Sabtu, 15 Maret 2014

Kalau cuma soal uang, masih ada alasan untuk tetap bertahan. Pastikan lebih dari soal Uang.



Suatu hari, saat sedang di mobil dalam perjalanan menuju sebuah tempat perbelanjaan, Idham dan Nadia—teman dan rekan kerja gue—, serta gue terlibat sebuah pembicaraan yang serius. Sambil menyetir Idham bertanya ke gue dan Nadia “Gue dapet tawaran kerja nih, menurut lu pada gimana?” mendengar pertanyaan Idham reaksi gue cuma diam. Namun Nadia langsung mencecar soal gaji.

“Gue ditawarin gaji lebih gede. Kalau dibanding sekarang, naik sekitar 30 persen lebih lah.” Jawab Idham dengan yakin. Setelah mendengar jawaban tersebut Nadia memberi saran untuk ambil peluang tersebut. Sementara gue masih terdiam, gue gak terlalu yakin apa yang akan gue jawab.

“Menurut lu gimana ki? Gue ambil aja apa gimana?” Tanya Idham ke gue. Idham yang sebelumnya gak pernah berbincang serius, terus terang bikin gue bingung. Setelah berpikir agak lama gue lalu menjawab dengan pernyataan yang umum untuk orang yang bingung, “cari yang menurut lu baik aja dham, kalau gue..” tapi sebelum jawaban gue mencapai kesimpulannya, ternyata kita sudah sampai di tujuan. Pembahasan soal resign dan gaji pun berhenti seiring dengan laju mobil yang berhenti.

Saat pembicaraan ini terjadi, udah sekitar 10 bulan gue bekerja di Berca Niaga Medika (BNM)—perusahaan distributor alat kesehatan ber-merk PHILIPS—. Dalam periode 10 bulan ini pula, seenggaknya gue telah melihat secara langsung 3 orang rekan kerja gue resign. Dan sebaliknya, ketika banyak yang keluar, banyak juga yang melamar masuk. Dinamis, pergerakannya begitu cepat. Pernah dalam hati gue mempertanyakan kenapa sih mereka resign? apa yang menguatkan mereka untuk resign dan hijrah ke tempat lain. Gue melihat kalau mereka setidaknya mencari satu diantara dua alasan, yaitu uang lebih (baca: gaji gede), atau sebuah kepastian jangka panjang.

ER, salah satu rekan gue saat di BNM resign karena menjadi PNS, walau diakuinya berat melakukan langkah tersebut, karena gaji yang diperoleh jauh lebih kecil dari gajinya saat bekerja di BNM, namun dia tetap mengambil pilihan untuk menjadi PNS. Lebih jelas, alsannya bukan soal uang, tapi soal kepastian jangka panjang yang dia peroleh ketika ‘bekerja pada negara’ dibanding bekerja di sektor swasta yang suatu saat bisa kolaps. Ya, manusia memang membutuhkan kepastian, jangankan bekerja, pasangan pun selalu minta kepastian. *eaaa

Lain ER, lain pula OFM—rekan kerja gue yang menggantikan ER—, dia berkisah bahwa di tempat kerjanya dulu gajinya tiga kali lipat dari sekarang, tapi ketika gue tanya kenapa dia pindah. Alasannya sederhana, di perusahaannya yang dulu kerjanya gak jelas, semua dikerjain, dari yang kecil seperti pasang lampu, sampai yang berat – berat. Lihat kan, ternyata alasan resign gak selalu soal uang, tapi tentang kenyamanan bekerja. 

Satu – satunya hal yang diinginkan manusia adalah sebuah kepastian. Padahal, ketidakpastian itu sudah pasti.

