Rabu, 23 Januari 2013

Baduy Trip Part III : Menyambut Pagi di Kampung Gajeboh


Gue jamin, cerita ketiga ini gak akan lucu, disini gue ingin kita lebih bisa memetik pelajaran dari sebuah perjalanan, karena sesungguhnya sebaik baiknya tulisan adalah tulisan yang memberi manfaat bagi setiap orang.

31 Desember 2012 – Menyambut Pagi di Kampung Gajeboh.
Gue membuka mata, melihat langit – langit sebuah gubuk. Hah?! Dimana gue? Tahun berapa ini? Siapa emak gue? Siapa?!
Mencoba mengingat - ngingat kembali apa yang telah berlalu. Sekarang gue ingat, gue sedang berada di Baduy. Ini tahun 2012 dan emak gue adalah J-Lo. Iya, emak gue emang J-Lo. Masalah buat lo?

Sebuah suara membangunkan gue, awalnya samar - samar lalu kemudian menjadi jelas, itu suara alarm. Gue lirik jam. Jam 03.00 pagi? Masih prematur banget bangun gue.
Menyadari masih ada waktu buat terlelap, dini hari itu gue mencoba tidur kembali. Suhu yang dingin membuat gue menggigil dan gak bisa konsentrasi tidur. Gue butuh kehangatan, bagaikan seekor pinguin di kutub selatan yang kedinginan, gue langsung refleks merapat ke Andri sambil terkadang memeluk kecil supaya terasa hangat. Tapi apa daya, ternyata Andri yang kurusnya kurang lebih sama dengan gue gak bisa memberikan gue sebuah kepuasan. Eh maaf, kehangatan maksud gue. Gue lalu melirik Jay, kepikiran buat meluk Jay, tapi gue urungkan. Baru aja kenal masa udah main peluk – peluk aja, bisa ditampar gue.

Gue: Aku butuh kehangatan darimu(peluk)
Jay: Ih?! Kamu nakal! (Nampar) PLAK!
Gue: Ouch!

Suara alarm yang masih mendengung – dengung, membuat suasana malah menjadi ramai, makin lama teman gue yang lain pun ikut terbangun. Usaha gue untuk kembali tidur pun sia – sia.
“Alarm siapa sih itu?” Ada suara protes samar – samar.
Arfan terbangun, “jaket gue mana jaket gue?” tanya Arfan mencari - cari jaketnya sambil berdiri. “Ada yang lihat gak?”
Gue terdiam sejenak, lalu dengan malas gue menjawab, “ada di gue.” Kata gue sambil merem - merem.
“Mana ki?” Tanya Arfan penasaran.
Gue mengangkat pantat gue sebelah, “nih..” Gue menunjukan jaketnya yang berada di pantat. “Gue pake disini.” Kata gue.
“Ih, parah dipantatin,” protes Arfan.
“Abis, tulang ekor gue sakit,” gue membela diri. Semalam memang jaket Arfan gue pakai untuk membantali pantat gue yang terlampau tipis. Gue bisa mengerti perasaan Arfan, mungkin dia merasa tersinggung atau bahkan menderita. Tapi sepertinya jaket Arfan lebih merasa tersinggung dan menderitaan karena semalaman gue pantatin. Kalau jaket Arfan memiliki nyawa, mungkin semalam malaikat Izrail udah mencabut Nyawanya.

Jam 04.00. Setelah arfan mengambil jaketnya gue masih berusaha terlelap walau suara alarm masih mendengung – dengung yang sekarang asal suaranya datang dari beberapa ponsel. Di dapur yang hanya bersebelahan dengan ruang tidur terdengar suara Ibu kadimah yang sedang sibuk memasak nasi,  teman – teman gue yang lain juga sibuk dengan barang – barangnya menambah rame suara yang gue dengar.
Rentetan suara dan aktifitas di pagi hari akhirnya membuat gue harus menyerah. Gue terbangun sepenuhnya, cuma Iyul dan Andri yang masih bisa kokoh tertidur, seakan – akan gak ada apa – apa. Kalau sampai ada kebakaran gue yakin mereka berdua yang pertama tewas.
Gue menggaruk – garuk badan. Gila gak betah juga belum mandi.
“Fan, mandi yuk!” kata gue mengajak Arfan mandi di pagi buta.
“Yaudah yuk.”
Gue dan Arfan lalu mencari peralatan mandi di tas masing – masing. Gue cuma bawa sikat gigi, gak ada sabun. Ini karena gue berpikir di baduy pemakaian sabun dilarang. Ternyata enggak, itu hanya berlaku di baduy dalam. Kalau baduy luar masih diperbolehkan.
“Eh, mau mandi ya? sabunnya ada gak?” Santi bertanya ke gue dan Arfan.
Nah, pas banget.
“Gak ada,” kata Gue dan Arfan.
Santi lalu mencari sesuatu di tasnya dengan bantuan senter, “entar ya Santi cari dulu,” tak lama Santi lalu mengeluarkan sebotol sabun cair.
“Santi gak mandi?” tanya gue.
“Gak, kan kemaren udah ka.” Jawab santi mengingatkan kejadian kemarin.
“Oh iya, puas banget kan mandinya, sampe ilang segala kan,” jawab gue menyindir Santi.
“Ih, kak luki mah seneng banget kalo udah nyindir – nyindir begini,” protes Santi  sambil manyun. Buat gue manyunnya Santi malah membuat mukanya nampak lebih bulat dari biasanya.

