopi orangnya baik, dia tak keberatan menceritakan
cara menjelajahi kampung adat baduy ketika ditanya soal pemandu bahkan dia memberikan
beberapa tips perjalanan serta pengarahan lalu mencarikan kita seorang
pemandu.
Sebelum memulai perjalanan, gue
mengganti celana gue dengan sebuah kolor, karena ini adalah musim hujan, jalanan
menuju barisan bukit pasti licin. Selesai ganti celana di kamar di dalam warung,
gue duduk melipat baju serta melapisi baju gue dengan berlapis palstik, tiba –
tiba kesibukan gue terhentiketika Ibu yang punya warung menawarkan kita semua
sesuatu.
“Mau pada sewa bambu gak?” Ibu yang
punya warung menawarkan gue dan teman gue sebilah tongkat bambu dengan panjang
sedada.
Gue dan teman – teman gue yang
ada saat itu hanya terdiam, terus terang diam kita saat itu adalah diam kekhawatiran
akan diapatok sebuah harga yang mahal hanya untuk sebilah tongkat. Maklum
backpacker sering meminimalisir budget yang harus keluar.
Keheningan masih berlanjut
sesudah Ibu warung menawarkan bambu, tak mau menyerah, lalu Ibunya menawarkan
lagi, “kalau gak pake bambu entar pada nyesel loh.”
Karena temen – temen gue yang
terdiam, gue memberanikan diri bertanya harga sewa, “berapa emang sewanya bu?”
tanya gue penasaran.
“Cuma 2000 aja per tongkat.” Jawab
ibunya.
Mendengar biaya sewanya yang
hanya 2000 rupiah/tongkat kita semua langsung menyambut tawaran Ibu pemilik
Warung.
“Oh, boleh bu boleh, coba liat.”
Dasar semuanya otak hemat, pikir gue.
Kita memilih tongkat yang
ditawarkan, ibunya bilang itu hanya sampel. Kalau mau, masih banyak di dalam.
Tak lama keluar anaknya dengan ‘produk’nya seikat tongkat bambu yang banyak,
mungkin sekitar 70 tongkat.
Gue lalu memilih tongkat yang
cocok dengan gue, seperti Harry Potter saat datang ke tempat Ollivander dan memilih
tongkat sihirnya, terkadang gue mengayun ngayunkan tongkat gue untuk memastikan
kekuatan dan kekokohannya. Gue teringat perkataan Ollivander, bahwa tongkat
memilih penyihirnya. Seperti kata Ollivander itulah akhirnya gue menemukan tongkat
gue, sebuah tongkat bambu yang terbuat dari bambu (yaiyalah). Alasan gue memilih
tongkat ini karena tongkat ini lebih panjang dari tongkat lain.
Sambil memilih tongkat, ternyata
bersama kita ada rombongan lain berjumlah 3 orang berasal dari Serpong yang
akan bergabung menelusuri baduy, sebelum
bergabung kita semua berkenalan dengan saling menjabat tangan dan melempar
senyum satu sama lain (senyum dilempar-lempar?). Tiga orang kawan kita ini
adalah Heni seorang karyawati di perusahaan kosmetik, Qori seorang mahasiswa
tata boga semester 3 yang ngakunya udah semester 4 padahal belum bayar BOP
semester 4 (jangan ditiru), dan Jay seorang mahasiswa Perikanan tingkat akhir,
Jay adalah satu – satunya cowok di rombongannya. Saat perkenalan gue curiga
kalau Jay ini lahir di kulkas, kenapa? Karena entah mengapa ketika berkenalan
terlihat memberi kesan cool, kesan
ini bertambah karena ditopang namanya yang keren, yaitu ‘Jay.’ Tapi akhirnya
gue mengetahui sebuah fakta bahwa Jay adalah kependekan dari “Zaenudin.” Yup, nama panjang Jay adalah ‘Zaenudin.’
Dan satu lagi, ternyata mereka bertiga bersaudara.
Berbeda dengan kesan pertama
tentang mereka yang gue pikir dingin, ternyata mereka adalah orang yang menyenangkan
dan mudah membaur. Mendapatkan teman seperjalanan seperti ini mungkin akan
menjadi hal terbaik dan menyenangkan di cultural
treking ini, pikir gue.