Hal yang buruk sudah pasti berbekas. Tapi tidak dengan yang baik, kadang terlupa (baca: dilupakan)
Gue teringat cerita sepupu gue di Sukabumi yang menceritakan tentang seorang saudara jauh kita. Katanya saudara jauh kita itu, sebut saja AA bisa mendapat gaji 8 juta sebulan, tapi dengan konsekuensi hanya tidur 2 - 3 jam sehari. Gaji 8 juta yang di dapat AA berasal dari seringnya dia kerja lembur. “Buat apa kaya gitu, padahal mah masih muda. Siga kejar setoran wae, da eweuh tanggungan—Kayak kejar setoran aja, padahal gak ada tanggungan.” Terang Sepupu gue sambil menceritakan AA.

Saat mendengar cerita sepupu gue, Jujur gue salut sekaligus kasihan dengan AA. Salut karena dia seorang pekerja keras (dalam artian negatif), kasian karena dari penuturan sepupu gue, AA sering sakit – sakitan akibat sering bekerja lembur. “Lihat aja nanti sok, kalau begitu terus mah uang yang dikumpulin gak akan guna, malah badan ancur.” Sepupu gue lalu menutup pembahasan tentang AA.

“Ya, yang ada uang yang dikumpulkan cuma buat biaya pengobatan ketika sakit.” Kata gue.

Gue jadi teringat sebuah cerita. 
Alkisah ada seorang pendaki gunung pemula berjalan dengan cepat dengan alasan ingin mencapai puncak lebih cepat, lalu dia  seorang pendaki gunung yang lebih tua, ketika berpapasan pendaki tua tersebut  bertanya pada pendaki pemula, “kenapa jalan begitu cepat?” katanya.
“Agar bisa lebih cepat menuju puncak.” Jawab pendaki pemula.
Pendaki tua itu lalu tersenyum dan menjawab. “Berhentilah sejenak, berjalanlah dengan pelan lalu lihat sekelilingmu. Ketika terus fokus memikirkan menikmati berada puncak, kamu telah kehilangan momen untuk menikmati pemandangan sekitar pegunungan yang indah.”

Enjoy today while preparing tomorrow. Dulu, gue berorientasi dengan pertanyaan, bagaimana sih caranya mapan di usia muda—katakanlah di bawah 25 tahun—mencoba mengejar semuanya dengan lebih cepat. Dan jawaban gue paling simpel adalah cari perusahaan yang mau membayar gue lebih, lau resign dari perusahaan sekarang. Dan, mungkin itulah yang melatarbelakangi mereka yang sering berpindah – pindah tempat kerja. Seperti teman gue, Deri. Deri memutuskan melakukan tindakan yang radikal, dia pindah dari tempat kerja sebelumnya sebelum genap bekerja 10 bulan. Dengan alasan, di tempat yang baru dia mendapat gaji yang lebih besar.  Gak ada yang salah sih, gue juga pasti akan melakukan hal yang sama. tapi, segitu buru – burunya?

Dan beberapa Teman – teman gue saat kuliah pun sama, mereka melakukan langkah yang radikal, banyak yang memutuskan resign untuk bekerja pada satu Rumah Sakit yang sedang melakukan perekrutan masal awal tahun ini. Alasan mereka simpel, rumah sakit itu dulu merupakan tempat kita semua kuliah—menjadikan RS tersebut bagai rumah kedua—, dan Rumah Sakit tersebut merupakan rumah sakit ternama di Indonesia. Kalau boleh disebut, Rumah Sakit tersebut adalah RSJPD Harapan Kita. Tapi ternyata, pilihan mereka berbuah konsekuensi lain, kabar terakhir dari teman gue yang kerja di Harkit, beberapa dari mereka ada yang mengeluh kecapekan dan kewalahan bekerja disana, karena frekuensi pasien disana tinggi. Ya, gak ada hal yang terus – terusan baik kan?

Jujur disaat – saat tertentu gue juga selalu memiliki keinginan untuk pindah ke tempat lain. Alasannya banyak, mulai dari gaji yang gue ‘rasa’ gak terlalu besar—padahal gaji gue udah terbilang besar untuk fresh graduate—. Sampai keinginan gue unutuk bekerja di tempat yang fokus pada keilmuan yang gue pelajari di bangku kuliah. Dan dari semua alasan, rasa ingin pindah akan lebih kuat ketika gue mendapatkan tugas yang sulit atau keluar dari job desc gue.’ Dan itulah manusia,  kalau mau dicari – cari pasti akan selalu ada alasan untuk resign, sekali lagi ‘kalau mau dicari – cari.’