Pagi yang damai, langit tampak cerah tanpa awan. Dengan dibantu senter yang diikatkan di kepala seperti lampu penambang emas gue berangkat bersama Arfan ke pancuran di tepi jalan masuk kampung. Di jalan gue bertemu dengan serombongan perempuan dengan baju yang seragam muncul dari arah kali. Mereka sepertinya baru selesai mandi, terlihat dari handuk di kalungkan di leher serta rambut mereka yang basah – basah gimana gitu.
Pagi banget mandinya, pikir gue. gue lihat jam, jam setengah lima? Tapi gak heran juga, mungkin dengan ruang mandi yang sebegitu terbuka, keadaan gelap akan dianggap lebih memberikan kesan aman ketika mandi. Karena saat subuh keadaan masih relatif sepi dari aktifitas. Jadi kemungkinan mereka terlihat atau ‘tak sengaja’ terintip saat mandi oleh orang – orang yang lewat di sekitar kali lebih kecil. Dan itu artinya gue terlambat. Sayang sekali.

Minggu, 20 Januari 2013

Beliin Mamah: Bubur, Ikan Mas dan Tempe.

20 Januari 2013
Jam. 7.00.
“Ki, beliin Mamah bubur deh, ya.” Emak meminta gue membeli bubur.
“Gak pake sambel, kan?” Tanya gue.
“Iya, Cepet ya.”
Gue lalu berjalan keluar. Tapi Emak memanggil gue.
“Eh, ki.. Ki!” Panggil Emak,  “sekalian beli tempe juga ya, gak ada tempe ternyata.”
Gue pun berlalu ke kejauhan. Namun baru sampai diruang tamu Emak gue memanggil lagi.
“Eh.. Ki!” Panggil Emak.
Gue terdiam.  Lalu berbalik badan. “Apa, Ma?”
“Sekalian deh, beliin ikan Mas hidup. Se-kilo”
Gue mengangguk.
“Kalau gak salah sih sekarang 27 (ribu) perkilonya, tawar aja 25 (ribu). Tapi kalau sampai ada apa – apa, bilang aja udah biasa sama Mamah.”
Kalau ada apa - apa? Maksudnya ‘kalau ada apa – apa’ itu apa? Apa maksudnya adalah pas gue tawar – menawar dengan penjual Ikannya, gue nawar kemurahan dan tiba – tiba penjual ikannya langsung emosi, marah - marah. Matanya melotot – lotot, badannya langsung jadi gede, besar berotot dan warna kulitnya berubah jadi hijau. Terus dia ngamuk -  ngamuk banting – banting toko.
Dan ketika hal buruk itu semua terjadi, gue tinggal diam dan menyebut nama: ‘Mamah.’
Gila! Ini pasar atau apa?
Kembali ke cerita. Gue berjalan keluar rumah dan bersiap berangkat setelah mendapatkan intruksi dari Emak. Gue tiba - tiba terdiam, kepikiran sesuatu. Lalu kembali lagi ke dalam rumah. “Belinya di tengah pasar, ma?” Tanya gue gak yakin.
“Iya,” kata emak gue sambil duduk di meja makan.
“Entar kalau nyasar gimana?” Tanya gue. Berjalan ke dalam pasar sendirian adalah hal yang jarang gue lakukan, biasanya gue ke pasar berdua dengan Emak. Kalau cuma sendirian, gue takut nanti tiba – tiba kehilangan arah dan tersesat. Lalu Emak gue harus menelpon tim SAR untuk mencari gue. Bukan karena gue yang hilang tapi karena ikannya belum datang.
“Ah, kamu,” Emak gue menghela nafas, memunculkan muka datar. "Nih, tinggal masuk ke pasar..." Emak lalu menjelaskan arah menuju penjual ikan dan jalan – jalan di koridor pasar beserta toko – toko didalamnya lengkap dengan nama penjual – penjualnya. Sementara gue hanya memperhatikannya dengan begitu seksama. “Udah gitu doang. Ngerti kan? deket kok.” kata emak gue berusaha meyakinkan gue.
“Ah..?” Gue bereaksi bingung. Cengo, mulut nganga. Ngomong bahasa apa emak gue barusan?
“Ah, ya udah lah. Pokoknya kamu keliling – keliling pasar aja, nanti juga ketemu. Masa masih nyasar aja?”
Gue memang orang yang selalu nyasar. Entah kenapa. Buat gue jalan – jalan yang memiliki bentuk sama seperti di Mall - mall atau pasar - pasar atau yang berbentuk koridor itu bisa dengan mudah membuat gue bingung. Bahkan gue pernah berjalan di komplek perumahan dekat rumah yang bentuk rumah sama semua. Dan tepat sekali, gue nyasar. Saat itu gue langsung menyadari kalau gue adalah seseorang yang selalu salah mengambil jalan.
Setelah mendengar penjelasan emak gue yang gue kurang ngerti, gue berlalu menuju depan rumah dan berangkat. Misi gue pagi hari ini adalah:
1.       Membeli bubur.
2.      Membeli Tempe dan,
3.      Membeli Ikan Mas.