Hujan berhenti, dengan diawali doa
bersama, maka dimulailah perjalanan dua belas anak manusia bersama – sama menelusuri
indahnya baduy dengan suka cita. Oh ya, dalam perjalanan ternyata kita semua
akan di pandu oleh seorang anak kecil yang unyu - unyu bernama Cardi. Anaknya
murah nyengir banget dan usianya baru 12 tahun, berasal dari Cibeo, baduy
dalam. Penampilannya menegaskan bahwa dia memang berasal dari baduy dalam,
memakai kain putih agak lusuh yang dibebat dikepala dengan setelan baju warna
hitam yang dipadu dengan bawahan kain tinggi selutut berwarna hitam dengan garis
perak tipis (yang gue masih penasaran apakah dibalik kain itu dia pake celana
dalem atau enggak). Selain pakaian yang dipakai Cardi, Cardi gak jauh berbeda
dengan anak – anak lain yang biasa gue temui di lingkungan rumah gue, hanya
saja Cardi memiliki mainan yang tidak mungkin dipunyai anak anak seumurannya
dimanapun, di pinggangnya terselip sebilah golok. Ya, sebilah golok. Golok yang
disematkan di pinggang ini membuat Cardi jadi terlihat tambah unyu – unyu,
apalagi ketika dia mengacungkan goloknya, sreeet!
persis kaya boneka Chaky. Meski Cardi ini kurang lancar berbahasa
Indonesia, gue gak terlalu mengalami kebuntuan dalam berkomunikasi dengan Cardi
karena gue sedikit menguasai bahasa sunda dan bisa membaca sikap tubuhnya Cardi,
tapi kalau komunikasi kita udah sama – sama gak nyambung, ada tandanya. Sederhana
aja, kalau dia gak ngerti apa yang gue
omongin, dia pasti akan terdiam memandang gue sambil nyengir. Entah apa maksud tatapan
dan nyengirnya itu?
Gue: Cardi meunang make HP teu di Cibeo? Cardi
boleh pake HP gak di Cibeo?
Cardi: Hah?
Gue: Hape,
hape. (goyangin HP)
Cardi: ....
(ngeliatin gue)
Gue: Meunang make HAPE teu? ieu HAPE. Boleh
pake HAPE gak? Ini, HAPE. (sambil nunjuk dan goyang – goyangin HP)
Cardi: .... (masih
ngeliatin gue)
Gue:
meunang?
Cardi: (terdiam
sebentar, lalu Nyengir)
Gue: ....
(nelen HP)
Cardi adalah seorang warga suku
baduy dalam, tapi apa keperluan orang baduy dalam di Ciboleger? Tanya gue. Ternyata
alasan seorang baduy dalam ke Ciboleger beragam, dari mereka ada yang membawa
hasil bumi, sekedar jalan – jalan, menuju Kota, atau bahkan ‘sekolah.’ Ya, sekolah!
Namun istilah sekolah ini berbeda buat
orang baduy dalam, bagi mereka sekolah bukan duduk di kelas sambil mengacungkan
jari kalau diabsen guru, tapi sekolah disini adalah menjadi seorang pemandu,
pergi ke kota dan mengantarkan hasil bumi.
Cardi sendiri di Ciboleger itu
ternyata abis nganterin hasil kebunnya yang berupa 20 durian. Ya, duapuluh! Bayangkan,
anak sekecil Cardi mebawa 20 buah durian! Astaga, anak macam apa yang membawa
20 buah durian dari hutan? Cetar membahana sekali si Cardi ini. Gue serta Iyul terheran – heran dan
takjub ketika mendengar penuturan Ibu warung yang menceritakan apa yang
dilakukan Cardi, tapi belum sempat gue dan Iyul takjub maksimal, salah satu
teman gue, Irsyam menimpali kita. “Nanti dulu met, itu belum selesai ceritanya,
duren dua puluh yang gimana dulu? durennya juga segini.” Irsyam terlihat
mengepalkan tangan menggambarkan besar ukuran durian yang dibawa Cardi hanya
sebesar kepalan tangan.
“Oooh.” Ketakjuban gue pun
sirna. Tapi apapun yang dia bawa, buat gue Cardi tetap hebat. Di usia yang
kebanyakan anak – anak akan menghabiskan masa kecilnya dengan bermain, Cardi malah
menghabiskan masa kecilnya dengan bekerja membawa hasil kebunnya sendirian.
Sungguh sesuatu hal yang membuat gue malu sebagai orang yang sudah terbilang
dewasa, karena seumur hidup gue gak pernah melakukan hal itu.