Every time i got difficult task from my boss, honestly, it was painful. But, why not, it was my job anyway.

Gue sendiri sempat melamar di RSJPD Harkit saat bekerja di BNM, tapi kemudian gue mundur. Kenapa gue mundur? Simpel. Sekarang kalau cuma soal dapat sebuah pekerjaan, gue udah punya, yang gue belum punya mungkin  kehidupan. Kalau gue hanya pindah karena soal perkara angka atau nama institusi, kayaknya gak akan ada bedanya dengan sekarang. Because, get a better job not mean you get a life. Even worst, it’s can ruin your life.
Saat kita menjalani hidup dan pekerjaan sebatas untuk memenuhi tuntutan dan keinginan hidup, pasti akan sangat melelahkan.

Apa sih yang gue mau dari resign? Uang? Iya, semua orang butuh uang, kalau gue bilang uang gak penting, gue munafik. Tapi, ada yang lebih dari itu gak, selain uang? Mungkin, bahagia. Bahagia ketika kita enjoy apa yang kita kerjakan. Jadi, apakah hidup tentang bagaimana mendapatkan pengakuan? Mencapai puncak lebih cepat? Kayaknya enggak. Hidup mungkin adalah bagaimana kita bisa bahagia dan berkontribusi dalam melakukan pekerjaan. Love what you do. Do what you Love. Enjoy today, while preparing tomorrow.
 
Soal gaji, yakin deh kalau gaji akan mengikuti performance, bukan sebaliknya. Ketika kita bekerja semaksimal mungkin, dan bekerja lebih dari apa yang diharapkan perusahaan, maka atasan pasti akan mengapresiasi dan punya alasan untuk menaikan gaji kita. Sementara Ketika kita berpikir untuk bekerja seadanya atau malah bekerja malas – malasan karena gaji atau tunjangan kita kecil, justru kita akan tetap terjebak dalam zona dengan gaji kecil.
Di dunia ini gak ada orang dengan gaji besar tapi kerjaannya cuma ongkang - ongkang kaki, kecuali penjilat.

Tapi jika saat kita bekerja maksimal dan gak ada apresiasi dari perusahaan?
Ya kalau begitu, ada baiknya untuk mencari perusahaan yang akan mengapresiasi pekerjaan kita.

Karena memiliki keluarga bukan sebatas hanya memiliki hubungan darah.
Tempat kerja gue dalah tempat yang seru, hampir 8 jam sehari gue bertemu dan berinteraksi dengan rekan kerja gue—kecuali akhir pekan—. Ruangan kerja gue dan teman – teman yang lain hanya sebuah ruangan dengan rak yang menempel di dinding dan sebuah meja panjang tanpa sekat, di tempat kerja gue setiap staff (kecuali manajer) gak punya meja sendiri, semuanya harus berbagi, baik meja, komputer ataupun kursi. Itu dikarenakan kita semua adalah pekerja lapangan yang selalu berpergian, singkat kata, kerja kita diluar, kadang harus pergi ke tempat baru dan bertemu orang – orang baru (baca:customer baru). Ketika ada kesempatan berkumpul selalu aja ada cerita baru dari masing - masing orang, dan yang paling seru, cerita – cerita baru itu selalu ada setiap hari! Ya, setiap hari. Entah itu adalah cerita konyol yang mengundang gelak tawa, atau cerita aneh yang mengundang cemoohan. Setiap orang selalu punya pengalaman dan cerita untuk dibagikan. Kombinasi orang – orang yang unik dan tempat yang dibuat tanpa sekat membuat tempat gue selalu riuh, lebih mirip tempat nongkrong daripada tempat kerja. Bahkan, Mbak Dini—mantan rekan kerja yang udah resign dan sekarang kerja si tempat lain—saat berkesempatan chat di BBM pernah berujar kalau dia sangat merindukan suasana keriuhan diivisi kita. “Kangeeeeeen.” Ketiknya di BBM.