Sabtu, 12 Januari 2013

Baduy Trip Part II: Malam. Gelap. Dingin


Ini adalah lanjutan dari Kisah gue disini

30 Desember 2012 - Malam. Gelap. Dingin.
“Lu udah mandi yul?” tanya gue ke Iyul.
“Udah lah ka,” iyul menjawab bangga. Seakan mandi adalah hak yang mahal.
“Andri juga udah?” Tanya gue sekali lagi.
“Udah dia tadi, bareng Irsyam juga,” jawab iyul.
Gue lalu terdiam sambil duduk di bale rumah dan bertanya pada Arfan, “Fan, mau mandi gak?”
“Ayu, tapi nanti aja luk,” kata Arfan.
Selain gelap, rumah - rumah di Kp. Gajeboh tidak memiliki kamar mandi, ini membuat gue males mandi. Disini kamar mandi adalah sungai dan pancuran, untuk tempat mandi perempuan disediakan sebuah gubuk sederhana di tepi sungai di ujung tempat masuk kampung. Terus terang gue enggan mandi sore ini, karena gak ada pilihan harus mandi dimana. Kalau mandi disungai, gak mungkin, nanti kalau pas mandi selendang gue dibawa orang gimana? Gue gak bisa balik. Kalau di gubuk mandi tempat masuk kampung lebih membuat gue enggan mandi. Kenapa? Pintunya cuma sedada gue, terus atapnya pendek, membuat suasananya jadi kurang enak, kalau tiba – tiba pas mandi gue kehabisan oksigen gimana? Gak lucu kan kalau temen gue nyariin gue dan menemukan gue sedang pingsan tergeletak sambil telanjang dan megang gayung. Jadi pilihan terakhir dan terbaik gue untuk mandi adalah sebuah pancuran yang airnya mengalir dari bukit, letaknya ada di jalan mau masuk kampung, tapi setelah berpikir lagi, tempat itu pun membuat gue enggan mandi. Maklum, tempat pancuran itu persis di di pinggir jalan setapak, dan jam segini masih reme - ramenya wisatawan lewat jalan situ. Tadi sorenya aja sebelum gue masuk kampung Gajeboh, gue lihat seorang pemuda di pancuran lagi sabunan cuma pake celana dalam, gue gak bisa bayangin kalo yang lagi sabunan itu gue, terus diliatin orang – orang pas sabunan, bisa – bisa dikira lagi mau pesugihan.
Walau gue enggan mandi, tapi ada perasaan gak betah menghampiri gue (asik), badan gue udah lengket dengan keringat dan baju yang gue pakai pun bekas kehujanan. Intinya gue galau malam itu.
Ditengah kegalauan gue apakah mau mandi atau enggak, malam itu, sekitar jam 18.30 gue melakukan survei tentang mandi, mencari tahu apakah temen gue pada mandi atau enggak. Metodenya survei gue sederhana, tinggal gue tanya satu persatu temen – temen gue berapa orang yang mandi dan berapa yang enggak, kalau separuhnya mandi, ya gue mandi. Tapi kalau gak memenuhi kuota ya gue gak usah mandi, toh temen gue yang gak mandi banyak. Hehe.
Belum gue melakukan survei, ada yang bertanya ke gue, “kak kalau mau mandi dimana?” gue lihat rere bertanya ke gue.
Gue terdiam, gue melihat Ires dan Santi juga berdiri disamping Rere menunggu jawaban gue.
“Tadi sih, kalau mau mandi di kali aja dibawah, atau gak buat cewek disana aja tuh,” gue menunjuk arah masuk kampung,“disana ada gubuk kecil.” Gue lalu menjelaskan letak dan ciri gubuk tersebut.
“Yaudah kita ngantri aja yuk disana,” kata Santi mengajak Rere dan Ires.
Tak lama mereka pun berlalu dengan handuk dan peralatan mandi menuju tempat yang gue tunjuk.
Dengan begini udah 6 orang Mandi