Cardi mungkin hanya sebuah
contoh kecil dari kehidupan generasi muda suku baduy dalam, mungkin saja ABG
–ABG baduy dalam lebih berat lagi menghabiskan masa remajanya, ada yang
berkebun mencangkul ataupun mengantar hasil bumi, berbeda dengan ABG kita yang
malah larut dengan teknologi dan sosial media yang membuat mereka menjadi
seorang alay ababil.
| Cardi, our lil guide. |
Maka dari itu suatu saat gue
bercita – cita akan menanam sebuah pohon durian, agar kelak anak gue bisa
gotong buah durian dan membuat tetangga – tetangga gue kagum sama anak gue.
J J J
Tujuan pertama kita dari
Ciboleger adalah kampung Gajeboh, sebuah kampung baduy luar yang akan sekaligus
menjadi tempat persinggahan bermalam sebelum melanjutkan perjalanan menuju
kampung suku baduy dalam. Start dimulai Jam 14.30, namun awal perjalanan agak
tersendat karena kita harus membeli ikan asin.
Loh?
Ikan asin itu buat apa?
Jadi, ikan asin itu nanti bisa
menjadi makan malam kita di rumah warga baduy kp. Gajeboh. Gak mungkin kan kita
datang aja ujug - ujug tidur sama makan.
Setelah membeli ikan asin, awal
perjalanan dilanjutkan dengan laporan ke tempat Jaro atau Kepala Desa. Ada aturan tertulis disini, bahwa sebelum
pergi melakukan perjalanan ke desa adat baduy, wisatawan harus menuliskan data
di semacam buku tamu dan yang menuliskan data cukup ketua rombongan.
Gue dan rombongan pun
menghampiri pendopo, disana udah duduk banyak bapak - bapak.
“Permisi pak, mau laporan
dulu.” lapor gue, setengah gugup karena melihat sorot mata bapak - bapak disana
yang tertuju pada gue. Sumpah deg degan.
Lalu seorang bapak berkumis lebat
yang sepertinya adalah seorang Jaro menjawab. “Oh, sini dek sini,” sambil
mempersilahkan gue mendekat. Bapak jaro melihat ke arah gue serta rombongan.
“Ada yang mandu gak? Siapa? Mau kemana?” tanya bapak Jaro.
Gue lalu mencari sesosok anak
kecil dengan cengiran khas yang membawa golok di pinggangnya, setelah ketemu
gue lalu menunjuk Cardi.
“Ini pak orangnya,” kata gue
seperti sedang menuduh.
Bapak jaro melihat Cardi, lalu
melihat rombongan kita dan mengangguk, gayanya cool dan berwibawa banget, Jay aja kalah.
“Mau kemana tujuannya?” Tanya
pak jaro.
Temen – temen gue lalu
bersautan menjelaskan arah perjalanan yang akan kita tempuh, yaitu hari pertama
ke kp. Gajeboh untuk bermalam dan akan meneruskan perjalanan ke kp Cibeo baduy
dalam pada keesokan harinya. Sambil teman – teman gue menjelaskan, gue menuliskan
data diri gue berupa Nama, Jumlah rombongan, asal darimana dan untuk apa
kunjungannya pada sebuah buku tamu yang diserahkan bapak Jaro sebelumnya.
Selesai mengisi data gue terdiam, Bapak Jaro pun terdiam, temen – temen gue
juga ikut terdiam. Gue celingak - celinguk ngeliatin temen gue.
“Udah nih?” tanya gue bingung
ke temen - temen di belakang gue yang membalas dengan pandangan bingung.
“Udah kali ka, coba tanya lagi.”
Kata Santi meyakinkan gue.
Gue terdiam bersabar melihat
reaksi bapak Jaro yang sudah memalingkan perhatiannya dari gue dan sibuk
membuka bungkusan rokok.
Ada hening yang cukup panjang.
Sambil terdiam mata gue setia melihat gerakan bapak Jaro, tapi kumisnya malah
mengalihkan perhatian gue.
Tak mau terkuasai oleh kumisnya bapak Jaro, gue
mencoba bertanya. “E... Pak, kita boleh berangkat?” tanya gue dengan nada sangat
sopan dan pelan sekali, hampir tak terdengar. Bapak jaro tak bereaksi, Gue lalu
mengulang pertanyaan gue.
“Oh, sudah silakan.” Kata bapak
Jaro sambil mempersilahkan kita dengan kumisnya yang bergoyang – goyang,
gayanya masih tetap cool. Keren,
mungkin seperti inilah rasanya menjadi kepala desa ya.