Mungkin, ini yang menguatkan gue untuk menjadikan mereka sebagai keluarga, keluarga yang gue pilih. Ya, ketika semua orang melihat rekan kerja hanya sebatas hubungan kerja, gue memilih untuk menjadikan hubungan ini lebih dari rekan kerja, sebuah hubungan keluarga. Kenapa harus menjadikan mereka keluarga? Seenggaknya gue akan punya alasan untuk lebih nyaman saat bekerja. Mana yang lebih nyaman, bekerja dengan keluarga atau dengan orang lain? Mana yang lebih cepat baikan saat berkelahi, dengan keluarga atau orang lain? Mana yang lebih enak kita repotin, keluarga atau orang lain? (untuk yang terakhir jangan diterapkan, haha)

Kita mungkin gak akan pernah sadar kalau ini yang unik dari kita sampai kita meninggalkan tempat ini, dan merasa kehilangan.

Kesimpulan: Resign? Pertimbangkan. Bekerja gak melulu soal uang, lagi pula uang juga gak menjamin kebahagiaan. Enjoy today while preparing tomorrow.





Sabtu, 08 Maret 2014

Pacaran Anti Mainstream: membunuh bersama pacar.



Mmh, terus terang dua hari ini gue terusik oleh sebuah berita yang cukup menghebohkan. Yaitu berita tentang ‘sepasang kekasih membunuh temannya sendiri—korbannya merupakan mantan dari si cowok—. Sebut saja mereka, Pembunuh. Ya, pembunuh, gue memilih untuk gak untuk menulis nama – nama pembunuh serta nama korban disini.

Heran ya, kenapa bisa sepasang kekasih yang sedang monyet - monyetan Cinta malah membunuh. Apakah keduanya sama – sama punya potensi seorang pembunuh dan ketika mereka dipertemukan jiwa pembunuh mereka serta merta keluar. Jadi ingat tagline Film Killers, ‘dalam diri kita, hidup pembunuh’ *muka kejam, Halah banyakan nonton. Atau, karena si Cowok berkeinginan untuk benar - benar move on, dibantu oleh sang cewek, keduanya berusaha ‘menghilangkan’ masa lalunya dari ingatan sang cowok. (juga dari dunia ini). Atau, mungkin keduanya baru nonton bareng Film Killers dan sangat menghayati film tersebut. Entahlah. Hanya tuhan yang tahu, sedangkan gue, cuma sok tahu.

Ok, lanjut. Ketika mendengar berita ini, gue gagal paham dengan bentuk cinta mereka. Merasa penasaran, gue mulai menelusuri keseluruhan berita tentang pembunuhan ini. Dan gue menemukan dua fakta yang cukup mencengangkan dalam dunia percintaan remaja modern saat ini.

Fakta pertama: Pembunuhan ini direncanakan.

Dari kutipan di kompas, pembunuhan ini ternyata direncanakan seminggu yang lalu sebelum kejadian. Ya, kedua pasangan ini sudah merencanakan pembunuhan ini. Gue penasaran, apa sih yang mereka bicarakan saat merencanakan pembunuhan ini? Mungkin mereka agak anti mainstream, merasa melihat pasangan lain udah terlalu mainstream karena kalau pacaran cuma jalan - jalan liburan atau nonton bioskop, pasangan ini malah merencanakan sebuah skenario pembunuhan.... benar - benar pacaran anti mainstream. Serta ekstrim.

Pasangan agak normal:
Cewek: Sayang, minggu besok kita jalan – jalan yuk.
Cowok: Kemana? Ngapain?
Cewek: mmmh, kamu maunya kemana? Terus ngapain?
Cowok: Gimana kalau ke bioskop. Jadi calo tiket.
Cewek: ..