Gue terdiam melihat suasana kampung, tapi ada yang mengalihkan perhatian gue, gue tiba tiba ertarik melihat Cardi dan Kak Ari yang sedang berbincang, kayanya serius banget ngobrolnya.
“Cardi, Mandi henteu? Mandi gak?” taya kak Ari.
Cardi terdiam. Kak Ari mungkin merasa kalimatnya tidak dimengerti Cardi, lalu kak Ari bertanya lagi sambil memperagakan orang yang sedang mengguyurkan air dengan gayung mandi, “Mandi teu?, Ibak, Ibak.” Kata kak Ari.
Gue terdiam penasaran menungu jawaban Cardi.
Cardi terdiam sambil senyum tersipu (buat apa pula dia tersipu? -_-“), Cardi lalu nyengir sambil matanya menatap ke arah kampung. Cardi memang terkesan pemalu, ketika ditanya dia selalu menghindari kontak mata langsung.
Kak Ari terdiam sambil menunggu jawaban Cardi.
Dicuekin nih ye.
Hening.
Gue dan Kak Ari terdiam masih melihat Cardi.
Hening.
 “Hemmh?” Kak Ari mendehem menunggu jawaban.
Masih Hening.
Lalu mulut Cardi mulai terbuka, “Huaaah.” Bukannya dijawab Cardi malah nguap. Lalu akhirnya Cardi menggeleng. “Henteu, engke bae di saung. Enggak, nanti aja di saung” Jawab Cardi.
Buset, lama banget jawab begitu aja, pikir gue. Pake nguap lagi.
Dengan jawaban Cardi, berarti kedudukan menjadi 6 Mandi dan 4 Gak mandi karena Kak Ari Sore itu pun gak mandi, gue gak tahu alasannya, mungkin beliau ingin mengikuti keteladanan Cardi.
 Ketika gue berkeliling saung, gue ketahui Mbak Heni, Jay dan Qori tenyata gak mandi juga, karena alesan sederhana ‘males.’
“Pada enggak mandi?” Tanya gue pada Mbak Heni dan Qori yang sedang duduk bersama di bale rumah.
“Enggak ah, males,” jawab mereka. Oke Kambing juga gak mandi tetap laku.
Jadi, kedudukan menjadi 6 mandi dan 7 gak mandi termasuk Cardi. Jadi gue gak usah mandi.
Loh? Kenapa Cardi masih dihitung dalam Survei?
Biar, emang dasarnya gue males mandi.

Senin, 07 Januari 2013

Baduy Trip Part I: Perkenalan di bingkai kecil dunia.


Di penghujung tahun 2012 kemaren gue bareng temen kampus abis cultural treking di baduy, Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Meskipun gue adalah orang Kabupaten Lebak, sebuah kabupaten dimana Baduy berada, kunjungan gue ke baduy kemaren adalah yang pertama kalinya. Makanya gue begitu excited banget kemaren dan setelah gue sampe, ternyata emang itu adalah perjalanan yang berkesan abis. Dari mulai perjalanan awal, kenalan dengan kawan baru, eksplorasi di baduy, sampe di PHPin orang baduy. Semuanya memiliki kesan, sebuah cerita yang sangat menyenangkan. Maka dari itu, dengan senang hati gue akan membagi cerita perjalanan ini dengan kalian pembaca gue yang setia (entah pembaca yang mana?) dan beginilah ceritanya.