Tak mau berlama – lama, kita
pun berlalu meninggalkan tempat pak Jaro menuju perbukitan milik warga adat
baduy.
Selamat tinggal modernisasi,
gue selingkuh dulu ya sama alam. J
J J J
“Cardi, tebih keneh teu? Cardi, Masih jauh gak?” Tanya gue ke Cardi.
“Tebih,” cardi menjawab sambil
nyengir, yang artinya “Jauh.”
Bersama Cardi berada di depan,
kita di pandu dibawah gerimis yang rintik – rintik memercikan air dan udara
dingin, gue yang gak bawa persiapan jas hujan harus pasrah dengan keadaan gue
yang terguyur basah, begitupun temen – temen gue yang berbasah basah ria
dibawah rintik gerimis sore. Memahami letih dan jauhnya berjalan kaki tanpa
bantuan kendaraan bermotor membuat gue sadar kalau gue bagai titik kecil yang
sedang disadarkan akan ketidakberdayaannya tanpa bantuan alat – alat modern.
Di belakang gue ada temen -
temen gue berjalan mengular menyusuri jalan setapak berbatu yang menjadi pijakan
naik dan turun bukit, beberapa batu menjadi licin dan bergoyang saat diinjak. Jalan
yang licin terkadang membuat ada jarak antara kita, ketika ada anggota
rombongan yang tertinggal, anggota rombongan paling depan harus menunggu. Di jalan,
kita gak jarang bertemu dengan rombongan lain dari arah berlawanan yang ingin
turun bukit menuju Cibolerang, mungkin karena pernah satu nasib mereka atau pun
kita gak ragu bertanya darimana asal dan dari kapan sudah berjalan. Saat itu
terjadi, kita seperti berada di adegan film Kolosal dimana Angling Dharma yang
sedang menuruni bukit menemukan rombongan kita yang menjadi pengembara dengan
membawa tongkat sedang berjalan dalam pengembaraan.
Angling
Dhrama: AD
AD: Kisanak siapa dan mau kemana?
Gue: Ampun Baginda, hamba adalah seorang
pengembara dari kota, hanya ingin bertapa di Baduy.
AD : Oh, Berjuang kisanak, perjalananmu masih
jauh.
Gue: Masih jauh? (terdiam). Mohon maaf baginda,
seberapa jauh dan panjang jalan ini ya?
AD: Ya, kira – kira, sepanjang episode
Angling Dharma di puter di Indosiar. Lamaaaaaaaaaa banget.
Gue: .............. (diem)
AD : Kenapa kisanak? Kenapa terdiam.
Gue: Baginda..
AD: Ya?
Gue: Ada upil tuh. (nunjuk upil yang
bergelantungan di bulu hidung)
Suasana
pun menjadi hening, hening sekali.
Sebuah kampung udah kita
lewatin, sebuah jembatan bambu yang diikat dengan ijuk pun udah kita sebrangin,
tapi kok gak nyampe - nyampe ya? Sebenernya sejauh mana sih kp. Gajeboh.
Sementara temen – temen yang tadinya terlihat ceria dan doyan foto - foto udah
memperlihatkan kesan keletihan, saat ini kita bagaikan pendekar yang tersesat.
Sesekali Cardi terdiam menghentikan langkahnya dan melihat kebelakang, menunggu
temen gue yang tertinggal, kalau tiba saat seperti ini gue selalu berjalan
paling depan. Di perjalann yang melelahkan dan panjang ini untung ada Jay yang
selalu menjadi seorang penolong, jiwa heroiknya selalu membuat temen – temen
gue yang cowok terkagum - kagum(oke, gue lebay), tapi memang Jay yang kami
juluki “Bang Jay sang penyelamat” senang menolong dan selalu mengkhawatirkan
kita semua yang keletihan, ini mungkin karena mengingat beban bawaan yang kita
bawa gak sedikit, lumayan banyak, seperti Arfan yang membawa sekeranjang buah
buahan dan beras, Andri yang harus menenteng Kamera SLR-nya, Irsyam dan Iyul
yang harus membawa sebotol besar air mineral lalu gue yang harus membawa harga
diri gue. Sungguh berat sekali.
Ketika tiba di sebuah aliran
air, kita selalu menyempatkan diri mencuci kaki, pokoknya kalau udah ketemu air
kita semua ngumpul sambil ngobok – ngobok air. Gak kerasa berapa kali kita
ngobokin air, akhirnya kita tiba di kampung Gajeboh, tibanya pun baru gue sadari
ketika gue berada di kampung Gajeboh.