Pasangan Killer:
Cewek: Sayang, minggu besok kita jalan – jalan yuk.
Cowok: Kemana? Ngapain?
Cewek: mmmh, kamu maunya kemana? Terus ngapain?
Cowok: mmmmmh, (mikir keras) gimana kalau kita ke stasiun, ngebunuh orang. (agak malu – malu).
Cewek: Oh, boleh sayang. Bunuh siapa?
Cowok: Mantan aku. Aku belum move on dari dia (Muka melas sambil manyun - manyun)
Cewek: Oh! Ayok!
Maka dibuatlah rencana pembunuhan yang kejam sekaligus mesra dan romantis. Maklum, ngebunuhnya sama pacar, pacar baru lagi.

Ya, kira – kira seperti itu.

Fakta kedua: Korban gak langsung dibunuh, tapi disetrum berkali – kali.

Dengan modus ketemuan di stasiun Gondangdia, kedua pelaku berpura – pura ingin mengantarkan korban ke Goethe Institute—tempat korban mengikuti kursus bahasa jerman—namun, bukannya bisa kursus bahasa Jerman dan pergi ke Jerman dan menikah dengan orang jerman, serta mendapatkan anak – anak blasteran Jerman yang lucu (halah), korban malah di setrum. Lebih tepatnya, di setrum berkali – kali.
Terus terang, otak gue bagian paling physco pun gue masih gagal mengerti bagaimana mereka bisa berpacaran sambil menyiksa orang. Apa yang membuat mereka begitu kejam dan romantis dalam waktu bersamaan. Apakah mereka ini telah teracuni sinetron – sinetron awal tahun 2010 an yang banyak berisi penyiksaan karena soal percintaan. Ya, bisa jadi mereka korban sinetron. Tapi apappun itu, yang jelas, pacaran seperti ini sungguh amoral. Banget.
Gue penasaran, bagaimana sih mereka berkomunikasi dalam menjalankan ‘operasi hilangkan mantan’ ini.

“Kamu aja yang bunuh duluan.” Kata sang cowok.
“Gak ah. Kamu aja.” Sambil malu – malu.
“Ih, kamu tuh ya, kan aku tadi udah nyetrum,” gerutu sang cowok dengan memanyunkan mulutnya serta menunduk sedikit manja. Ngambek deh.
“Oke deh, demi kamu, yang penting kamu bisa move on, apapun aku bantu.” Sambil ngelus pipi sang cowok, yang disambut senyuman sang cowok. (hoek)
Keduanya lalu makin mesra dan romantis, yang juga meningkatkan semangatnya dalam berpacaran (baca: membunuh).

Kesimpulan Kejadian: Keduanya anti mainsttream (baca: Phycho).
Sang Cowok ingin move on, tapi karena tidak mampu sepenuhnya move on, sang cowok akhirnya move on dengan cara yang ekstrim. Sang cewek, seperti kebanyak cewek yang menolak menerima pacarnya masih komunikasi sama mantan, membantu sang cowok. Sungguh tipkal cewek sekarang (yang cewek, ngaku gak?)

Rasulullah pernah bersabda: Cintailah sesuatu itu dengan biasa – biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatau yang kamu benci. Dan bencilah sesuatu yang tidak kamu ketahui dengan biasa – biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu cntai. (HR: bukhari, abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari abu hurairah)

Rasul telah menasihati kita agak rasa cinta dan kebencian jangan terlalu berlebihan, dalam kasus ini, keduanya mungkin terlibat cinta buta yang berlebihan, dan memendam kebencian yang 'memaksa' mereka bertindak irasional.

Bagaimana dengan loe semua, apakah berlebih – lebihan dalam mencintai dan berlebih – lebihan dalam membenci. Kalau iya, waspada karena dalam diri kita hidup seorang pembunuh (Apa sih?!). Maksud gue adalah, adakalanya kita jangan berlebihan dalam mencintai, karena apa yang kita cintai belum tentu baik buat kita. Contohnya ya, dua pasangan ini.

Cintai apapun sekedarnya saja. Juga membenci sekedarnya saja. tapi, bersyukur harus sebanyak – banyaknya.
-Prof. Dr. M. Quraish Shihab