30 Desember 2012 – Sebuah Perkenalan di bingkai kecil dunia.
Perjalanan gue dimulai dari rumah gue di Maja, sebuah desa kecil yang berjarak 70 km dari Jakarta. Rencana gue hari ini adalah bergabung dengan rombongan kampus di kereta, mereka udah berangkat dari Jakarta dari jam setengah sembilan, Sementara gue mengunggu kereta yang mereka tumpangi dari st. Maja sekitar jam sebelas siang. Gak menunggu waktu yang lama kereta yang mereka tumpangi pun datang, gue bergegas naik menerobos barikade manusia di pintu menuju gerbong nomor 5 tempat kita janji bertemu. Kereta ini penuh sesak dengan penumpang, gue terpaksa harus berjejalan sambil mencari temen sekampus gue sambil melongokan kepala. Gak tau deh udah ada berapa jenis bau ketek yang gue cium saat itu.
Dimana ya? Tanya gue dalam hati.
Gak lama mencari akhirnya gue ketemu mereka, pas ketemu rombongan kampus gue, mereka udah keliatan bermandikan keringat, basah maksimal. Gue cuma bisa ketawa liat mereka, delapan anak manusia yang mencari sebuah petualangan malah harus memulainya petualangannya lebih awal dengan letih keringat. Jumlah mereka 8 orang mereka terdiri dari 7 mahasiswa yaitu Andri, Arfan, Ires, Irsyam, Rere, Iyul/Rachmat dan Santi serta bersama mereka ada satu kakak kelas gue yang udah menjadi seorang karyawan yaitu Kak Ari dan terakhir adalah gue sendiri Harry Lucky, seorang manusia biasa yang tersesat dalam kefanaan dunia (jiaah). Tujuan kita adalah stasiun Rangkasbitung, satu - satunya tempat dimana kita bisa melanjutkan perjalanan menuju kampung adat Baduy via kendaraan umum, dari st. Rangkasbitung kita melanjutkan perjalanan menuju terminal Aweh, yang selanjutnya akan dilanjutkan dengan menumpang Minibus jenis Elf yang akan membawa kita ke desa Ciboleger. Jadi Rute kira - kira adalah Jakarta – Rangkasbitung – Ciboleger.

Sampai di terminal Aweh sekitar jam 11.30, sementara jadwal keberangkatan minibus yang akan kita tumpangi menuju Ciboleger adalah jam 12.30, jadi kita punya waktu sekitar satu jam. Gue beserta rombongan masih bisa memanfaatkan waktu dengan mempersiapkan barang bawaan, shalat dzuhur dan makan siang dari bekal yang gue bawa sebelum berangkat. Ketika kita siap berangkat, gue gak membayangkan mobilnya akan begitu penuh sesak, jadi gue bersama 3 orang teman gue yaitu Andri, Irsyam dan Iyul lebih memilih naik diatas mobil. Ya, diatas mobil! Kalau ada peng-kelasan maskapai di minibus ini, mungkin bisa diibaratkan penumpang yang duduk didalam ada di kelas bisnis ekonomi sementara kita yang duduk diatas ini masuk di kelas VUP (Very Unimportant People). Gak safety banget men, gue udah kaya barang!

Duduk dikelas VUP bukan hal yang mudah, posisi duduk yang benar akan mempengaruhi kenyaman berkendara kita. Insting bertahan hidup sangat dibutuhkan disini, kenapa? Karena supir gak nyediain pramugari bahkan kernet buat ngejelasin hal - hal yang harus dilakukan apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Jadi gue saranin buat pemula yang belum punya pengalaman jangan pernah duduk diatas.
Bersama gue dan 3 temen gue ada dua orang lain yang duduk diatas, tujuan mereka sama, arah Ciboleger, satu orang umurnya masih muda sekitar 25 tahunan dan duduk disamping kiri Iyul lalu satu orang lagi yang juga masih muda duduk di depan bareng Irsyam, umurnya kira - kira 45 tahunan.
Pemuda yang berada di samping kiri Iyul ternyata asli Cibolerang, dengan pengetahuan dan pengalamannya mengenai kampung halamannya ia menjadi seorang narasumber dadakan buat kita. Sayangnya kita belum sempat berkenalan dengan dia, entah kenapa. Karena gue gak tahu nama pemuda ini jadi kita sebut saja dia ‘Bunga’. Iyul banyak bertanya kepada Bunga, pertanyaannya dari durian sampai suku baduy, terkadang sampai bertanya apakah pernah ada kejadian penumpang yang jatuh dari kelas VUP, mendengar pertanyaan yang bertubi – tubi Bunga gak terlihat keberatan menjawab, bahkan menurut gue perbincangan Iyul dan bunga masuk ke tahap yang lebih serius.