“Rek ngendong dimana? Mau nginep dimana?” tanya seorang bapak –
bapak yang sedang duduk di sebuah amben rumah, ternyata bapak tersebut adalah
seorang pedagang yang sedang menjajakan barang dagangan. Bingung dengan
pertanyaan yang ditujukannya untu siapa, gue menduga pertanyaan itu di tujukan
kepada Cardi, bukan kita. Gue dan temen – temen gue menoleh sebentar, lalu dia
melanjutkan pertanyaannya.
“Ngendong
didieu bae yeuh. Nginep disini aja nih.” Kata bapak penjual dagangan sambil
menunjuk rumah tempat dia duduk yang disambut Cardi dengan raut bimbang.
Nginep disini? Emang ini
dimana? Tanya gue dalam hati.
Setelah gue ketahui ternyata
kampung yang gue masuki sekarang adalah kp. Gajeboh, dan gue bertanya ke Cardi.
“Enggeus nyampe? Udah nyampe?” tanya gue.
“Enggeus.” Jawab cardi sambil nyengir.
Alhamdulillah. Syukur. Kenapa
lo gak bilang?!
Seharusnya perjalanan menuju
gajeboh paling cepat menurut Ibu warung kopi hanya memakan waktu 1,5 jam,
karena selain medan yang mudah, kampung gajeboh juga dekat dengan desa Ciboleger
yaitu sekitar 5 km (ini termasuk deket) tapi nyatanya perjalanan kita memakan
waktu sekitar 2,5 jam dan kita sampai di gajeboh jam 17.00. Mungkin ini karena
kita banyak berhenti dan disini sedang musim hujan yang membuat medan menjadi
licin (loh? Ini kan baduy? Kenapa malah di
Medan yang licin?), maksud gue ‘medan jalan’ yang licin.
Gajeboh adalah sebuah kampung
yang berada di tepian sungai. Gue gak tau berapa keluarga yang tinggal disini
karena gak sempet ngitungin, tapi yang gue tahu adalah semua rumah di kampung
ini gak teraliri listrik. Jadi ada hal yang gak bisa dilakukan pengguna BB
disini, yaitu nyari stop kontak dan nge-charge.
Setelah duduk sebentar,
membereskan barang, lalu Shalat. Arfan Santi dan gue yang membawa ikan asin dan
5 kg beras menghadap menuju tuan rumah, seorang ibu yang sedang memasak nasi
dengan dengan kayu bakar. Kami memperkenalkan diri di ruangan rumah yang gelap
dan minim penerangan, hanya cahaya dari kayu yang dibakar yang bisa menjadi
alat penerang saat itu. Nama ibu yang tinggal dirumah ini adalah Ibu Kadimah,
ibu dengan 3 orang anak ini agak lancar berbahasa indonesia, jadi komunikasi gue
malah lebih mudah dengan ibu Kadimah dibanding dengan guide gue sendiri si bocah
kecil Cardi (jangan diambil hati ya Cardi :p). Anaknya ibu Kadimah terdiri dari
dua perempuan dan satu laki – laki. Yang paling tua bernama Kardi, dan yang
kedua adalah Katimah sementara yang bungsu gue gak tahu sementara Suaminya bu
kadimah gue gak tau juga karena gak ada di tempat saat kita datang.
Setelah melihat anaknya bu
Kadimah, serta beberapa anak lain yang gue temui saat memasuki kp. Gajeboh, ada
satu hal yang gue tangkap disini, gak seperti yang gue bayangkan, beberapa anak
– anak dikampung ini udah terkesan modern. Mereka memakai baju yang biasa anak
zaman sekarang pakai, seperti celana jeans hitam pendek dan kaos, bahkan ada
yang memakai kaos V-neck, ini kontras
dibandingkan orangtuanya yang hanya memakai pakaian biru kehitaman - hitaman
dengan kain buat wanita dan celana ¾ untuk pria. Yah, untungnya gak ada yang
memakai baju setelan Olga disini, gue gak mau sampai menemui alay di pelosok
sini, kalau masih nemu 4Lay, kebangetan
banget.
Sambil berkenalan dan
memberikan beras, gue berbincang dengan ibu Kadimah serta menjelaskan bahwa
kita semua meminta tolong untuk bisa tinggal disini selama semalam dan beras
serta ikan asin ini adalah bekal bahan makanan yang kita bawa untuk ibu Kadimah
masak selama kita disini.
“Bu, gak apa apa kan kita
numpang semalam disini?” tanya gue.
“Gak apa apa, kemarin aja ada yang
disini sampai 4 hari.” kata dia sambil tertawa.
Hah?! Empat hari? Itu lagi
wisata apa tahanan yang lagi kabur? Pikir gue. Masuk akal mengingat baju
tahanan warna biru gelap bisa terlihat nyaru dengan baju hitam saat gelap.
Di kp. Gajeboh ini kita
disambut oleh Mamang(paman) pedagang
pernak - pernik dan merchant khas
baduy. Yang mereka jual banyak, ada kaos, gantungan kunci, kalung, gelang, tapi
ada satu benda yang bikin gue tertarik, kain kepala berwarna biru dengan corak
batik khas suku baduy yang belakangan menjadi simbol Kabupaten lebak, harganya
Rp. 15.000, - dan harga tersebut udah termasuk ongkos jalan kaki yang
jual. Begitu gue beli, kain itu langsung
gue bebat dikepala dengan dibantu penjualnya, kain yang dipakai di kepala ini
dinamai romal oleh Cardi.
Setelah memakai romal gue
langsung merasakan sebuah sensasi menjadi orang baduy, ini terasa karena tiba -
tiba gue bisa berbahasa sunda. “Kumaha? damang?” kata gue.
“Lu beli kain ka?” gue menoleh melihat
Iyul bertanya ke gue.
“Iya boi, belilah,” jawab gue,
membujuk.
“Berapaan ka?” tanya Iyul
penasaran.
Gue segera menjawab “Murah,
Cuma 15.000.”
Tak perlu waktu lama temen -
temen yang lain udah membeli kain khas baduy dan membebatkan kain itu menjadi romal di kepala mereka masing – masing sambil dibantu oleh mamang yang jual,
karena tenyata memakai romal gak
mudah seperti kelihatannya, ini hampir mirip seperti memakai Hijab karena ada gaya - gaya tersendiri. Gue dan
yang lainya memakai romal gaya baduy
luar sementara Jay menggunakan gaya baduy dalam, ini karena romal stylish-nya Jay adalah seorang
warga baduy dalam, siapa lagi dia kalau bukan Cardi. Berbakat juga Cardi.
Setelah romal dipakai alhasil
dengan kilat kita menjadi orang baduy dadakan, dengan dipakainya romal ini,
kita seperti menegaskan komitmen kita untuk mencoba hidup sebagai orang baduy
di pengujung tahun ini.*tsaaaah*
“Gimana? Udah mirip orang Bali
belum?” temen gue Andri berseloroh sambil memperlihatkan ikat kepalanya.
Gue terdiam, “Bali?” tanya gue
heran. Ini baduy kali? Tapi setelah gue melihat wujud Andri yang kurus dengan
ikat kepala dan sarung, malah memang mirip orang Bali tapi cuma kurang pemanis
aja, yaitu sebuah bunga ditelinga. Tapi gue gak yakin kalau Andri menyelipkan
bunga akan terlihat mirip orang bali, mirip gay
mungkin iya.
Sore itu ditutup dengan sesi
foto - foto sambil melepas lelah dan tertawa sambil bersantai mentertawakan
perjalanan kita semua dari Rangkasbitung sampai Baduy, ada juga yang sambil
ngopi dan beberapa lagi mencari tempat untuk mandi yang ternyata susah dicari.
Hari ini gue berkenalan dengan
sebuah peradaban yang baru, lingkungan baru, kawan yang baru. Sungguh sesuatu
hal yang baru ini sempurna dalam menutup tahun ini, ketika di pengujung tahun
semua orang bersiap berhura – hura dengan mercon dan terompet, gue memilih berada
dalam kesunyian dan temaram lampu minyak. Masyarakat Baduy, terhimpit arus
modernisasi, bukan karena terpaksa namun teguh menjaga nilai leluhur.
Kisah gue sampai disni, tapi
masih ada lanjutannya, maklum gue butuh waktu seminggu buat nyusun cerita ini.
Haha. Jumpa nanti di cerita malam harinya di Gajeboh dan perjalanan pulang gue
dari Cibeo ya
asli nyet, penampakan lu udah pantes banget jadi penduduk lokal baduy hahaha..
BalasHapusnitip atu nyet, orang baduy kan cakep-cakep nyet mueheheh ^^v *tetep ye
cakep cakep sih, tapi gue gak yakin adad yang mau ma elu.. haha
Hapus